
Hello! Im an artic!
“Mereka ini…” Ye Wushuang menatap semua itu dengan sedikit penasaran, tapi dirinya tidak dapat menemukan orang untuk ditanyai, jadi Ye Wushuang hanya bisa menatap ke arah She Jingtian untuk meminta bantuan.
She Jingtian sangat bersedia untuk menjelaskan semua itu pada Ye Wushuang, She Jingtian dengan pelan merentangkan tangannya rahmat dan berkata dengan sikap seorang pria: “Gedung pernikahan ini adalah tempat terbaik bagi para wanita muda untuk mencari suami yang diidamkan mereka, di sini kamu hanya perlu memegang bola merah pernikahan itu, ketika jam baik sudah tiba, maka bisa melemparkan bole itu ke tangan pria yang disukai, selama pria itu bersedia untuk menikah denganmu maka kalian dapat menikah dan menjadi pasangan suami istri tanpa perlu berada di bawah kendali seorang mak comblang, karena ini semua adalah kehendak Dewa Yuelao, tidak ada yang bisa menghentikannya. Banyak Tuan Putri dari keluarga berada dikarenakan jatuh cinta pada dengan cendekiawan miskin dan ditentang oleh orangtua mereka, jadi mereka memilih untuk membuat janji dengan pasangannya pada hari ini dan mencoba peruntungan mereka.”
Hello! Im an artic!
“Pantas saja ada begitu banyak keluarga berada yang datang kemari, ternyata seperti itu.” Meskipun cara ini terlihat agak konyol, tapi harus dikatakan bahwa hal ini banyak manfaatnya. Hal ini bisa memberi secercah harapan bagi para pemuda pemudi menyedihkan di jaman feodal yang harus menuruti apa yang diperintahkan oleh orangtua mereka, ini adalah satu-satunya harapan bagi mereka agar bisa memiliki kebebasan untuk jatuh cinta.
“Ya, betapa beruntungnya jika bisa hidup bersama dengan orang yang dicintai, tapi sayangnya di antara ribuan orang ini, apa bola itu benar-benar bisa jatuh ke tangan orang yang kamu inginkan? Hal itu juga membutuhkan keberuntungan dan juga kehendak Tuhan.” She Jingtian berkata dengan dingin, menatap tajam ke arah kejauhan, seolah sedang meratapi takdir yang tidak pasti dari para pemuda pemudi ini.
“Bagaimana jika bola itu tidak tepat sasaran?”
__ADS_1
“Itu hanya menunjukkan bahwa mereka tidak berjodoh, keduanya tidak akan pernah bisa menikah.”
Hello! Im an artic!
“Ternyata begitu…” Nada suara Ye Wushuang terdengar sedikit menyesal.
“Wushuang, apa kamu ingin naik ke atas Bangunan Pernikahan dan melempar bola milikmu?”
Ye Wushuang menunduk dan hanya tersenyum: “Tidak perlu.”
“Jodoh pernikahanku masih belum tiba.” Katanya Ye Wushuang dengan tenang.
Tapi tatapan She Jingtian malah membara: “Bagaimana bisa tahu jika tidak mencobanya?”
__ADS_1
“Sudahlah, jika waktunya sudah tiba, bahkan tanpa bimbingan dari bola itu, aku juga akan bisa bersamanya.”
“Kalau begitu, apa kamu sudah memiliki orang yang kamu sukai?”
She Jingtian menatapnya lekat, tatapan matanya dalam dan serius, sinar matahari menyinari wajahnya, sepasang mata jernih itu tampak meneteskan kelembutan yang terus menatapnya dari waktu ke waktu, membuat Ye Wushuang merasa terbakar karena ditatap seperti itu, Ye Wushuang memalingkan tatapan tanpa sadar dan berkata: “Menurutmu?”
She Jingtian mengerutkan keningnya, rautnya tampak sedikit kesulitan, ketika hendak berkata bahwa dirinya tidak bisa menebak, pada saat ini suara gong di bangunan itu terdengar, kemudian suara seorang pria berteriak dengan kencang: “Jam baik sudah tiba, Dewa Yuelao turun ke bumi untuk memberkati pernikahan.” Orang itu adalah ketua dari Kuil Yuelao, setiap tahunnya dia menyatukan ratusan pemuda dan pemudi di sini, semua orang sangat menghormatinya.
Begitu ucapannya baru saja terlontar, bola pernikahan berwarna merah di seluruh langit yang terlihat seperti bunga peony yang mekar dengan penuh langsung jatuh ke segala arah.
Sedangkan para pemuda yang telah lama menunggu juga langsung menyambut bola milik wanita yang disukai mereka, mereka terlihat berhati – hati, seakan takut akan melakukan kesalahan. Lagipula kesalahan ini adalah masalah seumur hidup, mereka harus menanggapinya lebih serius dibanding orang lain.
Ye Wushuang merasa dirinya hanya seorang penonton, tapi dirinya tidak menyangka bahwa pada saat ini ada puluhan bola pernikahan yang terarah padanya dan sudah akan mengenainya. Pandangannya dipenuhi dengan warna merah menyala, sudah seperti bintang yang turun dari langit, membuat orang lain tidak memiliki tempat untuk bisa menghindar.
__ADS_1
Ye Wushuang hanya seorang wanita, kenapa gadis-gadis itu malah melemparkan bola itu ke arahnya. Ketika Ye Wushuang merasa tertekan dan bingung, suara rendah yang lembut dan kuat tiba-tiba terdengar dari belakangnya: “Hati-hati!”