Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 499 Dia Masih Memiliki Hati Nurani


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Leng Bingxin mendongak dan menatap pria di hadapannya, wajah tampan itu sedikit terlihat basah, Leng Bingxin tidak bisa menahan keterkejutannya. Bei Fengchen menangis? Kenapa? Apa mungkin Bei Fengchen memiliki sedikit rasa bersalah? Apa itu membuktikan bahwa dia masih memiliki hati nurani?


Saat ini, mata Bei Fengchen sudah dipenuhi dengan kesedihan dan juga terdapat kemurungan yang begitu pekat. Kemurungan itu semakin menunjukkan auranya yang mulia, sinar matahari di luar jendela juga membuat seluruh wajahnya bersinar bagai sebuah giok yang bercahaya.


Hello! Im an artic!


Leng Bingxin tidak bisa menahan rasa sakit di dalam hatinya, jelas-jelas dirinya seharusnya membencinya, tapi pria ini selalu memiliki kemampuan yang begitu ajaib, bahkan meski pria ini sudah melakukan hal-hal yang keji, tapi ketika berhadapan dengan tampilannya yang seperti ini malah membuatmu tidak bisa membencinya.


Leng Bingxin tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya: “Tidak membecimu, di antara kita itu adil. Kamu menyembuhkan lukaku, menyembuhkan wajahku, menjadikanku pelayanmu, ini adalah hal yang sudah seharusnya.”


“Tidak, mulai sekarang, aku bersedia memberikan kebebasan padamu.”

__ADS_1


“Kebebasan?” Leng Bingxin menatap kosong ke kejauhan, matanya dipenuhi dengan senyum ironis yang samar.


Hello! Im an artic!


Bei Fengchen perlahan berbalik, membelai wajah Leng Bingxin dengan tangannya dan berbisik lembut: “Xin’er, aku tahu kamu mengalami masa-masa sulit, selama bertahun-tahun ini, jika ekspresimu menjadi semakin tenang maka hatimu itu merasa semakin sakit. Kamu selalu menggunakan ketenangan seperti ini untuk menutupi emosimu, tapi aku tahu di dalam hatimu, kamu tidak pernah bahagia. Kamu membenci Istana, kamu membenci kediamanku, kamu membenci hal-hal yang mengikatmu, benar bukan? Aku berjanji padamu, mulai sekarang, aku akan memberikan kebebasan padamu, selama kamu suka maka kamu bisa pergi ke mana pun. Aku tidak akan memanfaatkanmu lagi untuk melakukan apa pun, aku hanya berharap tidak peduli kemana pun kamu pergi, kamu bisa memberitahuku agar aku bisa merasa tenang.”


Ucapan Bei Fengchen sangat hangat dan ringan, seolah-olah sudah seperti seorang Ibu penuh kasih yang sedang membujuk bayinya yang terus menerus menangis. Suaranya itu begitu menawan, memabukkan seperti anggur yang sudah tua, seakan jika terus mendengarkannnya maka akan membuat orang lain tertidur secara perlahan lalu kemudian mengalami mimpi indah tanpa akhir.


“Kenapa kamu tertawa? Xin’er kenapa kau tidak menjawabku? Apa kamu tidak percaya padaku?” Bei Fengchen melihat senyum putus asa yang terulas di bibir Leng Bingxin, sangat aneh, sangat menusuk, ekspresi Bei Fengchen berubah menjadi panik, seakan dirinya akan kehilangan sesuatu.


“Pergi? Bebas? Haha–” Leng Bingxin tertawa kencang, emosinya semakin lama menjadi semakin tidak terbendung.


Bei Fengchen tidak tahu mengapa Leng Bingxin tertawa seperti ini, tapi dirinya berasa bahwa tawa semacam ini tidak cocok untuk Leng Bingxin, tawa seperti itu benar-benar membuatnya merasa sangat terganggu.

__ADS_1


Demi merasakan sebuah rasa yang nyata, Bei Fengchen memeluk Leng Bingxin dengan erat di dalam pelukannya. Menghirup aroma rambut Leng Bingxin dengan tamak dan bergumam: “Ada apa? Ada apa denganmu?”


Tawanya Leng Bingxin tiba-tiba berhenti, suaranya yang begitu menyedihkan dan dingin itu membuat orang lain tidak bisa merasakan emosinya sama sekali: “Sejak aku melangkah ke tempat ini, aku sudah tidak memiliki kebebasan. Pergi? Orang itu, apa mungkin dia akan melepaskanku?”


“Siapa yang kamu bicarakan?”


“Siapa? Siapa lagi jika bukan pria yang mendominasi Negara Kangqing ini!”


“Tidak, selama aku memberitahu Kaisar Zhaolie dengan jelas bahwa kamu adalah orangku, tidak peduli seberapa mendominasinya dia, setidaknya dia tidak akan dengan mudah merebut orang dariku, bagaimanapun kekuatan Negara Beifeng saat ini sudah berada di tanganku.”


Setelah Leng Bingxin mendengar ucapan itu, dirinya tidak merasa nyaman, Leng Bingxin hanya mengulas senyum samar, suara tawanya menjadi semakin dalam, membuat orang yang mendengarnya merasa bahwa dirinya sedang tertidur di dalam kegelapan yang tak berujung, terus menerus jatuh dan jatuh …


Bei Fengchen takut akan tampilan Leng Bingxin yang seperti ini lalu dengan lembut melepaskannya, ketika menatapnya lagi, air mata Leng Bingxin sudah menetes. Setetes demi setetes, meski tidak bisa melihat kesedihannya tapi Bei Fengchen tahu betapa tidak berdaya dan pahitnya air mata Leng Bingxin itu.

__ADS_1


__ADS_2