
Seluruh pendekar di geladak itu menjadi bingung dan buncah. Terlebih lagi ketika terdengar jerit suara kematian kawan-kawan mereka di geladak dasar. Seketika barisan pasukan pemanah terpecah, mengambil ember di tepi geladak untuk memadamkan api.
Di tengah kekacauan yang terjadi, datanglah seorang prajurit pada Perwira Hanung dengan langkah lari yang cepat.
“Panah ... panah ... melenceng!” Prajurit itu berkata dengan napas terputus-putus. Tampak bahwa kelelahan dan kebuncahan telah menjadi penyebabnya.
“Katakan dengan jelas!” Perwira Hanung membentak kasar, membuat prajurit itu secara aneh terlepas dari kegagapannya.
“Panah-panah melenceng dari busur! Dinding kapal jadi sasaran!”
***
MANTINGAN mendengar suara angin berdesir di belakang punggungnya. Segera saja dirinya menghindar dengan melesat ke samping kanan, sebab amat tidak memungkinkan jika dirinya melesat ke depan.
Kini dapat dilihat olehnya kelebatan bayangan dengan pedang berkilauan baru saja melesat melewati tempatnya tadi berdiri. Bayangan itu berkelebat mendekati Cagak Keenam sebelum kembali melesat mengejar Mantingan bersamanya.
Mantingan pula terus berkelebat. Secepat mungkin. Untuk sementara waktu, dirinya akan menghindari pertarungan, sebab yang sedang dilawannya bukan hanya satu pendekar tangguh melainkan dua pendekar tangguh sekaligus.
Namun nyatanya ia bukan hanya dikejar saja, melainkan diserang pula dengan senjata-senjata lempar. Mantingan dapat menebak bahwa Cagak Kelima yang baru saja datang ini memiliki cadangan tenaga dalam yang besar, sebab mampu membuat senjata-senjatanya melaju lebih cepat ketimbang dirinya. Sedang ia sendiri pun tengah bergerak dengan kecepatan yang tidak dapat diperkirakan.
Mantingan mengubah arah lesatannya ke kiri, kemudian ke kanan, kemudian ke kiri lagi, dan ke kiri lagi, dan secara tiada terduga dirinya kembali bergerak ke kiri sebelum ke kanan!
Begitulah Mantingan bergerak dengan berliku-liku guna menghindari senjata-senjata lempar berupa pisau dan jarum terbang yang mengincarnya, sekaligus pula untuk mengecoh kedua musuhnya yang masih saja mengejar dari belakang.
“Bedebah!” Mantingan tidak bisa menahan umpatannya. “Dua begundal itu sama sekali tidak menginginkan pertarungan yang terhormat, mereka hanya ingin membunuhku!”
“He, Mantingan? Engkau bisa juga berkata kasar, ya?”
Mantingan menoleh ke sampingnya. Secara mengejutkan, ia menemukan Rara yang tengah melesat mengimbangi kecepatannya.p0
Mantingan berkata dalam benak, “Mohon jangan sekarang, Rara. Engkau lihatlah, daku sedang sangat terdesak!”
__ADS_1
“Ya, daku lihat.” Di bawah sinaran cahaya purnama bersih, Rara tampak tersenyum manis. Agaknya angin telah meniup mega-mega pergi dari cakrawala berbarengan dengan kedatangannya. “Tapi engkau lihatlah ini, daku membawa pedang.”
Mantingan melebarkan mata ketika disadarinya bahwa Rara menggenggam sebilah pedang di tangannya.
“Rara ... engkau ....”
“Ya. Jika engkau pikir bahwa daku adalah arwah penasaran yang selalu menggentayangi di saat-saat genting, maka engkau salah besar. Tetapi sekarang, daku tidak memiliki waktu untuk menjelaskan segala hal padamu.” Rara melebarkan senyumnya.
Mantingan merasa kepalanya tetiba saja menjadi pening. Apa yang dikatakan Rara itu sama sekali membuat pikirannya kacau balau, penuh oleh pertanyaan yang berdesakan dengan rasa terkejut.
Jika gadis itu bukanlah arwah Rara yang selama ini hanya hidup di dalam pikirannya saja, lalu bagaimanakah mereka dapat berbicara dalam benak? Bagaimanakah dia bisa melayang-layang? Bagaimanakah dia bisa membaca perasaan Mantingan? Dan siapakah dia jika bukan Rara, tetapi amat sangat mirip dengannya?
“Tidak ada waktu untuk mempertanyakan hal-hal semacam itu.” Wanita itu menggelengkan kepala. “Sadarkah bahwa engkau hampir saja tertancap pisau terbang sebab melamun?”
Bagaimanakah kiranya Mantingan dapat berhenti bertanya-tanya jikalau orang yang dicintainya selama ini nyatanya berkemungkinan masih hidup?!
“Nanti daku jelaskan segala-galanya!” katanya setengah membentak. “Engkau harus kembali ke armada sekarang juga. Nyawa Bidadari Sungai Utara benar-benar dalam bahaya saat ini! Sedang untuk dua begundal yang kausebutkan, biar daku yang mengurusnya!”
