
Mantingan membuka pintunya dan keluar. Oh, betapa takjubnya dia! Suasana ramai yang terjadi di depan kediamannya benar-benar meriah. Beberapa baris arak-arakan membawa banyak lentera putih atau boneka bercahaya berbentuk hewan. Baris arak-arakan lainnya membawa keranjang makanan, ada pula yang memainkan alat-alat musik yang menghasilkan lantunan lagu yang indahnya sungguh terlalu. Semua orang memakai baju terbaik mereka, menciptakan pemandangan yang sedap dilihat.
Mantingan terpukau dengan semua kemeriahan di depannya, hingga salah seorang murid dari arak-arakan itu menarik tangannya untuk masuk barisan. Itu adalah sesaat sebelum arak-arakan mulai menyanyikan suatu nyanyian. Diiringi alunan suara yang beragam dari arak-arakan di belakang, menjadikan suasana benar-benar meriah.
Entah arak-arakan itu membawa Mantingan ke mana, ia mengikutinya saja, toh dirinya senang dengan mereka.
Salah satu dari mereka berkata pada Mantingan, bahwa ini adalah hari peringatan yang besar bagi mereka, sehingga wajib dirayakan dengan hati bergembira. Namun, mereka harus membuat perayaan yang baik dan benar. Tidak ada arak atau minuman keras, tidak ada wanita penghibur—semuanya adalah penghibur di sini, tidak ada makan-makan sampai perut begah, tidak ada pula makanan yang dibuang.
Inilah yang Mantingan senangi, merayakan pesta dengan cara yang baik. Ia tak perlu takut berdosa, tapi tetap bisa bersenang-senang.
Jari-jari Mantingan meraba kendi tempat abu Rara disimpan, bergumam dalam hatinya, “Rasakan kedamaian ini, Rara.”
Tentu saja Mantingan tidak melupakan Rara. Ia ingin cintanya itu terus hidup dalam jiwanya. Mantingan tidak mau melupakan Rara, ia akan terus mengingatnya, dalam kedamaian dan bukan dalam kesedihan. Apakah jika Rara masih hidup dan bersamanya sekarang, Mantingan terus-terusan bersedih? Jika ia menganggap Rara masih hidup, maka ia harus bahagia dan damai, seolah Rara berjalan di sampingnya.
Suasana semakin meriah saat banyak arak-arakan lain yang bergabung. Alunan suara yang dihasilkan semakin merdu, tapi tidak ada yang berani memainkannya terlalu kencang dan keras. Mantingan tidak ikut bernyanyi, karena ia tak tahu harus bernyanyi apa, tapi ia bersenandung dalam hatinya.
Gerombolan arak-arakan itu sampai di sebuah lapangan luas, yang ditengahnya tertanam megah pohon kelapa. Besar pohon kelapa itu sangat menarik banyak perhatian, itu adalah pohon kelapa terbesar dan terkokoh yang pernah Mantingan lihat. Di bawah cahaya perak rembulan dan pantulan lentera putih, pohon kelapa yang gagah itu akhirnya menunjukkan sisi lembutnya.
__ADS_1
Mengitari pohon kelapa itu adalah panggung. Di atasnya terdapat kursi-kursi khusus, sebagian telah ditempati dan sebagian lainnya masih kosong. Yang paling di panggung itu adalah kursi besar tempat Rama duduk. Tidak seperti pada umumnya, kursi di sebelah Rama tidak diduduki istri atau anaknya. Padahal biasanya, permaisuri raja duduk di sebelah raja.
Mantingan tidak dapat menahan rasa penasarannya, lalu bertanya pada sembarang orang di sampingnya, “Saudara, apakah Ketua belum menikah?”
Mendengar pertanyaan Mantingan, murid yang ditanya itu terbatuk-batuk sebelum akhirnya menjawab, “Rama sering menyuruh murid-murid tertua cepat-cepat menikah, tentu saja dirinya telah menikah, Saudara.”
“Lalu, mengapakah yang duduk di samping beliau bukanlah istrinya?”
Murid itu paham, lekas menjelaskan, “Yang duduk di sebelah Ketua adalah orang wakil ketua, sedangkan istri Ketua tidak menjabat kedudukan itu.”
Mantingan mengangguk paham. Iseng-iseng Mantingan berpikir, apakah Rama tidak ingin merayakan hari penting ini istri dan keluarganya?
