Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 7 Perasaan Hati Yang Dingin


__ADS_3

Kain putih yang menutupi tubuhnya bagaikan lampu di kegelapan ini. Angin bertiup, kain putih yang melingkari ditubuhnya pun melayang, seperti di alam mimpi. Wajahnya ditutupi cadar hitam, perjalanan keluar dari istana ini seakan menguras semua tenaganya.


Pandangannya gelap gulita, seperti suasana hatinya yang tidak menemukan jalan keluar.


Jika ini yang dinamakan permaisuri, ibu negara, dia lebih memilih untuk menjadi gadis biasa yang hidup sederhana dengan orang yang ia cintai, menemani suami, mendidik anak seumur hidup.


Dia harus kemana sekarang?


Tidak ada siapapun disana, kondisi sang permaisuri saat ini sangat memprihatikankan, pakaian compang-camping, rambut yang berantakan, tidak berbeda dengan wanita gelandangan di jalan.


Dengan tertawa pahit, kaki yang menginjak anak tangga emas ini bagaikan menginjak di es yang sudah membeku ribuan tahun, perasaan hati yang dingin membuatnya melupakan rasa yang hangat dan bahagia.


Setelah berjalan selangkah lagi, dia pun tergeletak, rambutnya berserakan, tubuhnya menggelinding seperti roda.

__ADS_1


Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, siapa yang bisa datang menolongnya? Setelah pergi dari sisi Ayahnya, siapa yang bisa datang menolong dia di istana yang dingin dan mengerikan ini?


Air matanya berlinang membasahi cadar hitam dan masuk ke dalam mulut, rasa yang asin ini, membuat hatinya semakin sakit.


Saat ini, hati Qin Ruojiu sangat kecewa, semua keindahan mimpinya hancur dalam seketika.


Sebelumnya, begitu banyak orang yang iri pada dirinya yang akan menjadi permaisuri, dna mencapai cita-cita semua wanita di dunia ini. Kaisar Zhaolie yang tampan, lincah dalam bela diri, walaupun masih muda, tetapi sudah bisa menjalankan pemerintahan dengan baik. Kekuasaan berada di dalam tangannya. Walaupun kadang dia bersikap sewenang-wenang, tetapi masih termasuk bijaksana dan adil. Banyak pejabat tinggi yang berjasa ataupun berwibawa pun tidak bisa licik di hadapannya.


“Permaisuri… kenapa kamu bisa di sini?”


Saat air mata berlinang dan hati sedang sakit, tiba-tiba terdengar suara yang stabil dan gigih datang dari belakangnya.


Kemudian ada rasa hangat yang datang dari kedua pundaknya. Qin Ruojiu membalikkan badan, terlihat seorang pria yang berpakaian lapis baja dan membawa pedang berwarna ungu kehitam-hitaman sedang jongkok di sampingnya. Saat ini, pria itu memakaikan mantel tanpa lengan kepadanya.

__ADS_1


Kedua matanya bagaikan bintang, ketampanan dari wajahnya tidak menyimpan maksud jahat, dengan pandangan yang penuh perhatian, dia menatapnya. Sifat kejantanan dan tubuh yang tinggi besar membuat Qin Roujiu merasa seperti menemukan sandaran.


“Permaisuri, kamu…”


“Kamu siapa?” Qin Ruojiu menarik mantel sambil menatap pria itu.


Tangan orang itu bersila dengan hormat, “Aku adalah komandan pasukan pengaman istana, Zhuo Ying. Hari ini adalah hari Yang Mulia meminang permaisuri, sehingga semua pengawal istana dipindahkan. aku datang ke sini karena merasa tidak tenang!”


Di malam yang gelap, terdengar suara serangga yang tidak berhenti.


Angin bertiup, rambutnya beterbangan di kedua pipinya, cadar di wajahnya pun sedikit melambai.


Zhuo Ying sampai terlengah, apakah ini penyihir wanita yang sering diceritakan orang lain, permaisuri Negeri Kangqing? Apakah dia sejelek yang diceritakan? Tetapi gerak-geriknya sekarang ini malah terlihat seperti wanita yang sangat cantik, yang bisa membuat orang merasa sayang padanya.

__ADS_1


__ADS_2