
Tepat di saat Qin Ruojiu merasa bingung untuk memilih antara dua pilihan itu, tiba-tiba Yan’er menerobos masuk dan berkata, “Nyonya, Pangeran Kesembilan datang untuk melihatmu!”
Meskipun anak ini tidak tahu jelas apa yang sebenarnya terjadi kemarin, tetapi kurang lebih dia pasti tahu masalah ini ada hubungannya dengan Pangeran Kesembilan. Karena kemarin Pangeran Kesembilan meninggalkan tempat ini dalam keadaan babak belur. Di dunia ini cuman ada satu orang yang berani menghajar Pangeran Kesembilan sampai babak belur dan orang itu adalah Kaisar.
Mendengar hal itu, Qin Ruojiu pun terdiam sebentar dan melihat ke arah Lu’er. Pada saat ini, Lu’er juga melihat ke arah Qin Ruojiu dan menganggukkan kepalanya ke arahnya. Tatapan matanya itu pun terlihat dipenuhi dengan pengharapan yang tiada tara.
Qin Ruojiu tahu apa maksud dari Lu’er. Dia pun menoleh ke arah lain dan terdiam lagi. Kemudian dia menoleh ke arah jauh dan berkata, “Suruh dia pergi!”
“Nyonya ….” Setelah mendengar jawaban Qin Ruojiu, Lu’er pun merasa kecewa dan langsung berteriak.
Pada saat itu, Yan’er pun terlihat sedikit gugup dan berkata, “Nyonya, Pangeran Kesembilan sudah bilang, jika anda tidak membiarkannya masuk, dia akan terus menunggu di depan pintu sampai anda membiarkannya masuk.”
__ADS_1
“….”
Qin Ruojiu pun tercengang setelah mendengar jawaban itu. Tatapan matanya dipenuhi dengan perasaan rumit dan gelisah. Dia adalah orang yang sangat gigih. Sekali dia bilang dia tidak mau pergi, dia pasti tidak akan mengubah keputusannya itu dengan mudah. Apakah pria ini tidak tahu kalau perbuatannya saat ini sedang membahayakan dirinya sendiri? Dia bener-bener tidak pantas untuk mencintai wanita seperti dirinya.
Melihat Qin Ruojiu yang terlihat gelisah, Lu’er pun langsung mengeluarkan tangannya dan memegang pundak Qin Ruojiu lalu menasehatinya dengan lembut, “Nyonya, biarkan Pangeran Kesembilan masuk. Memangnya Nyonya mau membiarkan Kaisar melihat dia menunggu di depan Istana Fengyi seperti ini?”
Setelah mendengar apa yang dikatakan Lu’er, Qin Ruojiu pun mengerutkan alisnya dan melihat ke arah Lu’er sebentar lalu berkata, “Biarkan dia masuk!”
Setelah Lu’er keluar beberapa saat, Kang Yin pun memasuki kamarnya.
Dia mengenakan pakaian berwarna putih di sekujur tubuhnya. Lengannya diperban dengan kain kasa putih dan dia berjalan dengan sedikit gugup dan penuh rasa cemas. Ketika melihat Qin Ruojiu yang sedang berbaring di atas kasur, dia pun langsung bergegas berjalan ke samping kasurnya dan berlutut di sana. Dia melihat Qin Ruojiu dengan merasa bersalah dan bertanya, “Ruojiu, kamu tidak apa-apa kan?”
__ADS_1
Qin Ruojiu pun mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Kang Yin yang tampak sedih itu. Di bagian ujung bibirnya masih ada bekas luka memar. Ketika melihat semua itu, Qin Ruojiu pun merasa sedih. Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia tidak tahu harus mengatakan apa. Lalu dia menatap ke dalam mata Kang Yin yang terasa dingin dan hampa itu dan berkata, “Aku tidak apa-apa, kamu kenapa nggak pakai obat?”
Sambil berbicara, Qin Ruojiu pun memegang luka memar yang ada di wajah Kang Yin dengan lembut. Alis Kang Yin pun berkerut seolah dia sedang menahan rasa sakit itu. Kemudian, Kang Yin menggenggam tangannya dan berkata, “Aku ini pria, luka sedikit tidak apa-apa. Kamu yang nggak boleh terluka. Luka kamu sudah baikan belum?”
Qin Ruojiu pun sedikit terkejut dengan sikap Kang Yin yang begitu perhatian dengannya. Dia berusaha untuk menarik tangannya kembali lalu berkata sambil tersenyum, “Aku sudah pakai obat, aku nggak apa-apa. Lagian lukanya juga tidak dalam!”
Tentu saja Kang Yin jelas sadar kalau Qin Ruojiu sedikit menolaknya, lalu dia pun berkata, “Baguslah, asal kamu nggak apa-apa aku sudah lega.”
Melihat tatapan mata Kang Yin yang begitu khawatir padanya dan meskipun hanya beberapa kata yang dia ucapkan, tetapi kepedulian dan ketakutan yang ada di dalam dirinya itu membuat Qin Ruojiu merasa semakin sedih dan terpukul. Pria ini selalu begitu peduli dengannya, dia sampai mengorbankan dirinya untuk menjaganya. Betapa bagusnya kalau pria ini adalah pria yang ditentukan Tuhan untuk menjadi suaminya. Kalau saja pria yang pertama dipilihnya itu adalah dia, maka sekarang hidupnya sekarang pasti akan dipenuhi dengan kebahagiaan.
Tetapi sayangnya, kadang kala ada hal yang tidak bisa kita tentukan begitu saja.
__ADS_1