
Hello! Im an artic!
Setelah Qinghao mendengarnya, dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya bergerak perlahan ke arah Leng Bingxin. Leng Bingxin mengenakan gaun katun berwarna hijau dengan tepian biru, dia memiliki aura yang lembut dan elegan, tapi terdapat sebuah ketegasan dibandingkan dengan setahun yang lalu..
Kemudian Qinghao berjalan ke belakangnya, lengannya yang terulur itu dengan lembut dan sopan melewati tubuh Leng Bingxin, dia berkata dengan suara rendah: “Nona Leng, jangan takut, aku yakin 80% luka di wajahmu sudah pulih.”
Hello! Im an artic!
Leng Bingxin mengangguk dan tersenyum samar, ada ketidakberdayaan dan kehampaan di senyumannya itu.
Leng Bingxin sudah tidak berharap pada parasnya ini. Bukan karena Qinghao tidak memiliki kemampuan untuk menyembuhkannya, tapi dirinya tidak ingin wajahnya kembali seperti sebelumnya. Memangnya kenapa jika sembuh? Bukankah hanya akan mengulangi kesalahan yang sama dan mengambil jalan yang jauh lebih sulit dibanding sebelumnya.
“Nona Leng, duduklah dulu di sini, sebentar lagi aku akan melepas kasa di wajahmu.”
Qinghao menunjuk ke arah tirai di bagian lain dari ruang kerja itu, di sana terdapat kursi kayu cendana, dan di sisi berlawanan dari kursi itu terdapat sebuah cermin perunggu.
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Leng Bingxin tidak berbicara dan hanya berjalan perlahan menuju tempat itu di bawah tatapan penuh harap Bei Fengchen dan Qinghaoqing.
Tidak ada harapan, tidak ada kegembiraan, tidak ada emosi di tatapan mata Leng Bingxin, yang ada hanya sentuhan tekad, sentuhan kesedihan, dan sentuhan ketidakberdayaan.
Di depan cermin perunggu, kecuali mata dan dahinya yang terlihat, wajahnya itu sepenuhnya tertutup oleh cadar kain.
Apa sepasang mata itu adalah milik dirinya sendiri? Sejak parasnya cacat, Leng Bingxin yang tidak bercermin hampir saja tidak bisa mengenali dirinya sendiri.
Mata itu hanya bisa digambarkan dengan kata kebencian, dingin, hampa, dan sedikit sedih.
Tepat sebelum dia sempat bertanya pada dirinya sendiri mengapa bisa berubah menjadi seperti ini, Qinghao sudah berjalan menghampiri dengan langkah beratnya itu.
Dia berhenti dan bersandar pada pegangan kursi di belakang Leng Bingxin, ada perhomonan di tatapan matanya, dia kemudian berkata dengan lembut: “Apa kamu sudah siap?”
Saat ini, ada makna mendalam di mata Bei Fengchen, tiba-tiba dia bertanya: “Jika kamu merasa tidak nyaman, maka kami akan keluar lebih dulu dan kamu bisa melakukannya sendiri.”
Leng Bingxin sedikit tertegun, tidak menyangka pada saat ini Bei Fengchen masih saja mempertimbangkan perasaannya.
__ADS_1
Mungkin Bei Fengchen juga merasa gugup dan takut. Gugup kaena jika Qinghao tidak bisa mengembalikan parasnya, maka apa yang harus dilakukannya? Takut karena apa rencana besarnya itu akan tertunda lagi?
Namun Leng Bingxin hanya mengulas senyum: “Jika kalian tidak takut akan terkejut maka buka saja.”
Tangan yang direntangkan oleh Qinghao, meski begitu putih dan bersih, tapi juga sangat kurus. Saat melewati di depan matanya, itu tampak seperti tanaman merambat tua yang mengelilingi pepohonan.
Qinghao sangat berhati-hati, gerakannya sangat lembut, tangannya gemetar sesaat saat melewati di sekitar telinga Leng Bingxin yang terpasang cadar kain.
Leng Bingxin tahu Qinghao seharusnya juga sangat gugup. Kalau tidak, bagaimana mungkin dia yang biasanya begitu tenang bisa gemetar?
Saat cadar itu disingkirkan, Leng Bingxin bisa merasakan angin membelai pipinya. Ini adalah perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya, Leng Bingxin merasa tidak nyaman hingga melebarkan sepasang matanya yang berkabut.
Cadar itu sudah dilepas, sebelum bisa melihat dirinya dengan jelas di cermin, Leng Bingxin malah melihat kasa di tangan Qinghao sudah terjatuh ke lantai.
Leng Bingxin sedikit mengangkat kepalanya, menatap dirinya di cermin dari kejauhan, dirinya di cermin terlihat familiar tapi juga asing, sosok bayangan orang di cermin itu seakan dipisahkan oleh ruang dan waktu, seakan sudah melewati waktu yang sangat panjang. Jantungnya tiba-tiba menegang, bekas luka hitam yang pernah terpampang di wajahnya sebelumnya sudah menghilang tanpa bekas.
Sosok Leng Bingxin di cermin itu sama persis dengan Qin Ruojiu sebelumnya. Hanya saja sudah tidak ada lagi kelembutan di tatapan matanya, sudah tidak ada lagi kepatuhan dan juga sudah tidak ada lagi sikap penurut yang terlihat.
__ADS_1