
Hello! Im an artic!
Melihat tampilan Leng Bingxin yang begitu tidak peduli, jejak kebencian tiba-tiba muncul di mata Kaisar Zhaolie, kemudian dia dengan dingin melepaskan tangan Leng Bingxin. Wajah tegas dan tampan itu berubah, kemudian sekujur tubuhnya gemetar dikarenakan tampilan Leng Bingxin yang seperti itu, Kaisar Zhaolie menarik napas dalam-dalam dan tersenyum dengan dingin: “Dirimu yang seperti ini, apa dia yang mengajarimu?”
“Aku tidak tahu Kaisar Zhaolie sedang membicarakan yang mana, ketika tinggal di Istana milik Pangeran Xiang, Pangeran mengirimkan begitu banyak orang untuk mengajariku, apa Kaisar ingin melihatnya?” Kata Leng Bingxin sambil tersenyum.
Hello! Im an artic!
“Diam, aku tidak mengizinkanmu bersikap seperti ini.” Kaisar Zhaolie melambaikan lengan pakaiannya yang besar dan berteriak dengan dingin, seolah ingin menghentikannya tapi dirinya juga terlihat begitu tidak berdaya.
Leng Bingxin mendongak, tidak ada jejak emosi di tatapan matanya. Tatapannya melihat ke arah pemandangan di kejauhan, tersenyum dengan aneh dan berkata: “Karena Kaisar tidak menyukai tampilanku yang seperti ini, maka tolong Kaisar jangan datang lagi untuk menggangguku di kemudian hari, jika tidak ada urusan lain maka aku akan undur diri lebih dulu.”
“Kamu…” Dalam sekejap, Kaisar Zhaolie langsung membeku di tempat, untuk sesaat dirinya tidak tahu harus berbuat apa.
Leng Bingxin dengan tidak fokus berjalan kembali ke kediamannya sendiri, saat dirinya membuka pintu, pria yang memakai jubah perak dan juga memiliki tanda lotus merah di dahinya itu sedang berdiri di sana dan tersenyum padanya dengan datar.
__ADS_1
Hello! Im an artic!
Pria itu menghela napas kemudian bertanya dengan nada yang menghangatkan hati: “Kamu sudah kembali?”
Leng Bingxin pertama-tama terpaku, lalu mengangguk dengan sedikit linglung, menatap ke arah pria itu selama beberapa saat kemudian tersenyum datar dan berkata: “Kamu kenapa bisa ada di sini?”
Pria itu berkata perlahan: “Aku terus menunggumu.”
Ketika kata-kata itu diucapkan, wajahnya yang tak tertandingi itu sekali lagi menunjukkan senyum yang polos seperti anak kecil
Bei Fengchen perlahan berjalan menghampiri, menutup pintu dengan pelan kemudian berjalan ke arah meja, menuangkan teh untuk Leng Bingxin dengan raut wajah penuh senyum.
“Kamu tidak menerima luka darinya bukan?” Nada suaranya itu sangat ringan, tapi ada nada kekhawatiran yang tidak dapat disembunyikan di dalamnya.
Leng Bingxin menundukkan kepalanya dan tidak berkata apa-apa, tapi hanya menatap ke arah tanah sambil melamun.
__ADS_1
Bei Fengchen tertawa, perlahan-lahan berjalan menghampiri, menggenggam tangan Leng Bingxin yang ramping itu kemudian berkata dengan ekspresi lembut: “Melihat tampilanmu yang seperti ini, seharusnya semuanya baik-baik saja.”
Leng Bingxin mendongak, tatapan pria di depannya ini tampak murni dan tidak berbahaya seperti anak kecil yang polos, tapi siapa tahu seberapa dalam motif yang disembunyikannya. Bei Fengchen bisa tersenyum dan membuat dirimu melakukan segalanya untuknya, ekspresinya selalu begitu lembut dan elegan, tapi semua yang dilakukannya itu sangat kejam dan dingin. Berapa banyak wanita yang bersedia menjadi budak dan bidak di tangannya di bawah senyum palsu dan hangatnya ini.
Dalam beberapa tahun terakhir, Leng Bingxin sudah melihat dengan begitu jelas para pria yang kejam dan tidak berperasaan ini, Bei Fengchen di hadapannya ini memang terlihat mulia dan tidak ternoda di depan orang luar, tapi di dalam hati Leng Bingxin, Bei Fengchen adalah orang yang bisa sepenuhnya kehilangan jiwanya hanya demi mendapatkan dunia.
Leng Bingxin menatap langsung pada Bei Fengchen, tidak tahu mengapa, tampilan Bei Fengchen hari ini bisa begitu berbeda.
Kelembutan yang belum pernah ada sebelumnya, perasaan begitu lembut yang belum pernah ada sebelumnya, pada saat ini malah ditampilkan dengan begitu lugas oleh Bei Fengchen.
“Sebenarnya kamu seharusnya berharap bahwa aku tidak baik-baik saja bukan?” Leng Bingxin tidak menjawab dan malah balik bertanya, mengangkat dagunya dan menunjukkan sikap keras kepala.
Kedalaman mata hitamnya yang jernih dan hangat itu seketika langsung tersapu oleh sentuhan emosi yang terlintas, jejak luka dan sakit hati pada akhirnya terpaku di tatapan mata itu.
Bei Fengchen menatap Leng Bingxin dengan sedikit merasa bersalah, dengan lembut membelai rambut Leng Bingxin, rambut itu sangat harum dan memabukkan, seolah-olah membuat orang lain merasa dirinya sedang berada dalam mimpi.
__ADS_1