
Hello! Im an artic!
Ketika Ye Wushuang berbalik dan ingin pergi, dia dipanggil lagi oleh She Jingtian.
She Jingtian melonggarkan tali ayunan di tangannya, berkata pada Shangguan Min’er dengan ekspresi lembut, “Kamu main sendiri dulu, Paman She ingin membicarakan sesuatu dengan Kak Wushuang-mu.”
Hello! Im an artic!
Shangguan Min’er menjawab dengan nada bicara yang jarang-jarang terdengar senang, “Baiklah, tapi Paman harus segera kembali. Bosan sekali kalau harus main sendirian.”
She Jingtian tersenyum dan membelai kepala Shangguan Min’er. Lalu dia berbalik dan berjalan ke sisi Ye Wushuang.
Ye Wushuang memunggungi dia, sosok pendiam dan sempurnanya tampak lemah. Bahkan jika sinar mentari cerah menerpa gadis itu, masih menimbulkan kesan kesepian.
“Nona Wushuang, kenapa kamu selalu pergi saat bertemu denganku? Apa aku begitu menakutkan?”
__ADS_1
Hello! Im an artic!
“Bukan, aku hanya takut akan mengganggu Penguasa Kota dan Nona Min’er yang sedang berbagi kebahagiaan keluarga.”
She Jingtian tertawa mengejek dan ada ekspresi khawatir muncul di matanya, “Benarkah? Lalu kemarin kamu…”
Belum sempat She Jingtian selesai bicara, Ye Wushuang sudah menjelaskan dengan panik, “Kemarin memang Wushuang yang tidak sopan. Penguasa Kota ingin menghukum atau menyalahkan, Wushuang tidak akan menolak.”
Jarang-jarang bisa melihat ekspresi bingung wanita ini. Tak disangka ternyata begitu manis dan membuat She Jingtian tersenyum simpul, “Tidak ada yang menyalahkanmu. Hanya saja, tingkah lakumu kemarin sangat aneh.”
“Benarkah?”
“Apa? Dia mengenali aku?” Ye Wushuang terkejut, matanya penuh dengan ketidakberdayaan dan rasa takut. Bahkan tangannya yang berada di dadanya pun sedikit bergetar.
Entah kenapa pemandangan ini membuat She Jingtian merasa sedih. Dia juga tidak tahu kenapa, wanita yang memandang rendah kehormatan dan kekayaan, bahkan bersikap biasa-biasa saja terhadap dirinya, kenapa bisa bereaksi seperti ini saat berhadapan dengan Pangeran Keempat.
__ADS_1
Dia ingat wanita ini pernah meminta agar dilindungi oleh She Jingtian selama sisa hidupnya. Tampaknya musuhnya adalah dari keluarga kerajaan. Kalau memikirkan reaksinya kemarin, apa mungkin musuhnya adalah Pangeran Keempat dari Negara Qi?
“Ternyata musuh yang selama ini membuatmu takut adalah Pangeran Keempat Negara Qi? Akhirnya aku mengerti.”
She Jingtian berkata dengan tak acuh, tapi Ye Wushuang tidak lagi bicara. Wajahnya yang pucat pasi itu menunjukkan kecemasan dalam hatinya.
Akhirnya, She Jingtian masih tidak tega untuk tidak menambahkan, “Tadi aku hanya sembarangan bicara saja. Sebenarnya Pangeran Keempat tidak mengenalimu.”
Barulah saat ini Ye Wushuang menghela napas lega. Dia menatap ke kejauhan dengan tatapan mata yang agak menghindar, “Kalau kamu ingin tahu kebenaran masalah ini, kamu boleh langsung bertanya padaku. Tidak usah dengan menguji.”
“Kalau ada hal yang membuat Nona Wushuang merasa tidak nyaman, aku minta maaf. Sebenarnya aku tidak akan mencelakaimu.”
“Kalau Penguasa Kota tidak ingin mencelakaiku, maka jangan bicarakan hal ini lagi. Kalau tidak, ini hanya akan menimbulkan masalah untukmu dan juga aku. Mungkin Penguasa Kota juga tidak ingin bertentangan dengan Pangeran Keempat Negara Qi hanya demi Wushuang, kan?”
She Jingtian tersenyum kecut, ternyata sampai sekarang wanita ini belum percaya pada dirinya. Dia melambaikan lengan pakaiannya dan berkata, “Memang tidak bijaksana untuk bertentangan dengan Ji Xingfeng, tapi aku tidak akan mengingkari janjiku para Nona Wushuang. Sebenarnya aku hanya tidak mengerti satu hal, kenapa kamu bisa menyinggung orang seperti Ji Xingfeng?” Masuk akal kalau berhadapan dengan pria tak tertandingi dan sombong seperti Ji Xingfeng, antara menjauh dan berusaha untuk menyinggungnya, atau bersinggungan tapi nyawa taruhannya.
__ADS_1
Ye Wushuang tidak ingin menjelaskan secara detail, dia berencana untuk menciptakan kebohongan setelah diam-diam memikirkannya.
Karena dia tahu, meski tidak dia katakan, mungkin She Jingtian juga dapat menyuruh orang untuk menyelidiki semua ini dengan kekuatannya yang luar biasa. Kalau sampai diketahui kalau dia adalah seorang ratu…