Mantingan tersenyum kaku mendengar itu, ketua perguruan seperti Rama pun masih sangat menyayangi keluarganya, bahkan sampai rela meninggalkan dari perayaan yang sangat meriah dan menyenangkan dan menggantinya dengan perayaan kecil-kecilan serba sederhana di rumahnya.
Kursi-kursi yang tersisa perlahan mulai terisi, mereka yang mengisi merupakan orang-orang penting dalam perguruan. Tak lama setelah semua kursi terisi, seseorang di atas panggung memberikan tanda bagi para murid untuk diam. Acara yang sesungguhnya baru akan dimulai.
Untuk beberapa saat, pembawa acara-lah yang terus berucap dan mengingatkan bagian-bagian penting selama acara berlangsung. Sampai kemudian Rama yang berbicara pada lautan murid-murid di hadapannya.
__ADS_1
Ada satu bagian dari ucapan Rama yang akan selalu Mantingan ingat. “Kedamaian tidak pantas dinikmati sendiri. Kedamaian diciptakan juga untuk manusia, sedangkan manusia bukan hanya engkau sendiri. Jika diri engkau menemukan kedamaian di puncak gunung, pelajarilah kedamaian itu sungguh-sungguh hingga engkau dapat membawanya turun ke bawah.”
Mantingan sungguh tersentuh semangatnya oleh ucapan-ucapan Rama yang walau tenang itu sungguh membakar semangat. Tidak Mantingan sangka bahwa orang tidak serius seperti Rama dapat bicara serius seperti itu. Kata-kata yang Rama pilih begitu tepat dan pas, hingga benar-benar terserap ke dalam pikiran bawah sadar Mantingan.
Setelah Rama selesai bicara, tetua-tetua lainnya secara bergiliran ikut angkat suara, tiada lelahnya memberi nasihat serta ingatan untuk murid-muridnya, sedang murid-murid saja sudah kelelahan. Mereka mulai memakai tenaga dalam agar bisa berdiri lebih lama lagi. Mantingan yang telah terbiasa berjalan dalam jarak jauh tidak perlu memakai tenaga dalam, ia sama sekali tidak merasakan lelah.
Selesai semua tetua menyampaikan ungkapan kasih sayangnya, acara akan dilanjutkan dengan tumpengan yang dipimpin langsung oleh Rama. Namun sayang, Rama sudah tidak berada di tempatnya.
Orang-orang tidak lagi terkejut dengan hal itu, sudah biasa Ketua Rama memotong kerucut tumpeng yang berbentuk gunung itu bersama keluarganya. Rama juga pernah mengatakan, bahwa ia merasa tidak pantas melakukan itu. Sebagai wakil, ketua kedua yang memimpin tumpengan.
Tentu saja tidak semua murid akan mendapat bagian dari tumpeng itu, akan tetapi makanan lain telah menunggu mereka.
Di pinggir lapangan itu telah tersedia puluhan gerobak yang menyajikan makanan berbeda-beda. Murid-murid yang semulanya berkumpul di lapangan mulai bubar ke pinggir lapangan.
Mantingan sebenarnya diajak beberapa murid untuk sama-sama menikmati hidangan di pinggir lapangan, tapi Mantingan menolak itu dengan alasan tidak bisa berlama-lama di sini. Dengan menghilangnya Rama dari kursinya, Mantingan merasa tidak ada lagi yang harus ia lakukan di sini, walaupun ia yakin masih banyak kemeriahan-kemeriahan lain nantinya.
Mantingan merasa dirinya tidak memberi sumbangsih pada perguruan, ia akan memberi kesempatan bagi murid-murid lainnya yang telah banyak memberi sumbangsih bagi perguruan.
__ADS_1
Dengan melangkah pergi menjauh, Mantingan teringat bahwa dirinya harus meladeni pendekar dari Padepokan Getih Asin sebentar lagi. Mengingat itu membuat Mantingan mengembuskan napas panjang. Dunia, biar bagaimanapun, selalu memiliki dua sisi yang kadang bangun dan kadang tidur; kedamaian dan kekacauan, kebenaran dan kesesatan, hitam dan putih.
Mantingan melesat agar lebih cepat sampai di kediamannya. Ia harus mengambil pedangnya yang ditinggal, karena tidak mungkin menghadiri pesta dengan membawa pedang.