
Hello! Im an artic!
Ji Xingyun menatap merendahkan ke arah mereka berdua, kemudian dirinya menatap pada tulisan kaligrafi yang ada di tangannya, alisnya yang tampan itu tanpa sadar sedikit terangkat naik, bibir merah tipisnya itu seketika langsung bergumam:
“Tidakkah kamu melihat air sungai kuning yang datang dari langit, mengalir menuju laut dan tidak pernah kembali lagi.
Hello! Im an artic!
Tidakkah kamu melihat mereka berduka akan rambut putih di cermin besar aula, saat pajar terlihat seperti benang hitam dan pada malam hari berubah menjadi salju.
Kehidupan seharusnya membawa kebahagiaan, jangan pernah biarkan kendi kosong menghadap ke bulan.
Tuhan melahirkanku, kemampuanku seharusnya ada gunanya, menghabiskan begitu banyak uang tapi semua itu akan kembali lagi.
Memasak domba dan menyembelih sapi itu menyenangkan, kita harus meminum tiga ratus cangkir.
Hello! Im an artic!
__ADS_1
Tuan Cen, Dan Qiusheng, bawakan anggutnya, tidak boleh berhenti minum.
Aku akan menyanyikan sebuah lagu untukmu, tolong pinjamkan telingamu.
Lonceng, drum, batu giok, semua itu masih belum cukup baik, kuharap aku mabuk untuk selamanya dan tidak akan tersadar lagi.
Sedari zaman kuno, orang bijak selalu kesepian, hanya pemabuk saja yang akan meninggalkan namanya.
Di masa lalu, Pangeran Chen menghela pesta jamuan di Pingle, dia dengan senang hati menyediakan puluhan ribu cangkit anggur untuk diminum.
Kuda kesayanganku, bulunya berharga ribuan keping emas,
Panggil pelayan dan minta dia untuk menukar anggur berkualitas, aku akan menghapus kesedihan abadi bersamamu.” Semakin membaca hingga akhir, suara Ji Xingyun yang rendah semakin meninggi, bahkan emosinya juga tampak dipengaruhi oleh puisi ini, emosinya berubah menjadi radikal dan penuh kesenangan.
Puisi ini dapat digambarkan sebagai naik turunnya emosi, dari sedih ke kegembiraan, dari kegembiraan ke kegilaan, dari kegilaan ke kemarahan, begitu banyaknya emosi pada akhirnya dikaitkan dengan kata “kesedihan”, benar-benar memiliki momentum dan liku-liku. Intinya jika membaca keseluruhan puisi, maka hampir bisa sepenuhnya mengungkapkan kebahagiaan, kemarahan, kesedihan, dan kegembiraan dari manusia, dan lagi emosi ini berubah dengan sangat cepat, perbedaannya itu sangat besar.
Yang paling membuat Ji Xingyun berpikir dalam adalah, puisi ini tampaknya mengungkapkan keluhan dari sang pengarang yang tidak dipahami, tapi malah harus hidup dengan optimis dan bahagia. Terkadang juga mengungkapkan emosi negatif saat bersenang-senang. Tapi keseluruhan puisi tersebut masih penuh dengan kepribadian unik yang membanggakan dan menyenangkan.
__ADS_1
Ini adalah puisi yang sangat bagus, setiap kalimat puisi ini membuat orang lain benar-benar memuji kalimat puisinya yang sangat baik. Tapi dalam semua catatan buku di Negara Qi, Cataan Klasik, Catatan Ritual, dan Catatan Sejarah, sama sekali tidak tercatat puisi yang luar biasa ini Dan di daerah seperti Dinasti Han dan juga Negara Bei dan negara lainnya, Ji Xingyun juga belum pernah mendengar penyair puisi yang begitu hebat.
Apa mungkin… penulis puisi ini adalah Qin Ruchen?
Detik berikutnya, Ji Xingyun menatap dan menilai Qin Ruchen dengan tatapan mata terkejut dan tidak percaya. Jika dipikir-pikir maka benar juga, puisi ini sangat sesusai dengan kehidupan Qin Ruchen selama setengah tahun di Istana Zhihua, Qin Ruchen ditinggalkan olehnya, tidak ada yang mempedulikannya, selain menghibur dirinya sendiri di rumah, Qin Ruchen bahkan tidak bisa keluar dari gerbang pintu.
Namun yang membuat Ji Xingyun curiga adalah, beberapa pelayan Istana yang mengawasi Qin Ruchen secara diam-diam melaporkan bahwa Qin Ruchen tidak sebebas dan selepas seperti yang tertulis dalam puisi setelah memasuki Istana Dingin, Qin Ruchen menangis sepanjang hari, dirinya tidak pernah mendengar Qin Ruchen minum untuk menghilangkan kesedihannya. Dan lagi jika ingin minum di tempat seperti Istana Zhihua, itu benar-benar tidak mungkin. Karena tidak pernah ada orang yang mengirimkan anggur ke sana.
Lalu apa puisi ini benar-benar buatannya? Ji Xingyun menatap Qin Ruchen dengan heran. Jika merupakan orang lain, dirinya sudah pasti akan langsung memuji dan menobatkannya menjadi pejabat tinggi, memang puisi ini sangat menyentuhnya. Tapi jika benar-benar Qin Ruchen… dirinya ragu, perasaan kesepian seperti apa hingga dia bisa membuat puisi seperti ini.
Qin Ruchen itu licik, kejam, dan hatinya itu jahat, tidak mungkin Qin Ruchen menulis puisi dengan keanggunan seperti ini.
“Kaisar… Kaisar…”
Suara samar Yuya terdengar di telinganya, Ji Xingyun seketika tersadar, Ji Xingyun menatap puisi itu untuk sekian lama, membuat Ye Wushuang dan Yuya menatapnya dengan tatapan mata aneh.
Ji Xingyun seketika merasa malu, menutupi mulutnya dan terbatuk ringan dengan canggung, tidak ada ekspresi di wajah tampannya yang dingin itu, Ji Xingyun hanya berkata dengan suara dalam seperti biasa: “Ratu Qin, apa kamu yang membuat puisi ini?”
__ADS_1