
MANTINGAN menggeleng pelan. Bukan itu maksudnya. Tidak dapat mengertikah Dara bahwa yang dimaksud untuk tidak melakukan apa pun adalah hal yang bukan itu? Apakah Dara ini hanyalah gadis yang polos tanpa mengerti sesuatupun tentang kedewasaan? Jika memang begitu, maka Mantingan sangat bersyukur.
“Aku hanya bercanda!” Dara tertawa. “Tentu aku tidak akan melakukan hal itu denganmu, memangnya siapa dirimu?”
Kembali Mantingan menggeleng pelan. Dugaannya salah, Dara tetaplah seorang gadis yang sewajarnya. Meskipun Dara adalah orang wajar, Mantingan bukannya senang. Bukankah itu berarti akan berbahaya jika salah satu dari mereka tidak dapat menahan diri?
Jika berpikir tentang itu, maka Mantingan akan terpikirkan oleh petapa-petapa yang telah menghilangkan nafsu buruk dari badan dan pikirannya. Apakah yang mereka lakukan hingga dapat mencopot nafsu-nafsu buruk itu? Pedoman apa yang mereka pegang hingga mereka takut akan dosa?
Sebagai orang awam yang tidak pernah pernah belajar menjadi petapa, barang tentu Mantingan tidak mengetahui cara mereka melepas nafsu buruknya. Apakah di dunia persilatan juga diajarkan cara melepas nafsu buruk? Mantingan berharap pelajaran itu ada di Perguruan Angin Putih. Tentu saja ia menginginkan diri menjadi manusia bebas yang tak terlilit bayang-bayang nafsu buruk, yang bisa menguasainya kapan saja.
“Nantinya engkau bisa tidur di ranjang, aku akan tidur di tempat lain,” kata Dara yang dirinya terlihat sedikit sibuk membereskan ruangan.
“Jangan, aku yang akan tidur di tempat lain,” kata Mantingan, “di mana aku harus menaruh barang-barangku?”
“Ada lemari kosong di situ, engkau bisa simpan barang-barangmu di sana,” sahut Dara. “Bersihkan barangmu itu terlebih dahulu, dan jangan biarkan barang-barang kotor itu menyentuh apa pun di kamar ini sebelum dibersihkan.”
Mantingan tidak peduli dengan ucapan itu. Jika buntelan dan pundi-pundi ini dibersihkan, maka harus mencucinya terlebih dahulu sebelum benar-benar bersih. Tentu itu akan memakan waktu yang tidak sedikit, juga akan lebih banyak ruginya karena buntelan dan kawan-kawannya itu akan kotor lagi setelah Mantingan kembali melanjutkan perjalanan. Maka dari itulah Mantingan langsung saja membuka lemari yang ditunjuk, dan meletakkan buntelannya serta pundi-pundinya di sana. Mantingan juga tidak peduli dengan pikiran Dara terhadapnya, seharusnya gadis itu paham bahwa barang-barang Mantingan akan tetap kotor!
“Sekali lagi aku hanya bercanda, tampangmu sudah masam sekali.” Dara kembali tertawa di sela-sela kegiatannya, tidak ditanggapi Mantingan.
Kini di tangan Mantingan telah ada Kitab Tapak Angin Darah yang akan dibacanya saat ini. Mantingan menemukan sebuah bangku dan meja di dekat tempat tidur. Tempat ini cukup bagus untuk membaca, bagus juga untuk memperoleh ketenangan. Terdapat lentera di atas meja itu, sehingga Mantingan bisa cukup mengenali aksara-aksara yang tertoreh di atas lembar lontar.
Bahkan bukan tidak mungkin, dengan lentera di atasnya, Mantingan dapat memperkirakan kapan kitab ini dibuat dan apakah kitab ini adalah kitab sejati. Dengan melihat rupa guratan aksara saja sudah dapat dilihat kesejatian kitab itu.
Tak sedikit kitab-kitab palsu yang tersebar luas dan membawa malapetaka bagi banyak pendekar. Kitab-kitab palsu ini menyerupai kitab sejati, tetapi isinya jauh berbeda. Kitab-kitab palsu bukan hanya dibuat untuk memperoleh uang lebih banyak saja, tetapi juga untuk mencelakakan pengguna kitab itu. Kitab-kitab palsu biasanya menulis jurus-jurus atau gerakan-gerakan yang berbahaya dilakukan. Dalam persilatan sendiri, gerakan-gerakan yang salah bisa menyebabkan cidera berat atau bahkan kematian.
