Sang Musafir

Sang Musafir
Rombongan Pemain Wayang Menuju Lembah Balian


__ADS_3

Chitra Anggini mengerutkan dahi dengan pandangan bertanya-tanya. Dapat Mantingan lihat bahwa keterbingungan Chitra Anggini kali ini bukanlah bagian dari sandiwaranya, melainkan sebenar-benarnya bingung dari dalam lubuk benaknya.


“Jadi, dikau bukan penggembala?”


Mantingan tersenyum gugup, kiranya ia tidak menyangka bahwa keterbingungan Chitra Anggini disebabkan oleh masalah yang tidak begitu penting.


“Daku adalah pengembara.” Mantingan menjawab penuh percaya diri.


***


CHITRA Anggini mengangkat alisnya barang sekejap sebelum berbalik badan dan berjalan menghampiri rombongannya. Meski perempuan itu tidak banyak bicara, Mantingan dapat mengetahui apa yang akan dia lakukan.


Terlihat Chitra Anggini berbisik-bisik dengan seorang wanita yang agaknya merupakan pimpinan rombongan. Beberapa kali kedua pasang mata mereka melirik Mantingan yang masih mematung di bawah pohon rindang di tengah lapangan itu, beberapa kali pula mereka menganggukkan kepala. Setelah sesaat kemudian, Chitra Anggini kembali menghadap Mantingan setelah berlarian kecil melewati becekan-becekan yang ada di pinggir lapangan.


“Beliau memberi izin, asalkan dikau berjanji untuk turut serta melindungi rombongan,” ujar Chitra Anggini begitu dirinya tiba di hadapan Mantingan.


“Apa sajakah yang harus kulindungi?”


“Semuanya.” Chitra Anggini menekan perkataannya. “Dikau harus melindungi setiap orang, setiap barang, dan setiap kerbau yang ada di rombongan kami. Pokoknya, semuanya.”


Mantingan berdeham beberapa kali sebelum menganggukkan kepala. “Daku setuju, tetapi berikan daku sedikit waktu untuk memasangkan barang bawaan ke punggung kerbauku. Kalian bisa melanjutkan perjalanan jika mau, daku akan menyusul nanti.”


“Tidak bisa. Ketua kami ingin bercakap-cakap denganmu sebelum melanjutkan perjalanan. Cepatlah sedikit, sebab kami menunggu dikau.”


Mantingan hanya menganggukkan kepalanya sebelum mulai bergerak cepat untuk memasangkan seluruh barang bawaannya ke punggung Munding Caraka. Tentu saja seberapa pun cepat gerakannya saat melakukan pekerjaan itu, tidaklah sampai menyamai kecepatan pendekar. Mantingan masih menahan kekuatan sejatinya, setidaknya untuk saat ini dan beberapa waktu ke depan. Akan menjadi hal yang cukup mengherankan bagi mereka semua untuk menerima kenyataan bahwa seorang pendekar ingin bergabung dengan rombongan orang awam demi alasan keamanan. Bukankah semestinyalah seorang pendekar justru sering disewa untuk menjamin keamanan rombongan besar ketika melewati jalur yang rawan akan penyamun?


Dan meskipun tahu bahwa dirinya akan terbebani dengan rombongan pemain wayang yang diisi penuh oleh wanita-wanita lemah gemulai itu, Mantingan tetap memilih untuk bergabung dengan mereka. Tentu saja hal itu disebabkan oleh Chitra Anggini, yang agaknya sengaja meminta Mantingan untuk bergabung dengan rombongannya meski belum benar-benar diketahui apa tujuan dan maksudnya yang sebenar-benarnya.

__ADS_1


***


“Siapakah nama dikau, wahai pengembara yang menunggang kerbau?”


MANTINGAN tersenyum canggung ketika menghadap pada wanita pemimpin rombongan pemain wayang itu. Betapa tatapan yang diberikan kepadanya ialah tatapan menggoda, meskipun Mantingan tahu betul bahwa wanita cantik itu tidak berniat melakukan hal tersebut sama sekali. Dengan kata lain, tatapan itu merupakan sesuatu yang tidak disengaja, tetapi tetap memberi dampak yang cukup besar kepada Mantingan yang sama sekali tidak terbiasa menghadapi wanita penghibur. Lantas, bagaimanakah jika wanita itu memberikannya tatapan menggoda dengan sengaja dan penuh kesadaran?


“Namaku Kartika. Daku adalah pemimpin dari rombongan ini. Kami bertujuan ke Lembah Balian, apakah dikau yang tidak kuketahui namanya ini benar-benar mengetahui jalan menuju tempat itu?”


Ketika didengarnya wanita itu kembali berkata, Mantingan terbuyar dari lamunannya. Kiranya sedari tadi ia terdiam, sehingga wanita yang rupa-rupanya bernama Kartika itu menyebut namanya terlebih dahulu. Barang tentu dirinya mengira bahwa Mantingan tidak mau menyebutkan namanya pada sembarang orang.


“Namaku Mantingan. Daku masih mengingat jalan menuju Lembah Balian, sehingga daku dapat menuntun kalian yang telah berbaik hati memberikanku tumpangan ini ke tempat itu.”