“Pergilah ke Kapal Katak Merah. Tidak perlu memikirkan apalagi meragukanku, ingatlah bahwa di atas langit masih ada langit.” Rara menarik gagang pedangnya sebelum berbalik melesat ke belakang. Ditinggalkan Rara dengan cara seperti itu, Mantingan tidak memiliki pilihan lain selain melesat secepat-cepatnya ke arah utara, di mana dua armada besar sedang bertempur di sana.
Sekalipun Rara ternyata benar-benar merupakan sosok bayangan di alam pikirannya, yang saat ini muncul sebab dirinya memang sedang mengharapkan suatu keajaiban, maka Mantingan akan tetap memilih untuk bergerak ke armada.
Pertanda yang sedang dibacanya saat ini tidaklah terlalu bagus, yang mana benar sesuai dengan pernyataan Rara, bahwa Bidadari Sungai Utara berada dalam bahaya yang telah sampai pada taraf mengancam jiwa.
Dan andaikata Cagak Keenam dan Cagak Kelima akan tetap mengejarnya, maka ia yakin bahwa pendekar-pendekar ahli di armada gabungan bisa membantunya mengatasi kedua pendekar itu. Mantingan teringat bahwa Ikan Terbang dan Cakrawarman adalah pendekar yang lebih dari ahli.
***
“APA-APAAN?!”
Ikan Terbang terkejut bukan main ketika melihat ratusan panah melesat ke arah kapal-kapal di armadanya. Sungguh di luar dugaannya, sebab panah-panah tersebut berasal dari kapal kawan, yang tidak salah dan tidak bukan ialah Katak Merah.
__ADS_1
Para pengawal Sri Punawarman bergerak cepat mengangkat perisai ke segala penjuru untuk melindungi sang maharaja. Namun beruntunglah, jarak Kelewang Samodra dengan Katak Merah terlalu jauh, sehingga tidak ada satupun panah dari kapal itu menancap di Kelewang Samodra.
Namun kemudian Ikan Terbang memincingkan matanya. Api berkobar gila di Katak Merah, meski tiada satupun kapal lain yang cukup cepat untuk membalas serangannya.
“Cakrawarman bekerja dengan amat sangat cermat.” Sri Maharaja bergumam pelan sambil memandang ke arah yang sama.
Ikan Terbang mengerutkan dahi. Tentu saja merasa tidak mengerti dengan perkataan sang maharaja. “Apakah yang terjadi, Yang Mulia?”
Meskipun terdengar kurang beradab, Ikan Terbang memberanikan diri untuk bertanya. Betapa pun sebagai pemegang puncak kepemimpinan armada Perguruan Angin Putih, dirinya merasa perlu mengetahui segala sesuatu yang terjadi di armadanya.
“Sejak awal, Katak Merah telah menunjukkan gelagat yang tidak wajar,” katanya tenang. “Tidak kentara, tetapi itu telah cukup untuk membuatku curiga. Meskipun begitu, daku tetap membiarkan Katak Merah berlayar bersama armada. Jikalau kapal beserta orang-orang di dalamnya merupakan pengkhianat dan berpihak kepada musuh, maka mereka pasti telah merencanakan sesuatu terhadap armada ini. Kubiarkan rencana mereka seolah akan berjalan lancar, sampai kukirimkan Cakrawarman ke Katak Merah untuk mematahkan rencana mereka.”
“Apakah itu berarti, barang-barang Bidadari Sungai Utara yang ditemukan di kapal Yang Mulia adalah ....”
“Bukan perbuatan siapa pun di pihak kita, tetapi daku tahu bahwa hal seperti ini akan terjadi.” Sri Punawarman lalu menarik napasnya dalam-dalam. “Semoga batara dewa membantunya untuk menemukan Bidadari Sungai Utara.”
Ikan Terbang menganggukkan kepalanya pelan. Sang maharaja telah berharap, yang dengan kata lain bahwa harapan tersebut adalah sesuatu yang penting sekali.
Bidadari Sungai Utara memang penting, jauh-jauh-jauh lebih penting ketimbang sekadar wanita penghibur termasyhur dari negeri asing. Punawarman diyakini tidak pernah mendoakan wanita penghibur manapun.
Hingga tibalah kapal-kapal di armada menyerbu Katak Merah dengan panah-panah berapi mereka. Tanpa ampun membuat kobaran api di kapal itu semakin menggila.
Ribuan anak panah kembali ditembakkan ke arah Katak Merah tanpa ada satupun yang berusaha menghentikannya. Meski hal itu akan membuat Katak Merah karam dengan seketika bersama Bidadari Sungai Utara dan Cakrawarman di dalamnya, tetapi betapa pun karamnya kapal itu akan berjalan amat sangat lambat di mata para pendekar dunia persilatan.
___
catatan:
Episode sebelumnya sudah diedit. Silakan jika ada yang ingin membaca ulang.
__ADS_1