__ADS_1
Kesejatian kitab dapat dilihat dari guratan aksaranya. Akan berbeda dengan kitab palsu, kitab sejati memiliki aksara yang tegas dan mendalam. Tegas guratannya, dan dalam pemaknaannya. Jika guratan aksara ditulis bengkok-bengkok dan bergelombang, maka dapat dipastikan bahwa itu bukanlah kitab sejati.
Tetapi ada pula kitab-kitab sejati berharga tinggi dengan aksara tidak rapi. Biasanya kitab-kitab sejati itu ditulis oleh pendekar termasyhur yang menulis kitab tanpa banyak peduli akan kerapian aksara.
Mantingan mengambil napas panjang sebelum mulai membuka lembar lontar.
Di sini berada ilmu persilatan. Bukan untuk bertengkar atau meributkan sesuatu yang tidak perlu. Melainkan untuk membela diri, untuk membela kebenaran, untuk mempertahankan kebenaran di dalam kepala
tidaklah nanti seseorang akan berkata bahwa kitab persilatan ini merupakan kebenaran tanpa kesesatan, pastilah ada yang berkata kalau kitab ini merupakan ilmu penuh kesesatan dan kedurjanaan
biarkan saja yang berkata seperti itu, karena manusia memiliki mulut untuk bercakap apapun tetapi bukan berarti semua yang dikatakannya itu adalah kebenaran
“Kau bisa membaca?” Dara tiba-tiba bertanya.
“Bagaimana kalau kitab ini bukanlah kitab sejati?”
“Ini kitab sejati, aksara-aksara ini menunjukkannya sendiri.”
“Kalau begitu, engkau jangan berkata tidak pandai membaca, nyatanya telah bisa engkau bedakan mana kitab sejati dan mana kitab palsu.”
Mantingan tidak menjawab, terpusat kembali pada bacaannya.
Tiada seorang akan melihatnya, tetapi akan ada yang menjawabnya siapa itu Penguasa sebenarnya
sebab hanya ada satu penguasa sejati atas bumi dan langit, Sang Penguasa Tunggal
__ADS_1
Sang Penguasa tak berwujud, tak pula terletak di suatu tempat tertentu, sama seperti pikiran yang tak dapat terlihat tetapi dapat mengubah segala sesuatu menjadi mungkin
Sang Penguasa menurunkan manusia di bumi ialah untuk mensejahterakannya, maka kitab persilatan ini kami buat dengan sedikit keberatan hati
kemampuan manusia tiadalah sebanding dengan kemampuan Sang Penguasa, maka silatnya juga tidak dapat ditandingkan dengan Sang Penguasa
Mantingan buka lembaran selanjutnya.
Tiadalah bisa manusia penguasa menjadi penguasa yang sebenarnya
dan tiada pula manusia penguasa yang bisa menang atas Sang Penguasa
karena Dia telah memberi izin manusia menjadi penguasa, entah itu penguasa yang benar atau penguasa yang salah
maka ilmu silat ini dapat dibaca karena diizinkan oleh-Nya
tiada luput setetes embun jatuh tanpa izin dari-Nya
Itu adalah bagian pendahuluan kitab, dan sekarang Mantingan mulai membaca isi sesungguhnya dari Kitab Tapak Angin Darah itu. Isinya berupa ilmu silat, tetapi Mantingan tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya kitab ini maksudkan. Tiada satu gerakan pun yang harus Mantingan lakukan, karena memang tidak tertulis gerakan apa pun di dalam Kitab Tapak Angin Darah itu.
Mulai Mantingan meragukan kesejatian kitab ini, tetapi setelah dilihatnya lagi maka kitab ini benar-benar kitab sejati. Aksaranya tidak bergelombang dan tegas. Pemaknaannya pun dalam, seolah Mantingan bisa melihat banyak dunia dalam satu aksara saja. Tetapi tiada Mantingan temukan ilmu silat di sini.
Namun kemudian Mantingan sadari, bahwa untuk mempelajari ilmu silat dari kitab ini sangatlah diperlukan kehadiran seorang guru sebagai penafsir. Maka ia tutuplah kitab itu untuk dibaca nanti, dan dengan harapan bisa menemukan Perguruan Angin Putih secepatnya.
Mantingan kembali mendengar suara Dara. “Makan malam sudah siap, engkau harus makan.”
__ADS_1