Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 109 Kenapa Masih Membiarkan Aku Hidup


__ADS_3

“Sudah selesai bicara belum?” Kaisar Zhaolie melihatnya dengan tatapan yang dingin. Kemudian, tanpa aba-aba Kaisar Zhaolie langsung menekan bahu Qin Ruojiu dengan erat dan berkata dengan nada dingin, “Benar, Kasiar bisa menjadi seperti ini semuanya gara-gara kamu. Kamu ini dasar penyihir. Kalau saja bukan karena masa lalu kamu, ayah Kaisar juga tidak akan memaksa Kaisar untuk menikahimu. Kalau Kasiar tidak menikahimu maka Kasiar bisa hidup bahagia dengan wanita yang Kaisar cintai. Kalau Kasiar tidak menikahmu, Kaisar tidak usah menerima ejekan orang-orang. Menikahi wanita paling jelek dan paling berbahaya di dunia ini.”


Setelah mendengar itu, Qin Ruojiu tidak melawan dan malah tertawa dingin dan menjawabnya dengan nada mengejek, “Ternyata, kamu benci denganku karena aku adalah wanita paling jelek di dunia ini? Yang kamu benci itu adalah pandangan orang terhadapmu? Kamu benci padaku karena aku merampas kedudukan wanita yang kamu cintai? Kalau kamu memang begitu benci denganku, kenapa masih membiarkan aku hidup? Sekarang, kamu sudah menjadi Kaisar yang paling dikenal orang orang di negeri kita. Kalaupun aku mati, tidak akan ada orang yang berani macam-macam denganmu. Kenapa? Cepat bunuh aku!” Qin Ruojiu pun berteriak emosi ketika mengatakan kalimat terakhir itu.


Ternyata, dia benar-benar tidak dianggap dan tidak ada posisi apa-apa di dalam hati pria ini. Dia sudah membuat pria ini menjadi bahan tertawaan semua orang dan membuat dia tidak bisa hidup bahagia dengan wanita yang dia cintai. Tetapi, apakah karena hal itu makanya dia bersalah? Dia mau tanya, di dunia ini memangnya ada orang yang pernah bertanya tentang pendapatnya? Memangnya dia rela menjadi ratu? Emangnya dia pernah mengharapkan kedudukan ini?


Selama ini Kaisar Zhaolie tidak tahu ternyata wanita yang terlihat lemah tidak bertenaga ini ternyata bisa mengeluarkan tenaga yang membuat orang terkejut. Kaisar Zhaolie benar-benar sedikit terkejut dan melihatnya dengan tatapan bengong. Dia tahu, sebenarnya wanita ini tidak salah apa-apa, dia tidak seharusnya memperlakukannya seperti itu. Tetapi, tidak tahu sejak kapan dia sudah tidak bisa melepaskan wanita ini.


Membunuhnya? Ketika teringat dengan tatapan matanya yang tulus dan tidak berdosa itu, dia tidak tega melakukan itu. Membiarkannya pergi? Di dalam benaknya itu terus berputar bayangan wanita yang sombong ini, dia tidak rela.

__ADS_1


Pertentang di dalam hatinya itu membuat dia tidak bisa membuat keputusan berdasarkan akal sehatnya.


Qin Ruojiu tahu dia tidak bisa melarikan diri dari hukuman ini lagi. Lalu dia pun memejamkan matanya. Meskipun pria ini mau menghinanya, dia tidak mau melihatnya dengan matanya sendiri agar matanya tidak terkotori dengan hal itu.


Ketika Kaisar Zhaolie melihat Qin Ruojiu yang putus asa dan tidak berdaya, Kaisar Zhaolie pun langsung melihatnya dengan tatapan yang penuh dengan amarah dan dingin.


“Ah ….” Qin Ruojiu pun berteriak kesakitan. Kemudian, wajahnya terlihat pucat tidak berwarna seolah baru melihat sesuatu yang sangat menakutkan.


Pada saat itu, Kasiar Zhaolie pun merasa sepertinya ada yang tidak beres lalu dia pun mundur. Ketika dia menundukkan kepalanya dan melihat ke daerah pinggang nya, dia pun terkejut.

__ADS_1


Darah segar berwarna merah pekat mengalir keluar dari tubuhnya dan menodai sprei kasurnya yang berwarna putih.


Ketika melihat darah yang terus mengalir keluar, Kaisar Zhaolie pun terkejut dan langsung terlihat gegaba. Lalu dia melihat ke arah luar jendela dan berteriak dengan marah, “Dokter Kekaisaran!”


Qin Ruojiu langsung koma untuk tiga hari. Selama satu bulan lebih ini, Qin Ruojiu hanya melewati harinya di atas kasur. Dia membutuhkan bantuan orang untuk melakukan segala hal. Dia benar-benar terlihat seperti sampah. Dia benar-benar benci dengan hidup seperti ini. Tepat di hari dia siuman, dia tahu kalau selama ini Kaisar Zhaolie sendiri yang menyuapinya makan obat. Setelah itu dia baru mulai-mulai sembuh dan pulih. Ketika terpikir sampai ke sana, dia benar-benar marah.


Hidup atau mati pun dia harus tetap harus turun dari kasur ini, dia tidak mau terbaring di atas kasur dan melewati hidupnya seperti seorang sampah. Lu’er tidak sanggup menghalanginya dan membantu menopangnya.


Qin Ruojiu duduk di depan cermin dan meminta bantuan Lu’er untuk menggambarkan alisnya dan mendandani matanya.

__ADS_1


Qin Ruojiu pun tersenyum lembut dan berkata, “Lu’er, tanganmu ini memang handal!”


__ADS_2