
BOLA MATA Mantingan bergerak sangat cepat, suatu hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang awam. Dengan gerakan bola mata yang cepat, Mantingan lebih cepat menyisir wajah-wajah orang di dalam pesta. Namun dari semua wajah dan postur tubuh yang Mantingan lihat, tidak satupun yang merujuk pada Bidadari Sungai Utara.
Mantingan semakin khawatir. Ia berkeliling ruangan sekali lagi. Sekali lagi. Dan sekali lagi! Tetap saja, Bidadari Sungai Utara tidak dalam penglihatannya. Mantingan memutuskan untuk langsung keluar penginapan melalui jendela.
Gelap malam menyambutnya. Samar, namun masih terdengar suara hiruk-pikuk di penginapan. Mantingan memijak tanah sekali sebelum dirinya melenting ke atap penginapan. Dari atas sana, jangkauan pandang Mantingan semakin bertambah.
Mantingan bersembunyi di balik bayang-bayang malam. Sinar rembulan yang samar-samar tidak mampu mengungkap keberadaan Mantingan. Menggunakan Ilmu Mata Elang, Mantingan menjelajah hampir ke seluruh penjuru kota. Tak lupa memasang ilmu pendengaran tajam sampai pada ambang batasnya.
“Tolong ....”
Suara itu samar, tetapi Mantingan masih dapat mendengarnya. Bahkan dengan ilmu pendengaran tajam pun suara itu terdengar pelan, menandakan betapa jauhnya asal suara itu. Mantingan tidak menunggu lebih lama walau sebenarnya ia tidak tahu apakah suara yang didengarkannya itu adalah suara perempuan ataukah suara laki-laki.
“Lepaskan ... lepaskan ....”
Mantingan melejit dengan kecepatan melebihi kecepatan kilat. Dengan kecepatan seperti itu, dalam sekejap mata Mantingan sampai di tempat suara itu berasal.
Di sebuah jalan buntu sempit dan gelap itu, Mantingan dapat melihat keberadaan beberapa orang yang mengeluarkan suara tawa di antara suara jeritan. Mantingan tidak dapat melihat mereka dengan jelas sekalipun dibantu Ilmu Mata Elang. Namun, jeritan yang sekarang ia dengar tak lagi diragukan lagi bahwa itu suara Bidadari Sungai Utara!
Dari atap-atap bangunan, Mantingan melompat turun ke bawah. Dengan cepat, ia menghampiri kerumunan orang-orang itu. Mereka menyadari kehadiran Mantingan yang bergerak menuju arah mereka, salah satu dari orang-orang itu berpisah dari kelompoknya dan menghampiri Mantingan.
“Berbalik dan pergi, tempat ini tidak bisa kaulewati!”
“Lalu sedang apa kalian dengan wanita itu?”
“Dia adalah urusan kami. Dan apa yang menjadi urusan kami bukan jadi urusanmu!”
“Aku tidak punya urusan dengan kalian. Tetapi aku memiliki hubungan dengan wanita itu, jadi urusannya adalah urusanku.” Mantingan berniat menotok jalan darah pria di depannya itu, namun pria itu sudah lebih dahulu melancarkan serangan pada Mantingan.
Sebuah tinjuan menyapu udara, tidak mengenai kepala Mantingan yang merupakan sasaran tinju itu. Bagi Mantingan yang merupakan seorang pendekar, menghindari tinjuan dari manusia biasa dapat dilakukan semudah membalikkan telapak tangan.
__ADS_1
Namun kini, Mantingan tidak bisa memanfaatkan ilmu meringankan tubuhnya secara penuh. Racun di dalam tubuhnya masih bereaksi hingga pemuda itu tidak bisa berbuat banyak. Mantingan hanya menunduk untuk menghindari serangan, lalu membalas dengan serangan tapak.
Tentu saja dirinya tidak menggunakan Jurus Tapak Angin Darah yang akan langsung membunuh orang itu dalam sekejap mata. Ia hanya menggunakan serangan tapak sederhana yang biasanya dikuasai semua pendekar.
Tanpa tenaga dalam pun pria itu langsung ambruk ke tanah, mengaduh kesakitan sebelum tak sadarkan diri. Seketika itu juga suara tawa dan jeritan minta tolong berhenti sepenuhnya. Mereka sama-sama menatap Mantingan, terkejut.
