
Hello! Im an artic!
Saat berbicara, tiba-tiba terdengar suara ketukan Yan’er dari luar pintu.
“Permaisuri, Permaisur… Tuan Besar datang.”
Hello! Im an artic!
Mendengar panggilan Yan’er, Qin Ruojiu sedikit terkejut, ada raut terkejut yang terlintas di pupil matanya yang berkaca.
“Ayah datang?” Ada sentuhan kegembiraan dalam ucapannya, Qin Ruojin bergegas bangkit lalu berjalan keluar pintu. Ayah sudah lama tidak mengunjunginya, Qin Ruojin merindukannya.
Lu’er melihat situasi dan segera undur diri ke samping.
Membuka pintu, Yan’er sedang berjaga di depan pintu, ketika melihat Qin Ruojiu, dia tersenyum ringan dan berkata: “Permaisuri, Tuan Besar sedang menunggumu di aula depan, cepatlah pergi ke sana!”
Hello! Im an artic!
Qin Ruojiu menjawab sekilas kemudian berjalan menuju aula depan.
Melewati aula, lapisan tirai bercorak phoenix itu seolah membuat sosok menjulang itu terkadang terlihat dan terkadang tersembunyi.
Qin Ruojiu berjalan menghampiri dengan sedikit bersemangat, kemudian memanggil dengan suara lembut: “Ayah …”
Setelah Ji Mie mendengarnya, dia menyibakkan jubah hitamnya dan segera berbalik, jenggot di wajahnya itu terlihat jelas, tapi tetap tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang heroik.
__ADS_1
Melihat Qin Ruojiu, sentuhan kelembutan dan cinta terlintas di wajah Ji Mie. Dia langsung memeluk Putrinya pada saat itu.
Setelah beberapa saat ketika suasana sudah lebih tenang, Ji Mie baru melepaskan Qin Ruojiu.
Kemudian Qin Ruojiu berdiri tegak dan mendongak dengan hati-hati.
Tatapan mata hitam berlama-lama di wajah indah itu, itu adalah paras yang tak tertandingi di dunia, merupakan sebuah paras yang benar-benar sangat cantik.
Bahkan meski telah melihatnya lebih dari sekali, Ji Mie masih tidak dapat menahan rasa kagum di dalam hatinya setiap kali dia melihat wajah asli Putrinya.
“Ayah … Ayah …” Qin Ruojiu memanggil Ayahnya kemudian menangis.
Setelah sekian lama, Qin Ruojiu mengira Ayahnya telah melupakannya. Waktu itu Qin Ruojiu memilih untuk pergi dikarenakan ketidakpedulian Ayahnya.
Qin Ruojiu tercekat sambil menggelengkan kepalanya, air matanya mengalir.
“Lalu kenapa?”
“Tidak apa-apa, aku hanya merindukan Ayah!”
“Hei…” Mendengar ucapan itu, Ji Mie menghela nafas panjang: “Semuanya salah Ayah karena sudah lama tidak datang untuk mengunjungimu!”
“Ayah……”
“Ajiu, kali ini Ayah datang kemari karena mendengar kamu sudah membuka cadar hitammu, beritahu Ayah, apa Kaisar benar-benar mencintaimu?”
__ADS_1
Qin Ruojiu terkejut, air mata membeku di matanya, wajahnya tersipu dan tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.
“Katakan pada Ayah, apa dia benar-benar mencintaimu?”
“Aku……”
“Kenapa?” Ji Mie memegangi wajah Qin Ruojiu dengan gugup, lalu teringat akan ramalan mengerikan itu. Jika Qin Ruojiu melepas cadarnya demi pria yang tidak benar-benar mencintainya, maka Qin Ruojiu tidak akan pernah bisa melarikan diri dari takdir buruknya.
Melihat kegugupan dan kekhawatiran Ayahnya, Qin Ruojiu berkata dengan ragu: “Aku juga tidak yakin!”
“Bagaimana bisa seperti itu?”
Melihat jejak pertanyaan yang terlintas di mata Ji Mie, Qin Ruojiu langsung berkata menjelaskan: “Ayah, meskipun Kaisar tidak mengatakan apa-apa, tapi ketika aku terluka, Kaisar yang menemaniku selama 3 hari, dan lagi dia memperlakukanku dengan sangat baik sekarang, sangat sayang padaku, sama seperti Ayah memperlakukanku dulu!”
Mendengar ucapan ini, raut wajah Ji Mie yang tadinya tegang akhirnya leha, Ji Mie menghela nafas pelan dan berkata: “Baguslah, baguslah!”
“Ayah, apa parasku ini begitu penting?” Ini adalah pertanyaan yang membuat Qin Ruojiu bingung.
Ji Mie mengelus kepala Qin Ruojiu dan berkata: “Anakku, kau tidak paham, kecantikanmu itu bisa membuat terlalu banyak orang iri, mereka hanya akan membuat luka parah padamu. Jadi Ayah memintamu menutupimu dengan cadar hitam karena ingin melindungimu. Sampai suatu hari nanti muncul seseorang yang benar-benar mencintaimu dan bisa melindungimu, kamu baru boleh melepaskan cadar hitam itu untuknya.”
“Ayah, Kaisar bisa melindungiku, dia adalah seorang Raja, dia begitu mulia dan tidak akan ada orang yang bisa menyakitiku!”
Setelah Ji Mie mendengar ucapan itu, dia tersenyum tipis, tapi ada jejak kesepian dan kesedihan di tatapan matanya, dia mengulurkan tangannya untuk membelai Putrinya yang polos kemudian berkata dengan tenang: “Kuharap begitu.”
“Ayah? Kamu kenapa?”
__ADS_1