
Ji Mie melayang ke angkasa, menatap anaknya dengan tersenyum, “Anakku, kamu harus tenang, Ayah tidak bisa menolongmu. Kamu harus lebih berani, dan berusaha menolong diri sendiri.”
“Tapi, aku takut…” usai berkata, Qin Ruojiu baru sadar kalau getaran tadi sudah menghilang. Saat ini, suasana menjadi begitu tenang dan damai.
“Jangan takut, anakku, kamu akan baik-baik saja. Tidak ada yang tidak bisa kamu lakukan, yang penting kamu berani dan kuat, kamu pasti bisa melewati semua halangan dalam hidupmu.” Ucap Ji Mie dengan kasih sayang dan tidak tega. Inilah perhatian dan kasih sayang dari seorang ayah kepada anaknya.
“Tetapi aku tidak mau tinggal di istana, disini dingin seperti di gunung es, dinginnya menusuk tulang. aku ingin pergi dari sini, aku ingin hidup bersama Ayah, barulah aku bisa bahagia.”
“Anakku sayang, kamu jangan lupa, kamu adalah seorang Permaisuri. Kamu sudah menikah, mana boleh hidup bersama Ayah lagi?”
“Tapi aku tidak ingin menjadi permaisuri, semua orang di sini sangat menakutkan, aku harus waspada setiap saat. aku tidak suka dengan kehidupan seperti ini. aku ingin bersama Ayah. Membantu Ayah memetik tanaman di hutan, membelah kayu, mencuci baju, memasak…” ucap Qin Ruojiu dengan menahan rasa sakit hati karena teringat masa-masa indah itu telah jauh darinya, dia pun menangis dan berteriak pada Ayahnya.
__ADS_1
Tetapi ayahnya yang penuh kasih sayang dan tenang itu tiba-tiba menjadi dingin dan tidak berperasaan, “Tidak berguna. Bisa jadi permaisuri, kenapa malah ingin menjadi gadis biasa. Kamu anakku, bukan?”
“Aku…” Qin Ruojiu terkejut, karena ini pertama kalinya Ayahnya itu memarahinya. Matanya yang membasah itu terus menatap Ayahnya, tanpa bisa berkata-kata.
“Pintar, kamu harus melayanin Yang Mulia Kaisar dengan baik. Kita, kaum penyihir, tidak diterima orang lain, selalu dikucilkan, jika kamu tidak menjadi permaisuri, kaum kita bisa terancam, dna kita mungkin akan di bantai.”
“Ayah, jangan pergi, bawa aku pergi, bawa aku pergi!” rupa Ayahnya semakin lama semakin buram, Qin Ruojiu pun merasa takut lagi.
Ia takut kesepian, dia takut sendirian. Dia tidak ingin Ayahnya juga meninggalkannya, dia menjulurkan tangan untuk menangkap bayangan itu, tapi , di saat ini juga, muncul wajah seseorang yang menakutkan di hadapannya.
Qin Ruojiu berteriak ketakutan, kemudian terbangun dari mimpi.
__ADS_1
Setelah bangun, dia melihat sekeliling. Setelah menyadari bahwa ia hanya bermimpi, dia pun merasa lega. Kedua bola matanya sudah basah, sulaman bunga peoni itu pun sudah selesai.
Rupanya tadi ia tertidur,
Tidak tahu kenapa, akhir-akhir ini, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, tidak memiliki selera makan. Sekarang ini, ia bahkan bermimpi buruk di siang hari, apakah ini menandakan sesuatu?
Saat dia masih merasa takut, Lu’Er buru-buru lari mendekat, “Permaisuri, Permaisuri… celaka…”
Qin Ruojiu pun menjadi kaget dan mulai panik, karena dia masih belum tenang karena mimpi tadi.
“Ada apa?” tanya dia dengan mengernyitkan alis.
__ADS_1
Bab selanjutnya Bab 46 Masalah Ini Tidak Sederhana
“Pagi ini, Selir Mulia Zhao terjatuh di taman bunga royal. Anak kaisar hampir tidak tertolong.”