
Qin Ruojiu terbangun karena suara seruling.
Di dalam mimpinya, suara seruling itu terdengar begitu lembut dan ringan. Suara itu seolah dapat membangkitkan rasa sedih yang terpendam di dalam hati seseorang dan membuat orang yang mendengar itu menjadi sedih dan kesepian.
Suara ini terdengar sangat familiar dengannya, suara ini juga membuat dia merasa sedih. Dengan perlahan pupil matanya itu bergerak dan melirik ke arah sekelilingnya. Dia melihat Yan’er yang sedang tidur di samping kasurnya.
Dia tidak memanggilnya bangun tetapi Yan’er terbangun sendiri.
Karena Qin Ruojiu ingin bangun dari tempat tidurnya lalu menarik selimutnya dan menutupi bagian dadanya untuk duduk bersandar di kasur. Tentu saja gerakan Qin Ruojiu itu membuat suara dan membangunkan Yan’er. Setelah terbangun Yan’er pun langsung membesarkan matanya dan bertanya, “Nyonya, anda sudah bangun?”
Qin Ruojiu tidak menjawabnya dan hanya menganggukkan kepalanya dengan lembut.
Ketika melihat Qin Ruojiu terbangun, Yan’er pun tampak begitu bahagia dan berkata, “Nyonya, akhirnya anda sudah bangun! Bagus-bagus, biar pelayan pergi memberi laporan dulu.” Karena Kaisar memerintahkan mereka, kalau Nyonya sudah bangun mereka harus langsung melaporkannya padanya. Maka dari itu Yan’er tidak berani tidak menjalankan perintah Kaisar.
__ADS_1
Ketika Qin Ruojiu melihat itu, dia langsung menghalanginya, “Yan’er, jangan ….”
Yan’er pun menoleh melihat ke arah Qin Ruojiu dengan tatapan bingung, “Nyonya ….”
Qin Ruojiu pun menjawab dengan wajahnya yang sedih, “Aku tidak ingin melihatnya. Kalaupun kamu harus melaporkannya, nanti baru laporkan saja gimana?” Setiap kali dia terbangun dan mengingat dirinya masih berada di dalam istana dan hendak menerima siksaan dari iblis itu, dia merasa dirinya seolah sedang berada di dalam neraka.
Pikiran itu membuat dia merasa takut dan khawatir.
Yan’er sepertinya mengerti dengan perasaan yang sedang dirasakan Qin Ruojiu. Lalu dia pun menganggukkan kepalanya lalu berdiri di samping.
“Yan’er, kamu mendengar suara orang yang memainkan seruling di luar tidak?” Qin Ruojiu yang mendengar suara seruling itu pun tersenyum lembut, tetapi karena dia mengenakan cadar hitam itu jadi Yan’er tidak bisa melihatnya.
Yan’er lalu berjalan ke arah jendela lalu melihat ke luar dan menjawab, “Dengar, dia sudah memainkannya 2 jam lebih. Aku juga tidak tahu siapa yang begitu santai dan terus-terusan bermain seruling di depan Istana Fengyi.”
__ADS_1
“Benarkah? Kamu boleh bantu aku pergi menundangnya tidak?” Qin Ruojiu pun mengalihkan pandangannya ke arah Yan’er dan bertanya padanya.
Yan’er yang mendengar itu pun tercengan sebentar, lalu dia lanjut menjawab, “Nyonya, kalau Kaisar datang, nanti ….”
“Tidak apa-apa, ada aku di sini!”
“Baiklah!” Melihat Qin Ruojiu yang bersikeras, Yan’Er juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Kemudian dia pun menganggukkan kepalanya lalu keluar mengundang orang itu.
Apakah dia? Qin Ruojiu berusaha untuk mengingat apakah orang yang menolongnya di kolam lotus waktu itu adalah dia, kenapa dia bisa tahu kalau dia mau bunuh diri? Kenapa dia mau menolongnya? Dan, ketika dia berdiri di atas jembatan itu dia sudah melepaskan cadar hitamnya, tetapi kenapa waktu dia siuman, cadar hitamnya itu masih ada?
Semua ini sangat membingungkan dan tidak bisa dia mengerti.
Ketika Yan’er membawa Kang Yin yang mengenakan pakaian putih itu masuk ke dalam kamarnya, Qin Ruojiu terkejut dan sekujur tubuhnya terasa membeku. Lalu dia melihat ke arah dua buah mata yang indah dan jernih itu lalu tersenyum lembut.
__ADS_1
Yan’er terlihat ketakutan, lalu dia keluar dari kamar itu tidak berani mengatakan apa-apa.