Kartika tersenyum tipis di atas pedati yang ditumpanginya. “Apakah dikau pernah ke Lembah Balian secara langsung, atau hanya mengetahuinya dari peta saja?”


“Daku pernah pergi ke sana untuk memesan senjata.”


Dalam benaknya, Mantingan mengerutkan dahi. Apakah yang dimaksud Kartika sebagai Chitrapala itu adalah Chitra Anggini?


“Di sini, dikau memiliki kewajiban untuk melindungi segenap isi rombongan. Dikau bisa melihat sendiri, kami semua adalah wanita di sini. Tidak ada laki-laki di rombongan ini, sebelum dikau bergabung dengan kami. Utamakan keselamatan jiwa mereka di atas segala kepentinganmu. Apakah dikau bersedia?”


Tanpa ragu, Mantingan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. “Daku bersedia.”


Selintas lalu, Kartika melirik Mantingan dari atas hingga bawah dengan tatapan penuh arti. Pandangannya sempat terhenti pada sepasang pedang yang terselip di samping pelana kerbau. Kemudian ditatapnya kembali wajah Mantingan. Senyumanya mengembang.


Ketika itu pula jantung Mantingan berdebur kencang bagaikan hendak lepas dari tempatnya. Tatapan dan senyuman wanita itu mengartikan banyak hal, yang betapa pun Mantingan ketahui bahwa jati dirinya telah terungkap!


“Sekilas namamu mirip dengan nama pahlawan yang tersohor di Negeri Taruma.” Kartika menukas sebelum memberi tanda pada rombongannya untuk bergerak. Membiarkan Mantingan yang berkeringat dingin sedemikian rupa!

__ADS_1


***


PADA malam harinya, rombongan pemain wayang berhenti. Kartika memutuskan untuk beristirahat di sebuah tanah lapang yang letaknya tak terlalu jauh dari jalanan. Mereka tidak membangun tenda di atas tanah, melainkan di atas pedati. Hal tersebut dilakukan agar rombongan bisa pergi secepat-cepatnya jika terjadi penyerangan mendadak atau masalah lain yang tiada terduga.


Mantingan pun mau tidak mau beristirahat pula. Meski teramat mudah baginya untuk meneruskan perjalanan, sebab penyamun yang begitu merajalela ketika malam telah tiba itu seolah bukan lagi menjadi ancaman baginya. Namun kepentingannya saat ini ada pada rombongan itu.


Sebelum benar-benar menemui Tapa Balian, Mantingan merasa perlu mengetahui mengapa ada begitu banyak prajurit yang menjaga Lembah Balian. Jikalau nyatanya terjadi sesuatu yang buruk pada Tapa Balian, Mantingan dapat merencanakan penyelamatan jauh lebih awal.


Maka terhadap rombongan pemain wayang itu, Mantingan berniat mengorek keterangan sebanyak-banyaknya.


Begitulah mereka membuat api unggun untuk merebus makanan dan pula menghangatkan tubuh dari dinginnya udara malam. Mantingan sempat bertanya-tanya dalam benaknya tentang mengapa mereka amat berani menyalakan api unggun hingga sedemikian besarnya, sedangkan ancaman penyerangan dari para penyamun seolah dapat datang kapan saja. Namun, Mantingan merasa bahwa dirinya tidak memiliki kewenangan sama sekali untuk memberikan saran dan peringatan pada rombongan mereka. Tugasnya di sini hanya untuk melindungi rombongan, dan memanglah sebaiknya hanya melindungi tanpa ada kelebihan apa pun jua.


Ketika itu, Mantingan tidak bergabung bersama mereka yang duduk mengitari api unggun sambil bercanda ria seolah tanpa beban hidup sama sekali. Dirinya jauh lebih baik menggosok punggung Munding sedaripada duduk bersama perempuan-perempuan itu. Bukan bermaksud merendahkan, sebab niat Mantingan hanyalah untuk menjaga jarak, sehingga tiada tercipta hubungan yang tidak perlu.


Mantingan mengingat bagaimana dirinya bertemu dengan Rara dan Bidadari Sungai Utara. Semua pertemuan itu berlangsung sangat singkat dan tanpa kesengajaan sama sekali, tetapi berbuntut sangat panjang dengan segala permasalahan di dalamnya.


Meski pertemuan dengan dua wanita itu tidak pernah disesalinya, terutama terhadap pertemuannya dengan Bidadari Sungai Utara, Mantingan tetap berusaha menghindari segala pertemuan yang dapat berujung pada pengikraran janji, sebab betapa janjinya dengan Kenanga masih belum dilunasi hingga saat ini.


“Makanlah bersama kami.”


Ketika sedang terbenam dalam ingatannya saat masih bersama Bidadari Sungai Utara, Mantingan mendengar suara Chitra Anggini di belakangnya. Lantas ia berbalik meski tangannya masih pula memegang sebuah sikat gosok yang menempel di punggung Munding Caraka.


___


catatan:


Terima kasih untuk yang terus mendukung Sang Musafir dalam meningkatkan performanya 🙏

__ADS_1


__ADS_2