
"Mantingan, andai aku memiliki keberanian sebesar keberanianmu. Andai aku punya kehalusan tutur kata seperti dirimu. Pasti akan aku katakan kata-kata yang indah, yang menyatakan betapa hatiku telah jatuh padamu.”
MANTINGAN melebarkan matanya. Bidadari Sungai Utara berbicara menggunakan bahasa Sanskerta. Gadis itu pasti berpikir Mantingan tidak akan mengerti bahasa Sanskerta, karena memang mereka hampir tidak pernah menggunakan bahasa Sanskerta dalam perbincangan, dan memang jarang yang memahami bahasa Sanskerta. Tetapi sayang seribu sayang. Mantingan bukanlah musafir tanpa bekal ilmu. Orangtuanya mengerti bahasa Sanskerta, maka kemampuan itu diturunkan pada anaknya, ialah Mantingan.
“Hati yang terbelah dua, bolehkah itu? Aku mencintamu, wahai pria di negeri Champa yang senantiasa kurindukan. Tetapi aku pula mencintai orang Javadvipa yang bernama Mantingan. Aku seperti menemukan jodohku di tanah yang asing bagiku. Jodoh yang seakan tiada duanya di dunia ini. Dapatkah seorang menjelma menjadi Mantingan? Sekalipun siluman dapat meniru rupanya, tetapi tidak bisa meniru lembut dan teduh matanya, tidak mampu meniru halusnya kata dalam bertutur, tiada mampu hangat senyumnya laksana mentari menyinari bumi tanpa menuntut imbalan.”
Mantingan masih mematung. Ucapan Bidadari Sungai Utara sungguh membuatnya tak dapat berkata-kata. Pemuda itu masih menunggu kata-kata selanjutnya dari Bidadari Sungai Utara.
“Mantingan, oh, Mantingan. Mengapa kau begitu mempesona? Tahukah dirimu, aku ingin kau pakai cadar dan jubah tebal sama sepertiku, agar tiada wanita lain yang berakhir sama seperti diriku. Malang sungguh malang nasibku. Hai hati yang terbelah dua, bolehkah aku tinggal di sini buat selama-lamanya? Sampai tulang belulang jadi tanah pun tidak mengapa. Asalkan itu bersama Mantingan, pujaan hatiku. Tetapi mengapakah aku merindukan kekasihku di Champa, wahai hati yang terbelah dua? Bisakah aku memilih salah satunya saja?”
Suara Bidadari Sungai Utara tidak lagi terdengar. Mantingan menghela napas panjang sebelum melepas ilmu pendengaran tajam Ia menebak, sepertinya hari-hari ke depannya akan tambah rumit.
***
Pagi harinya, seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara saling berhadapan. Tetapi pandangan Mantingan pada gadis itu tidak lagi sama seperti kemarin, ada sedikit rasa canggung dalam tatapannya itu.
Bidadari Sungai Utara menyadari perubahan di mata indah Mantingan. Sungguh ia rela melakukan apa saja asalkan tatapan Mantingan kembali tenang dan teduh seperti biasanya. “Mantingan, apa kau baik-baik saja?”
__ADS_1
Mantingan menggeleng pelan dan tersenyum. Jawaban seperti itu sama sekali tidak memuaskan Bidadari Sungai Utara, ia yakin ada suatu masalah yang membuat Mantingan seperti ini. Perempuan menatap pemuda itu cemas saat ia mulai khawatir Mantingan telah mendengar dan mengerti ucapannya tadi malam.
“Mantingan, apa dirimu mendengar aku tadi malam?”
Mantingan ingin mengucap sesuatu, tetapi tertahan di lidahnya saja tanpa bisa terucap. Ia tentu tidak bisa menyangkal atau berbohong.
Bidadari Sungai Utara terdiam beberapa lama. Terjadi perang batin di dalam kepalanya. Satu kubu untuk berbohong saja dan mengatakan semalam itu hanya ucap bual, kubu lain untuk mengaku dan mengatakan bahwa malam tadi ia bersungguh-sungguh.
Perang batin yang mengambil waktu lama itu membuat Mantingan lebih dulu mengangkat suara. “Saudari, dalam pertarungan nyata, yang harus menjadi perhatian kita adalah lawan di depan mata. Bahkan itu tidak terkecuali di dalam latihan sekalipun.”
Dengan menarik napas lalu mengembuskannya perlahan, Bidadari Sungai Utara merasa lega. Setidaknya, perasaannya sudah diketahui Mantingan. Sehingga nanti tidak akan ada penyesalan, tidak ada pula rasa yang mengganjal dalam lubuk perasaan terdalam.