“Saudara, apakah dikau memiliki suatu perkara dengan kami di sini?” Salah satu dari mereka memberanikan diri untuk berkata pada Mantingan.
“Aku sudah mencoba cara damai, tetapi kawan kalian menolak. Maka aku tidak perlu lagi meminta maaf pada kalian.”
“Apa maksud ....”
Belum sempat orang itu menyelesaikan perkataannya, tubuhnya terhempas jauh ke belakang. Namun ternyata, bukan hanya ia sendiri yang mengalami hal yang sama. Semua kawan-kawannya yang berjumlah lima orang itu terhempas ke belakang pula. Berdebam keras. Membentur dinding. Terkapar tanpa kesadaran.
Kecuali satu yang tidak ikut melayang. Dialah seorang wanita yang tadinya menjadi tawanan mereka, Bidadari Sungai Utara. Gadis itu meringsut mundur dengan takut ketika melihat Mantingan. Tentu Mantingan lekas menghampiri. Bidadari Sungai Utara menolak keras, menyuruh Mantingan menjauh darinya.
“Jauh, MENJAUH!”
“Dasar manusia setan! Pergi jauh-jauh DARIKU!”
Langkah Bidadari Sungai Utara terhenti saat punggungnya menyentuh dinding. Tidak ada jalan lagi, ia mulai menangis.
“Kalau kau mendekat, aku tak akan segan membunuh diriku sendiri!”
Mantingan berhenti dan menatap Bidadari Sungai Utara. Sedih melihat mata gadis itu yang berlinang terbiaskan sinar rembulan. Mantingan mengembuskan napas panjang.
“Saudari, ini aku, Mantingan.”
Tiba-tiba, Bidadari Sungai Utara diam membeku. “Itu benar dirimu, Mantingan?”
__ADS_1
Mantingan kembali berjalan mendekatinya. “Ya. Ini aku.”
Bidadari Sungai Utara diam membeku. Lalu tanpa diduga-duga, ia mengeluarkan suara keras. “Jika itu kau, maka aku lebih baik dijamah mereka ketimbang harus bertatapan denganmu!"
Mantingan berhenti melangkah. Raut wajahnya berubah. Jantungnya lambat berdegup. Betapa tidak menyana ucapan gadis itu. Perasaan Mantingan seolah hancur berkeping-keping. Tanpa bisa berkata-kata lagi, pemuda itu mematung.
“Niat mereka jelas terhadapku. Jika niat mereka buruk, maka mereka menunjukkan itu apa adanya. Tapi engkau..!” Bidadari Sungai Utara menggeram keras. “Kau menyembunyikan niatmu yang busuk itu di balik selimut kemunafikan! Tidak sudi aku bercakap-cakap lagi denganmu!”
Bidadari Sungai Utara berjalan melewati Mantingan yang masih tercenung. Hanya telinga Mantingan saja yang masih bisa menangkap suara langkahnya menjauh. Terus menjauh hingga akhirnya menghilang. Di dalam kegelapan itu, dada dan leher Mantingan kembali terasa nyeri. Namun rasa nyeri di dadanya harus ditambah kesedihan yang teramat-amat dalam.
“Kau sudah melakukan yang terbaik, tenangkan dirimu Mantingan.”
Rara berjalan ke hadapan Mantingan. Dengan tubuh bercahaya. Ia menepuk punggung Mantingan. Tersenyum sedih.
“Lalu apa lagi yang harus aku lakukan, Rara?”
“Biarkan saja dirinya berjalan sesuka hati, tetapi jangan sampai melepaskannya.”
“Bagaimana aku dapat melakukan itu sedang rasa hormatku padanya telah hancur berkeping-keping, Rara?”
“Jangan melibatkan perasaan untuk saat ini. Bidadari Sungai Utara sudah ditakdirkan untuk melatihmu walau tidak secara langsung.”
“Manfaat apakah yang bisa aku dapat bersamanya?”
“Kamu akan mengerti suatu hari nanti.”
Rara berjalan menjauh tanpa berusaha dihentikan Mantingan. Pemuda itu masih terus mematung di tengah gelapnya malam. Tak terelakan Bidadari Sungai Utara berhasil melukai perasaannya. Sesakit-sakitnya, seolah tidak ada yang lebih sakit daripada itu.
___
__ADS_1
Follow IG: @westreversed