Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 884 Ye Wushuang, Aku Akan Membunuhmu


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Ji Xingfeng menghela nafas pelan, seolah-olah dirinya sudah membuat tekad, lalu Ji Xingfeng berkata dengan nada tegas: “Yongping, Paman sudah tua dan juga kamu adalah pewaris satu-satunya, jika kamu berkeliaran seperti ini dan orang luar melihatnya, maka kamu akan dilabeli sebagai anak yang tidak berbakti. Sudah saatnya bagimu untuk pulang.”


Ucapan yang dingin dan tegas itu, ketika didengar oleh Yongping sudah seperti senar terakhir di dalam hatinya yang terputus.


Hello! Im an artic!


Yongping membuka bibir merahnya yang terlihat pecah-pecah, mengangkat kepalanya dengan terpaku, matanya yang redup itu terlihat sedikit memilukan, terutama memar keunguan di keningnya itu, membuat orang lain yang melihatnya merasa ketakutan.


“Kakak Sepupu, apa kamu ingin mengusirku?”


“Kediamanku ini miskin dan tidak bisa menampungmu. Aku juga sangat sedih ketika melihatmu yang seperti ini.”


“Aku tidak takut menderita, Kakak Sepupu, kumohon padamu, jangan mengusirku, aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun, hasil akhir yang kuinginkan bukanlah seperti ini…” Yongping berkata sambil meneteskan air mata. Tatapan penuh kesedihan dan putus asa itu terlihat seakan dirinya kehilangan seluruh dunia.

__ADS_1


Hello! Im an artic!


Ji Xingfeng tidak berbicara, tapi tatapan mata sedingin tulang itu sudah menjelaskan segalanya.


Yongping tidak pernah menyangka hasilnya akan berakhir seperti ini. Yongping dengan terpaku mengalihkan tatapannya ke arah Ye Wushuang, seketika tatapan itu berubah dari keputusasaan menjadi kecemburuan.


“Ye Wushuang, semua ini disebabkan olehmu, dasar siluman rubah! Kamu yang menggoda jiwa Kakak Sepupuku, kamu yang menyebabkanku hingga menjadi seperti ini. Jika aku tidak bisa menjalani hidup dengan baik maka jangan harap kamu bisa melewatinya dengan baik!” Selesai berbicara, tatapan mata yang sudah berubah menjadi menggila itu langsung dipenuhi dengan niatan membunuh.


Dalam situasi di mana semua orang tidak menyangkanya, Yongping mengeluarkan belati berwarna hitam kelam dari sela-sela lengan pakaiannya.


Belati itu samar-samar berkilat dikarenakan sinar matahari dari luar jendela, memantulkan kilatan cahaya yang dingin, membuat semua orang seketika merasa takut ketika melihatnya.


Putri Yongping berteriak kencang, tampilannya begitu mengerikan, sudah seperti hantu jahat yang datang dari neraka. Yongping menerjang menuju ke arah Ye Wushuang, parasnya terlihat begitu menakutkan, sepasang matanya melotot dengan penuh kebencian, keanggunannya sebagai seorang Putri sudah tidak terlihat sama sekali.


Sebelum Yongping menerjangnya, sebenarnya Ye Wushuang sudah memiliki persiapan. Dirinya hanya perlu memiringkan tubuh untuk menghindarinya. Hanya saja Ye Wushuang teringat pada Yuya yang berdiri di belakangnya, jika dirinya menghindar maka Yuya…

__ADS_1


Yuya yang dulu tiba-tiba muncul di benaknya, Ye Wushuang teringat kembali tampilan Yuya sebelum meninggal. Yuya jatuh dari tebing dan meninggak dikarenakan terseret oleh dirinya. Sekarang… ketika dihadapkan pada keputusan yang sama, Ye Wushuang merasa dirinya benar-benar tercabik, Ye Wushuang tidak lagi ingin orang-orang tak berdosa di sekitarnya menderita dikarenakan dirinya.


Karena itu, jelas-jelas mengetahui bahaya di depan mata, tapi Ye Wushuang malah tidak menghindar. Ye Wushuang hanya memperhatikan Yongping yang menerjang ke arahnya, seolah dirinya sedang menunggu putusan kematian.


Saat pisau tajam itu dilayangkan dengan cepat, Ye Wushuang dengan jelas mendengar suara seruan dingin Yuya yang ada di belakangnya. Kilatan cahaya pedang yang dipenuhi dengan aura membunuh itu membuat Ye Wushuang langsung memejamkan matanya.


Setelah sekian lama berlalu, Ye Wushuang bisa mencium aroma darah yang amis menyebar di ujung hidungnya, tapi Ye Wushuang tahu dengan jelas bahwa aroma itu bukan berasal dari tubuhnya.


“Kakak Sepupu…” Yang terdengar di telinganya adalah suara Putri Yongping dengan berteriak dengan terkejut.


Ye Wushuang membuka matanya, entah sejak kapan, Ji Xingfeng sudah menghadang di depannya.


Ji Xingfeng menatap ke depan dengan dingin, alis tampannya itu berkerut, raut wajahnya begitu dingin, membuat orang merasa bergidik.


Saat ini, Ji Xingfeng memegang bilah belati dengan tangan kosong, bilah tajam itu masih tertancap di telapak tangannya. Ujung kepalan tangannya masih terus meneteskan darah merah yang begitu menusuk mata.

__ADS_1


Ji Xingfeng berdiri di hadapannya bagai tembok baja, memegang belati tanpa bergerak sama sekali, sudah seperti robot yang tidak mengenal rasa sakit.


Putri Yongping tidak pernah menyangkanya sama sekali, dirinya ingin membunuh Ye Wushuang tapi malah melukai Kakak Sepupunya. Setelah panik untuk sesaat, Yongping segera melepaskan belati di tangannya, melangkah mundur beberapa langkah lalu menangis sambil menggelengkan kepalanya: “Kakak Sepupu… maaf, aku tidak bermaksud begitu, Kakak sepupu… aku salah, pukul saja aku, marahi saja aku…… “


__ADS_2