Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 302 Mengapa Harus Menderita Seperti Ini


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ya, Lu’er tahu bahwa Permaisuri telah bersedih sepanjang hari dikarenakan hal ini. Tapi Lu’er tidak menyangka Permaisuri akan langsung menanyakan pertanyaan ini pada dirinya.


Setelah menerima informasi dari Selir Mulia, sang Permaisuri terus menerus berada dalam kondisi depresi. Tadi sang Permaisuri juga pergi ke Gedung Liqing, bisa dilihat bahwa semua yang dikatakan Selir Mulia itu benar.


Hello! Im an artic!


Jadi jika Lu’er memberitahu Qin Ruojiu sekarang bahwa Kaisar memang menyukai sang Permaisuri, maka Permaisuri pasti akan merasa bahwa ucapan itu hanyalah kebohongan belaka, itu hanyalah perkataan yang diucapkan Lu’er untuk menyenangkan dan menghiburnya, atau bahkan itu hanyalan ucapan untuk membohonginya saja.


Tapi jika Lu’er secara langsung menyatakan bahwa Kaisar tidak menyukai sang Permaisuri, maka akan seberapa sakit dan sedihnya Permaisuri dikarenakan hal ini?


Dengan kepintaran dan kebijakan sang Permaisuri, bagaimana mungkin Permaisuri tidak tahu bagaimana hati Kaisar? Pada saat ini Permaisuri menanyakan pertanyaan seperti ini padanya, maka itu artinya sang Permaisuri sudah memikirkan dua jawaban di atas sedari awal, hanya saja bahkan Permaisuri sendiri tidak memahaminya, jadi Permaisuri ingin mencari sebuah jawaban yang dapat menghiburnya dari orang lain saja.


Lu’er tidak bisa memberikan jawaban yang paling jujur, dia juga tidak bisa menyebutkan apa pun mengenai masalah ini, jadi Lu’er hanya tahu bahwa Permaisuri sekarang sangat rapuh.

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Saat ini, Lu’er berjalan ke arah Permaisuri dengan perlahan, memapahnya bangun kemudian berkata membujuk pelan di samping telinganya: “Permaisuri, Lu’er tahu Permaisuri sangat sedih. Jika Permaisuri tidak bahagia maka Permaisuri bisa menangis. Setelah menangis, maukah Permaisuri makan? Sejak kembali dari sana, Permaisuri tidak memakan apa pun sama sekali, mengapa membuat dirimu menderita seperti ini?”


Ucapan Lu’er tidak diragukan merupakan pemicu air mata Qin Ruojiu. Di sepanjang jalan, Qin Ruojiu yang telah menahan dirinya sampai saat ini, seketika dirinya bagai runtuh, tidak bisa lagi menahan air matanya yang sudah mengalir deras layaknya mutiara. Air mata itu membanjiri wajahnya yang cantik, itu sudah seperti pemandangan yang amat sangat menyedihkan.


Lu’er sangat terkejut, bergegas memeluk Qin Ruojiu dan mengeluarkan saputangan untuk menyeka air matanya.


Pada saat ini, Lu’er baru tahu betapa menderita dan sedihnya Permaisuri. Perasaan depresi yang terus menerus ditekan oleh sang Permaisuri sebelumnya, betapa tidak nyamannya sang Permaisuri?


Dirinya tidak mengerti, Permaisuri adalah wanita yang sangat cantik, hatinya juga sangat murni dan juga selalu memikirkan orang lain. Di Istana, ada berapa banyak wanita yang bisa memiliki kebaikan dan kelembutan seperti Permaisuri? Sayangnya, Kaisar …


Yang paling membuat Lu’er kesal adalah mereka sudah melalui begitu banyak hal, Kaisar bahkan merebut kembali sang Permaisuri dari Raja Kang, Kaisar seharusnya tahu kebaikan Permaisuri, Kaisar seharusnya menghargai Permaisuri karena Permaisuri sudah menghadang serangan pedang demi Kaisar. Tapi sekarang, Lu’er akhirnya mengerti apa yang disebut dengan hati Kaisar merupakan yang paling kejam.


Di sore hari, ketika matahari terbenam.

__ADS_1


Di luar jendela, angin bertiup sepoi-sepoi, sesekali daun-daun terdengar bergemerisik karena tertiup angin, samar-samar terlihat agak suram.


Ketika Kaisar Zhaolie masuk, Qin Ruojiu sudah tertidur dengan damai di ranjangnya. Di dalam, hanya ada Lu’er yang sedang membersihkan makanan di atas meja.


Ketika melihat Kaisar datang, Lu’er bergegas meletakkan pekerjaan di tangannya, berniat untuk memberi hormat, tapi malah dihentikan oleh gerakan dingin milik Kaisar Zhaolie.


Lu’er terpaku diam di sana, menatap wajah Kaisar Zhaolie yang tidak memiliki ekspresi sedikit pun, Lu’er melamun di tempat. Teringat penderitaan Permaisuri hari ini, tanpa sadar samar-samar terdapat sedikit raut kebencian di wajahnya.


“Bagaimana keadaannya?” Nada bicara Kaisar Zhaolie sedikit dingin, tapi pada saat tatapan matanya beralih ke arah Qin Ruojiu, malah terdapat sedikiy sentuhan kelembutan di sana.


Lu’er terdiam beberapa saat kemudian menjawab dengan nada agak enggan: “Sudah tertidur.”


“Apa sudah makan?” Kaisar Zhaolie mengabaikan kemarahan Lu’er dan bertanya dengan acuh. Melipat kedua tangannya di belakangnya dan terlihat lelah.


Lu’er menggelengkan kepalanya, ekspresinya berubah menjadi sedih: “Permaisuri sangat sedih ketika kembali, Permaisuri baru tertidur setelah menangis sekian lama.”

__ADS_1


__ADS_2