Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 396 Terguncang Oleh Sepasang Mata


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Dari terjun dari tebing hingga saat ini, sudah hampir setengah bulan telah berlalu, Qin Ruojiu tidak pernah benar-benar bercermin memandang dirinya sendiri.


Qin Ruojiu tahu bahwa dirinya jelek, tapi hal ini tidak bisa dihindarinya. Dulu kecantikannya itu sangat luar biasa, dan dirinya sekarang seharusnya sangat amat jelak bukan?


Hello! Im an artic!


Qin Ruojiu mengabaikan tatapan aneh itu, perlahan mengulas senyum mencibir di sudut bibirnya, sebuah senyum seringai yang dingin.


Siapa tahu, ada seorang pria mabuk di jalan yang tiba-tiba menabraknya.


Tubuh Qin Ruojiu awalnya sudah lemah, dan lagi dirinya tidak merawat diri dengan benar akhir-akhir ini, ketika tertabrak oleh pria bertubuh besar itu, tubuh Qin Ruojiu terhuyung dan mundur beberapa langkah.


Wajah pria itu sudah memerah dikarenakan mabuk, sekujur tubuhnya dipenuhi bau alkohol, setelah menabrak orang, seolah hal itu telah menyulut amarah di dalam tubuhnya, dia langsung memaki di tempat dan berkata: “Siapa orang tidak punya mata yang menabrakku, Zhang Lao’er? Apa sudah tidak ingin hidup?”


Hello! Im an artic!

__ADS_1


Setelah Qin Ruojiu menstabilkan pijakannya, dia tidak berniat untuk meladeni pihak itu, hanya menunduk dan ingin pergi.


Tanpa diduga Qin Ruojiu malah ditarik oleh pria itu dengan kasar, dia berkata dengan kejam: “Oh, ternyata seorang gadis kecil, aku ingin melihat …” Sebelum kalimat itu selesai diucapkan, pihak itu tiba-tiba menggelengkan wajahnya, raut wajahnya pucat, mulut yang tertutup janggut itu gemetar dan berteriak: “Si… Sial, ini … ini … benar-benar sangat menakutkan!”


Qin Ruojiu sepertinya sudah memprediksikan hasil seperti itu sedari awal, dirinya tidak marah, hanya mengulas senyum dingin di sudut bibirnya, ketika melangkah mundur, tidak tahu benda ada yang mengenai bagian pinggangnya, Qin Ruojiu mengerang dan jatuh ke tanah.


Mendongak untuk melihat, pria mabuk itu sudah setengah sadar dan sudah melarikan diri. Dan yang menabraknya adalah sebuah gerbong kereta kuda mewah yang ingin lewat.


Saat kereta itu menabrak seseorang, kusir kereta itu bergegas menghentikan laju kereta kuda.


“Nona, kamu baik-baik saja kan?” Orang yang mengemudikan kereta kuda itu adalah seorang pemuda tampan berusia 16 atau 17 tahun, wajahnya itu sangat putih dan bersih, masih ada jejak raut kekanakan di parasnya itu.


Ketika melihat Qin Ruojiu memalingkan kepala, pihak lain sedikit mencibir, sudut bibirnya sedikit terangkat, tatapan matanya menunjukkan sentuhan keterkejutan.


Qin Ruojiu menatapnya lekat, menopang pinggangnya sendiri kemudian menggelengkan kepalanya dengan tatapan dingin.


Pada saat ini, ada suara lain yang terdengar dari dalam gerbong.

__ADS_1


Suara yang dalam dan lembut: “Yun Jun, ada apa?”


Sambil berbicara, tirai gerbong kereta kuda itu dibuka.


“Pangeran, tidak apa-apa!” Pemuda yang dipanggil Yun Jun itu sedikit panik dan bergegas berbalik badan, dia berkata dengan sedikit menyembunyikan.


Qin Ruojiu melihat orang di dalam kereta kuda itu menunjukkan parasnya yang begitu tampan tak tertandingi.


Qin Ruojiu menatapnya lekat untuk beberapa saat, paras orang di dalam kereta kuda dia memang tampan, cahaya matahari di luar tirai menyinari wajahnya yang tirus, rautnya itu terlihat sedikit sakit seolah tidak melihat cahaya sepanjang waktu. Pola lotus lima warna di dahinya itu sangat mempesona, alis tipis dan panjang itu melengkung tajam di bawah rambut hitam yang tergerai di bahu. Dia mengenakan pakaian berwarna putih-perak dengan lapisan pakaian luar berwarna putih transparan, pakaian hitam kerah tinggi menutupi lehernya, jika bukan karena mendengar suaranya, maka untuk sesaat orang lain sulit membedakan dengan jelas apa dia itu pria atau wanita.


Yang terpenting itu bukanlah tampilannya, tapi sepasang matanya, mata itu tidak memiliki keinginan, tidak memiliki permintaan, tidak ada kebencian dan tidak ada cinta, membuat Qin Ruojiu merasa familiar. Ya, seolah-olah dari orang itu, Qin Ruojiu samar-samar melihat bayangan Kang Yin. Tetapi jika dibandingkan dengan Kang Yin, mata pria ini lebih lembut dan juga lebih terang, sudah seperti genangan mata air, sama-samar melintas di dalam hatinya.


Pria di kereta kdua itu, awalnya berniat tidak ingin membuang waktu dan ingin langsung pergi.


Tapi ketika menolehkan tatapannya, nalurinya mengatakan padanya bahwa masih ada sepasang mata yang terus terpaku padanya sedari awal hingga akhir. Dia menoleh untuk melihat, wanita yang terbaring di tanah itu sedang menatapnya dengan tatapan putus asa dan juga suram.


Untuk pertama kalinya, dirinya terguncang oleh sepasang mata yang menatapnya lekat seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2