Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 362 Aku Hanya Bahagia


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Mereka bertiga sudah bersiap-siap untuk pergi, tapi pada saat ini seorang Kasim berusia 15-16 tahun malah bergegas masuk ke dalam.


Tidak melakukan pemberitahuan dan langsung mencari Qin Ruojiu, dia berkata dengan ekspresi cemas: “Aku, Xiaoanzi, memberi hormat pada Permaisuri Ratu!”


Hello! Im an artic!


Qin Ruojiu, Lu’er dan yang lainnya terkejut untuk sesaat, mereka mengambil langkah ke depan, menilai dengan teliti Kasim kecil itu sekilas sebelum akhirnya Qin Ruojiu berkata perlahan: “Bangunlah!”


“Terima kasih, Ratu!”


“Xiaoanzi? Kamu siapa? Kenapa aku belum pernah melihatmu?”


Qin Ruojiu tidak tahu asal muasal orang ini, jadi dia bertanya dengan nada sedikit terkejut.


Hello! Im an artic!


Pihak lain bergegas mengeluarkan sepucuk surat dari balik lengan pakaiannya dan berkata dengan suara hormat: “Menjawab Ratu, aku adalah orang Pangeran ke-9, datang kemari hari ini karena ingin membawakan sebuah kabar untuk Permaisuri Ratu, Pangeran ke-9 akan pergi dari Istana besok, jadi di kemudian hari mohon Permaisuri Ratu untuk menjaga diri dengan baik!”


Mendengar kata pergi dari Istana, wajah menawan yang awalnya penuh keraguan itu seketika seolah-olah tertutup es.


Dia sudah akan pergi, hati Qin Ruojiu seolah-olah seperti kehilangan sesuatu dalam sekejap, semacam sesak di dalam dadanya yang sulit untuk dilepaskan.

__ADS_1


“Permaisuri… Permaisuri…” Melihat raut wajah Qin Ruojiu yang kusam dan tatapan matanya yang tidak bersemangat, Kasim kecil yang berasa di samping itu terkejut ketakutan.


Setelah beberapa saat, Qin Ruojiu akhirnya pulih dari lamunannya, melihat surat yang diserahkan oleh Xiaoanzi, Qin Ruojiu perlahan mengulurkan tangan untuk mengambilnya lalu bertanya dengan datar: “Mengapa dia tidak datang sendiri?”


Wajah Xiaoanzi sedikit kaku ketika ditanya, pada akhirnya dia tidak berkata apa-apa, hanya menatap pesan di tangan Qin Ruojiu dan berkata: “Permaisuri, lebih baik Permaisuri membaca surat itu, Pangeran seharusnya menjelaskannya!”


Qin Ruojiu mengangguk dan berkata: “Baik, aku mengerti!”


“Kalau begitu aku undur diri dulu!”


“Tunggu!”


“Permaisuri?”


“Aku pasti akan menyampaikan perkataan Permaisuri Ratu pada Pangeran!”


“Baik!”


Qin Ruojiu melihat sosok Xiaoanzi yang perlahan pergi, batu besar di dalam hatinya menekan semakin dalam.


Melihat tatapan mata Permaisuri yang penuh kesedihan dan menatap lekat ke kejauhan, ekspresi Yan’er dan Lu’er penuh dengan kekhawatiran, mereka kemudian memanggil: “Permaisuri…” Sekarang bahkan Pangeran juga telah meninggalkan Istana yang dingin ini, bagaimana Permaisuri bisa bertaham seorang diri di kemudian hari?


“Aku baik-baik saja, aku hanya merasa Pangeran ke-9 pergi seperti ini, benar-benar membuat orang lain merasa tidak rela!” Suara rendah dan sedikit sedih milik Qin Ruojiu terdengar, ada ******* samar dan juga kekecewaan dalam nada bicaranya.

__ADS_1


Kedua gadis itu menatap lekat pada Qin Ruojiu, tatapan mata mereka penuh dengan kesedihan, mereka kemudian berkata dengan getir: “Permaisuri, berpikiranlah sedikit terbuka!”


Qin Ruojiu mengangguk lalu membuka surat di tangannya.


Guratan tulisan yang kuat dan kaku dalam surat itu langsung menarik perhatiannya.


Jiu’er…


Dalam hatiku, aku selalu ingin memanggilmu dengan sebutan Jiu’er… tapi apa daya…


Sedikit perubahan nada dalam surat itu sangat mencerminkan ketidakberdayaan dari Pangeran ke-9.


Entah kenapa, ketika Qin Ruojiu membaca kata-kata ini, matanya terasa sangat sakit dan lelah.


Air mata yang sudah mengalir hingga habis akhirnya kembali mengalir dan menetes di atas kertas surat itu.


Qin Ruojiu membaca surat itu secepat mungkin, jantungnya terasa sedikit sakit, bahkan kertas surat di tangannya itu digenggamnya dengan begitu erat hingga kusut.


Lu’er yang berada di sebelah Qin Ruojiu melihat hal itu, dia kemudian dengan cemas menariknya dan berkata: “Permaisuri, kenapa?”


Qin Ruojiu menggelengkan kepalanya dengan lemah dan berkata: “Tidak apa-apa, tidak apa-apa …”


Yan’er terkejut ketakutan, bergegas memeluk Qin Ruojiu dengan air mata berlinang: “Permaisuri, kamu jangan menangis, jangan sedih, bahkan jika Pangeran ke-9 tidak ada, tapi masih ada kami, masih ada aku dan Kak Lu’er!”

__ADS_1


Setelah Qin Ruojiu mendengarkan ucapan itu, dirinya segera menghentikan air matanya dan tertawa getir sambil berkata: “Aku bukannya sedih, aku hanya senang, aku bahagia.”


__ADS_2