“Mantingan, bersiaplah. Aku akan menyerang.” Bidadari Sungai Utara berkata sebelum mempersiapkan kuda-kuda.
Mantingan bersikap seperti kemarin pagi. Berdiri tenang dengan satu tangan di belakang pinggang sedangkan satu tangan lainnya memegang cangkir teh. Sesaat kemudian Mantingan melempar cangkir tehnya ke atas, saat itulah Bidadari Sungai Utara melesat.
Namun kali ini tubuh Bidadari Sungai Utara tidak melesat menuju tempat Mantingan berdiri, gadis muda itu meluncur ke atas, menghampiri cangkir teh. Mantingan tersenyum tipis. Memang tidak ada peraturan mengenai cara bertarung atau cara memenangkan pertarungan. Asalkan cangkir itu tidak berhasil ditangkap Mantingan dan jatuh ke tanah, maka Bidadari Sungai Utara dianggap telah menang, apa pun caranya itu. Termasuk saat ia terbang menuju cangkir teh dengan niat menangkap cangkir itu lebih dulu daripada Mantingan.
__ADS_1
Mantingan menapak ringan ke tanah. Walau tapakan itu pelan, namun sanggup membawa tubuh Mantingan melesat secepat kilat ke udara. Mantingan dan Bidadari Sungai Utara dalam waktu singkat saling berhadapan.
Bidadari Sungai Utara sudah menebak hal ini sejak awal, tidak mungkin Mantingan diam saja, maka dirinya telah menyiapkan serangan lain. Bidadari Sungai Utara mengibaskan tangannya ke udara, dalam sekejap udara yang awalnya tenang-tenang saja mulai bergejolak. Angin bersiur-siur kencang menerpa tubuh Mantingan.
Mantingan tidak mengerti mengapa Bidadari Sungai Utara dapat melakukan hal itu. Setahunya, Bidadari Sungai Utara hanya menguasai air, bukan angin. Apakah gadis muda itu berusaha menyembunyikan kekuatannya yang lain dari Mantingan? Tetapi sebenarnya agak tidak masuk akal jikalau Bidadari Sungai Utara menyembunyikan kekuatan dari Mantingan, nyatanya ia pergunakan kekuatan itu sekarang, itu sama saja mengungkap kekuatan rahasianya.
Namun bagi Mantingan, menghadapi situasi tidak terduga seperti ini dapat diatasi dengan ilmu-ilmu lainnya. Ia menggunakan Ilmu Pengendali Angin—ilmu yang berasal dari Perguruan Angin Putih, ilmu ini memungkinkan penggunanya mengendalikan angin.
Titik kelemahan ilmu ini terletak pada pengendaliannya hanya pada angin saja. Bukan udara yang diam dan tidak bergerak. Dalam situasi ini, Mantingan masih dapat memanfaatkan angin kencang yang dihasilkan Bidadari Sungai Utara agar Ilmu Pengendali Angin dapat bekerja.
Mantingan menghunuskan lengannya yang membentuk serangan tapak. Angin yang semula menerjang dirinya, kini berbalik menyerang Bidadari Sungai Utara. Perempuan muda di depan Mantingan itu tidak menyangka Mantingan memiliki kekuatan yang hampir serupa dengan kekuatannya. Tidak ada pertahanan sama sekali dalam tubuhnya, sehingga angin yang menerjang segera membentur dirinya.
Tubuh Bidadari Sungai Utara terhempas beberapa depa ke belakang, ia melayang bebas di udara, dengan jubah yang gila-gilaan berkibar, cadarnya terlepas akibat gelombang angin yang sangat dahsyat telah menubruk tubuhnya.
Segalanya tampak melambat di mata Mantingan. Ia melirik ke bawah. Jarak mereka adalah lima depa dari atas tanah, mereka melayang di ketinggian yang melebihi cangkir teh itu sendiri. Kini Mantingan melirik ke arah Bidadari Sungai Utara, gadis muda yang sangat lembut itu akan terluka parah jika terjun bebas ke tanah tanpa penghalang.
Mantingan memutar tubuhnya membelakangi tubuh Bidadari Sungai Utara, ia lalu mengirim serangan tapak ke udara kosong. Dengan serangan tapak itu, tubuh Mantingan terdorong menuju ke tempat Bidadari Sungai Utara. Mantingan cepat menangkap pinggang gadis itu lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh sekuat tenaga pada kakinya.
__ADS_1