
“Tentu saja bukan karena hal itu, belakangan ini wajah Ratu memerah karena kulitnya alergi. Sekarang wajahnya tidak bisa diperlihatkan. Pertama karena saya takut hal itu akan membuat semua orang yang ada di sini terkejut dan kedua karena saya takut merendahkan pangeran, maka dari itu Ratu memakai cadar hitam untuk menutupi wajahnya!”
Kata-kata Kaisar Zhaolie yang lantang itu membuat semua orang yang hadir di sana merasa bingung dan tidak berani mengeluarkan suara. Nada suaranya tidak terdengar marah atau mengancam, tetapi malah terdengar dipenuhi dengan rasa peduli. Hal itu membuat semua orang yang ada di sana terkejut. Bahkan Pangeran negara tetangga yang diagungkan itu juga tercengang sampai tidak bisa berkata apa-apa. Akhirnya dia hanya bisa diam-diam menelan ludah dan berkata dengan sedikit canggung, “Kelihatannya, Kaisar sangat peduli dengan Ratu. Ratu adalah seorang wanita yang sangat sempurna di muka bumi ini. Melihat kalian berdua yang bisa begitu akrab dan harmonis di kerajaan benar-benar bisa membuat semua orang yang melihatnya merasa iri!”
Kaisar Zhaolie menggunakan satu tangannya untuk memegang gelas arak dan satu tangannya lagi untuk mengucap bibirnya dan berkata, “Pujian yang terlalu tinggi. Kita adalah pasangan suami istri, sudah seharusnya kita akrab, harmonis, saling bergandengan dan hidup bersama untuk selamanya.”
Ketika mendengar kata saling bergandengan dan hidup bersama untuk selamanya, hati Qin Ruojiu terasa sakit. Di dalam benaknya mulai bermunculan adegan Kaisar Zhaolie yang kejam dan brutal. Hatinya terasa perih. Qin Ruojiu tidak berani mengangkat kepalanya dan berusaha untuk tidak bertatapan dengannya. Hidup bersama untuk selamanya apa bisa semudah itu?
Semua wanita yang ada di muka bumi ini pasti akan merasa senang dan bahagia ketika mendengar Kaisar Zhaolie mengucapkan kata-kata seperti itu. Tetapi, hati Qin Ruojiu malah terasa perih seperti tersayat pisau ketika mendengar kata-kata itu. Qin Ruojiu memejamkan matanya dengan perlahan dan berusaha untuk menahan semua tatapan mata penuh dengan rasa iri, cemburu dan dengki yang diarahkan padanya.
__ADS_1
Tubuhnya terus gemetaran sampai dia tidak mampu mengendalikannya. Qin Ruojiu terus menggelengkan kepalanya dengan keras dengan harapan bisa melupakan apa yang barusan dikatakan pria itu. Kata-kata itu seperti sebuah hantaman keras di dalam hatinya.
Pada saat itu, Pangeran Funing tersenyum licik sambil menaikkan matanya dan menunjukkan ekspresi tidak percaya. Dia melihat ke arah Qin Ruojiu lalu berkata, “Benarkah? Kelihatannya setelah Kaisar menemukan orang baru, Kaisar langsung melupakan orang lama. Kasihan sekali adik saya masih terus memikirkan Kaisar. Aku beneran nggak nyangka setelah mendapatkan ratu yang lebih cantik, Kaisar langsung mengesampingkan adikku yang cantik itu. Kalau saja sampai adik saya tahu, saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya.”
Dan tepat pada saat itu juga, wajah Kaisar Zhaolie yang tadinya masih terlihat bahagia dan berseri-seri itu langsung berubah masam dalam seketika.
Wajahnya yang tampan dan tegas itu langsung mengerut. Kata-kata Pangeran itu bagaikan air bah yang langsung disiram ke wajahnya. Hatinya terasa sesak sampai dia tidak bisa bernafas, dia merasa dirinya ibarat sudah hancur berkeping-keping dan arwahnya terbang keluar dari tubuhnya.
Melihat ekspresinya yang begitu menyedihkan, Qin Ruojiu sepertinya berhasil menebak akan sesuatu, tetapi dia tetap tidak mau memecahkan suasana yang dingin dan mencekam itu. Kata-kata Pangeran Funing bukan hanya menyakiti perasaan Kaisar, tetapi dalam waktu yang bersamaan, kata-kata itu juga seperti sebuah pedang yang langsung menusuk ke dalam hati Qin Ruojiu. Dia menghela nafas, sudahlah, Qin Ruojiu tidak boleh tidak melepaskannya, hatinya tidak boleh tergerak karena pria itu, di dalam hati Kaisar masih ada wanita lain, dia harus melupakan semua penderitaan yang dia alami di sini.
__ADS_1
Dan semua kenangan yang indah dan manis itu hanya bisa dianggap sebagai sebuah mimpi indah.
Setelah terbangun dari mimpi, semua orang tersebut akan menghilang dan pergi meninggalkannya.
Tatapan mata Kang Yin terlihat sedih, dia merasa sedikit khawatir dan melihat ke arah Qin Ruojiu. Dari dalam tatapan matanya yang sedih dan kesepian itu, Kang Yin sadar ternyata perempuan ini masih peduli dengan abangnya.
Kalau tidak, dia tidak mungkin melihat ekspresi Ratu yang terkejut dan tercengang dalam seketika. Dari dalam tatapan matanya yang jernih itu terlihat jelas rasa kecewa dan sedih.
Tatapan mata ini menunjukkan seolah dia masih khawatir dan peduli dengan Kaisar. Selain dia, dari semua orang yang ada di sana, tidak akan ada satupun yang bisa melihat dan merasakan semua itu.
__ADS_1
“Kasiar, kalau anda tidak suka mendengar saya membahas tentang adikku, saya tidak akan banyak bicara lagi. Tetapi, kali ini saya sangat puas dengan persiapan dan rasa hormat yang Kaisar berikan padaku. Untuk mengungkapkan rasa terima kasih kamu, saya sengaja menyiapkan sebuah hadiah yang sangat berharga untuk anda!”