Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 228 Jangan Hanya Melihatku


__ADS_3

Meski raut wajahnya malu, tapi ada sedikit kepahitan di dalam hati Qin Ruojiu. Karena setelah melewati hari ini, dirinya akan pergi besok malam, takutnya di kemudian hari dirinya tidak akan pernah memiliki kesempatan ini lagi.


Qin Ruojiu awalnya mengira Kaisar Zhaolie akan menyetujuinya, tapi tidak disangka, Kaisar Zhaolie hanya memegangi dagunya, dengan lembut mencium dahinya, tatapan matanya itu dipenuhi dengan rasa kasih sayang dan juga cinta, Kaisar Zhaolie berkata: “Tidak perlu, tadi kamu membuatku sangat puas, sekarang kamu pasti tidak punya banyak energi untuk melakukan hal-hal lain, aku akan melakukannya ssendiri.” Setelah selesai berbicara, Kaisar Zhaolie kembali membungkuk dan dengan lembut mencium daun telinga Qin Ruojiu yang putih dan halus itu, kemudian baru mundur sambil tersenyum dengan nakal.


Qin Ruojiu hanya merasakan sekujur tubuhnya gemetar, wajahnya yang cantik itu memerah sudah seperti sebuah apel yang matang. Untuk beberapa saat, dirinya terbaring di ranjang dengan terpaku, tatapan matanya itu kehilangan fokus.


Wajahnya terasa panas, semacam rasa manis dan kebahagiaan yang tak terlukiskan memenuhi dadanya.

__ADS_1


Ketika Qin Ruojiu kembali menundukkan kepalanya, dia malah melihat Kaisar Zhaolie sudah dengan cepat mengenakan pakaiannya, merapikan kerutan di lengan pakaiannya.


Qin Ruojiu ingin mengatakan sesuatu, tapi malah disela oleh Kaisar Zhaolie, dia menoleh dan mengulas senyum jahat nan lebar, kemudian berkata dengan elegan: “Qin Ruojiu, jangan hanya melihatku saja, ingat jangan sampai masuk angin, malam ini aku akan berada di ruang kerja kerajaan, aku akan meluangkan waktu untuk bertemu denganmu besok.” Setelah selesai berbicara, Kaisar Zhaolie meletakkan kedua tangannya di belakang punggung kemudian pergi.


Tatapan Qin Ruojiu yang bingung itu hanya meninggalkan sosok Kaisar Zhaolie yang pergi dengan tergesa-gesa. Sosok itu perlahan-lahan menjadi kabur, seperti angin yang berhembus. Menghilang, perasaan kecewa yang begitu besar, itu adalah sesuatu yang belum pernah dialaminya sebelumnya.


Sebenarnya Qin Ruojiu benar-benar ingin membuatnya tinggal. Qin Ruojiu tahu selama beberapa jam setelah kembali dari Istana Fengyi, dia tidak makan, Qin Ruojiu ingin memasak sendiri untuknya, membuat makanan terakhir. Hanya sayangnya dia selalu begitu sibuk, kecuali menemaninya sesekali, mereka bahkan tidak memiliki waktu untuk mengobrol.

__ADS_1


Tapi setelah merenung dengan cermat, pemikirannya itu benar-benar sangat konyol. Dia adalah Kaisar, merupakan Raja tertinggi. Bagaimana mungkin Kaisar Zhaolie yang bertanggung jawab atas semua rakyat hanya berada di sisi wanita seperti dirinya? Di dunia ini, tidak ada yang bisa mengendalikan hatinya, mungkin, kecuali wanita yang bernama Li Qing, Kaisar Zhaolie tidak akan pernah menaruh siapa pun di dalam hatinya.


Setelah mengejek dirinya sendiri, Qin Ruojiu merasakan hawa dingin di depan dadanya. Ketika menundukkan kepala dirinya baru menyadari, entah kapan selimut brokat yang menutupi depan dadanya sudah merosot turun ke bawah tubuhnya. Kulit putihnya yang seputih salju itu terekspos, jejak kemerahan yang tidak sengaja muncul dikarenakan percintaan yang begitu intens juga terlihat. Mengingat kembali ucapan Kaisar Zhaolie yang berkata padanya agar jangan sampai masuk angin, pipi Qin Ruojiu sekali lagi memerah tanpa sadar. Ternyata Kaisar Zhaolie sudah melihat semuanya.


Setelah Kaisar Zhaolie pergi, Qin Ruojiu perlahan turun, mengenakan pakaiannya kemudian duduk di depan cermin.


Di cermin perunggu itu, rambut hitam panjangnya yang begitu lembut, disanggul dan diikat tinggi menggunakan sebuah mahkota phoenix yang begitu indah dan mempesona, sebuah jepit rambut emas disisipkan di atas rambut, manik-manik panjang menjulur turun dan bergoyang di antara rambutnya. Menatap dirinya sendiri di cermin untuk sekian lama, Qin Ruojiu bangkit kemudian berjalan, lonceng yang tergantung di pinggangnya itu berdenting.

__ADS_1


Hari sudah semakin gelap, Qin Ruojiu berjalan ke jendela, membuka bingkai jendela kemudian angin dingin bertiup masuk melalui jendela, sudah seperti suasana hatinya saat ini, begitu hampa dan kosong, di saat bersamaan juga begitu rumit. Qin Ruojiu mengulurkan tangannya, membiarkan ujung jarinya merasakan angin yang berhembus pelan, mencium aroma bunga yang samar, di kejauhan, terlihat penjaga berarmor yang sedang berpatroli dan juga beberapa pelayan istana kecil yang sedang membersihkan di sekitar.


Segala sesuatu yang tampak indah itu ternyata malah membuat hatinya begitu panik dan cemas.


__ADS_2