Permaisuri Dibalik Cadar

Permaisuri Dibalik Cadar
Bab 386 Mengapa Tidak Langsung Membunuhnya


__ADS_3

Hello! Im an artic!


Kaisar Zhaolie tidak mengijinkan dirinya untuk terus berpikir lagi, tapi malah memaksakan dirinya untuk berkata: “Sekarang tentara negara musuh sudah berada di sini, satu-satunya hal yang dapat kulakukan adalah menikahi Putri, tapi syarat untuk menikahi Putri adalah…” Kaisar Zhaolie tidak dapat melanjutkan, dia tahu tindakannya ini sangat kejam, betapa tidak tahu malunya meminta seorang wanita untuk berkorban demi Negara Kangqing ini tetap utuh. Dan lagi bahkan dirinya sendiri juga tidak tahu apa dirinya melakukannya demi Negara Kangqing atau demi memenuhi keegoisannya sendiri.


Kaisar Zhaolie tidak berani menatap Qin Ruojiu, karena dirinya takut kekosongan dan ketidakpedulian yang tersembunyi di balik senyuman itu akan membuatnya menyerah di tengah jalan.


Hello! Im an artic!


Qin Ruojiu membuatnya kecewa seperti biasa, Qin Ruojiu tidak berlutut atau memohon belas kasihan padanya tapi hanya duduk diam di sana.


Qin Ruojiu tersenyum samar, semua ini tidak ada artinya baginya, Qin Ruojiu sudah mengerti tapi masih mengangkat kepalanya dengan berpura-pura, menatap Kaisar Zhaolie dengan tatapan mata dingin dan bertanya: “Syarat apa?”


Kaisar Zhaolie berkata begitu tegas, tidak memberi ruang untuk bertanya: “Membunuh Ratu dan menikahi sang Putri!”


Kaisar Zhaolie berpikir, bahkan meski Qin Ruojiu tidak takut, tapi pasti akan merasa sedih atau putus asa untuk sesaat. Tapi Qin Ruojiu masih tersenyum, masih terlihat begitu cantik dan menawan: “Selama Kaisar tidak menyesalinya, maka aku rela mati.”


Hello! Im an artic!


Malam itu… Qin Ruojiu memercikkan darahnya di Istana Fengyi… rasa cinta masa lalu semuanya berubah menjadi debu… Kaisar Zhaolie menatap Qin Ruojiu, wajah yang begitu cantik tapi sama sekali tidak ada ekspresi, tidak ada ketakutan, tidak menghindar, tidak terobsesi. Jantung Kaisar Zhaolie tiba-tiba berdenyut. Detik berikutnya, Kaisar Zhaolie mau tidak mau harus menghunuskan pedangnya untuk menebas.

__ADS_1


Qin Ruojiu merosot ke lantai, sepasang tangan yang menggenggam wajahnya itu perlahan terbuka, tetesan darah menetes di telapak tangannya, wajah cantiknya itu sepucat kertas, Qin Ruojiu menggigit bibir merahnya yang berdarah tanpa mengeluarkan suara sama sekali.


Kaisar Zhaolie berkata: “Mulai hari ini, Qin Ruojiu sudah mati. Aku tidak akan membunuhmu, aku sudah pernah mengatakannya!”


Qin Ruojiu memegangi wajahnya, darah segar mengalir memasuki bibirnya, sangat amis dan manis.


Qin Ruojiu masih tersenyum, lukanya itu terbuka dan sangat sakit, tapi dia masih tersenyum tanpa mempedulikan segalanya dan berkata: “Aku ingat, tapi Kaisar juga mengatakan bahwa Kaisar akan menyiksaku, apa ini adalah siksaan yang Kaisar berikan padaku?”


“…” Kaisar Zhaolie diam.


Qin Ruojiu berdiri bagai orang gila dan berteriak pada petir yang menyambar seperti cakar hantu: “Bagus, ini adalah penyiksaan yang jauh lebih baik dibanding membunuhku …”


Darah di bagian depan pedang itu tercermin dalam cahaya dingin petir, itu terlihat sangat dingin dan menusuk.


Mulai saat itu, wajah Qin Ruojiu sudah hancur, Qin Ruojiu bukan lagi wanita cantik, bukan lagi Ratu yang sangat cantik dan menawan.


Ini bisa dianggap sebagai keengganan terakhir Kaisar Zhaolie padanya.


Qin Ruojiu tersenyum kemudian tubuhnya melemas dan tiba-tiba jatuh ke lantai.

__ADS_1


Pakaian, rambut, dan lantai, semuanya penuh darah.


Kecuali sepasang mata yang masih terlihat jernih dan bersih, sekujur tubuh Qin Ruojiu sudah tercemar dengan darah merah yang menusuk mata.


Pada saat Qin Ruojiu ingin memejamkan matanya, dia melihat Kaisar Zhaolie berbalik dengan dingin dan berteriak pada penjaga di luar pintu: “Pengawal, cepat bawa wanita ini pergi, mulai sekarang dia tidak boleh memasuki Istana. ”


“Baik!” Suara keras terdengar dari luar jendela.


Qin Ruojiu memicingkan mata, tatapan matanya terlihat kosong.


Kaisar Zhaolie tidak menoleh ke belakang, tapi dia dengan tegas berkata pada Qin Ruojiu: “Aku akan selalu mengingat pengorbananmu terhadap Negara Kangqing. Lu’er, Yan’er dan semua orang di sekitarmu, aku tidak akan meminta pertanggungjawaban mereka atas kesalahan apa pun, kamu pergilah, mulai sekarang, jangan biarkan aku melihatmu lagi!”


Meninggalkan kalimat itu, sosok tinggi dan tegap itu kemudian hilang bagai hantu, sosok itu dengan cepat keluar dari penglihatan Qin Ruojiu yang sudah kabur.


Qin Ruojiu tidak tahu, sampai saat seperti ini dirinya masih saja harus bertahan hidup.


Qin Ruojiu merasa tidak ada yang lebih kejam dibanding ini, mengapa tidak langsung membunuhnya saja? Apa merusak parasnya adalah balas dendamnya padanya?


Hati Qin Ruojiu sudah mendingin, tidak ada hal lain di tatapan matanya kecuali kemarahan dan amarah.

__ADS_1


__ADS_2