
“Dikau tidak lihat penampilannya itu? Rambut digelung ke atas, pakaian hitam-hitam macam lelaki, mengenakan topeng penari pula. Apa namanya jika bukan gadis wayang?”
“Ah, mungkin penampilannya itulah yang membuat empat pendekar itu berani mengajaknya bermalam! Gadis wayang manakah yang tidak mau diajak bermalam jika disodorkan keping uang?”
“Memang dasar betina, selalu berpenampilan menggoda tetapi marah jika disinggung kehormatannya. Merepotkan lelaki saja!”
“Kurasa pendekar yang telah menolongnya itu seharusnya tidak bertindak sedemikian rupa, biarkan saja gadis wayang itu makan imbasnya sendiri.”
“Ya, betul! Seharusnya dia membiarkan betina itu makan imbasnya sendirian. Sebab dini hari tadi kudengar bahwa jaringan bawah tanah mulai mencari pendekar muda yang membunuh empat anggotanya itu secara diam-diam dan penuh kerahasiaan. Tetapi melihat jasad empat pendekar yang terbunuh di sini, jadilah mereka mengetahui bahwa orang yang berbuat sedemikan itu hanya menggunakan ilmu tangan kosong meski itu bukanlah jurus andalannya! Bahkan pula, empat pedang yang mereka bawa itu telah patah menjadi dua hanya karena beradu dengan tangan kosong!”
“Sungguh kejadian itu sebenarnya sangat sukar dipercaya. Andaikata pendekar-pendekar jaringan bawah tanah tidak datang, daku akan menyangka peristiwa itu sebagai sandiwara pendekar yang ingin cari perhatian semata.”
“Ada yang lebih mengejutkan lagi, pedang yang dipakai empat pendekar pembuat onar itu sebenarnya adalah pedang yang terbuat dari permata intan ....”
“Itu artinya ....”
“Ya, mereka berasal dari Kelompok Pedang Intan!”
Mantingan tiba-tiba saja melebarkan matanya. Bukan karena perkataan dua pendekar itu yang mengejutkan, melainkan karena pendengarannya menangkap dua kelebatan suara desing logam yang melaju dengan kecepatan teramat sangat tinggi!
“Lebih baik dikau kecilkan suaramu, sebab jika sampai ... AKHHH!”
Setelah suara teriakan, yang kemudian terdengar adalah suara berdebam terulang sebanyak dua kali. Percakapan antara dua juru masak itu berhenti seketika. Mantingan tahu, jelas ia mengetahuinya, bahwa dua pisau terbang menancap pada leher dua juru masak yang sedang memberlangsungkan percakapan itu!
Namun, Mantingan bergeming saja. Ia harus tetap harus diam bergeming. Jarak dari tempatnya berada terpaut cukup jauh dari ruang masak. Mustahil jika telinga orang awam mampu mendengar suara-suara itu. Sedangkan jelas-jelas saat ini dirinya sedang menyamar menjadi orang awam yang tidak pandai memainkan ilmu silat sama sekali.
Maka Mantingan tetap diam saja di tempatnya dan memang memaksakan tubuh untuk tidak mengeluarkan reaksi apa pun. Jika gelagatnya sampai diketahui oleh pendekar yang menyerang dua juru masak itu, maka boleh jadi tamat sudah riwayatnya di sini.
Mantingan kembali menyeruput teh sebelum menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku.
Ketika itulah seisi dapur mulai ramai oleh jerit-jerit ketakutan.
***
__ADS_1
SEPEMINUMAN teh telah berlalu, seorang yang tampak seperti pelayan kedai menghampiri Mantingan.
“Tuan, kami khawatir tidak dapat menyediakan sarapan untuk Tuan pagi ini. Ada suatu peristiwa tak terduga yang membuat seluruh bahan masakan di dapur jadi tidak bisa dimasak. Kami menyarankan Tuan untuk berkunjung ke kedai di sebelah timur pelabuhan sana. Karena Tuan telah lama menunggu di sini, kami akan mengganti rugi dengan hidangan di kedai itu senilai empat keping emas.”
Mantingan menggelengkan kepalanya dan mengatakan bahwa ia tidak mau menerima uang ganti rugi sebab memang tidak ada hal yang merugikannya di sini.
Namun, Mantingan memahami mengapa penginapan itu mengganti rugi untuk urusan yang dirasa terlalu remeh. Bagi beberapa orang, terutamanya di kalangan saudagar, waktu adalah emas. Jika waktu mereka terbuang karena terlalu lama menunggu makanan yang dipesan, maka mereka merasa berhak untuk menerima uang ganti rugi.
Mantingan bukanlah saudagar. Dia hanya pendekar pengembara yang sebenarnya hampir tidak membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Ia tidak terlalu dikejar oleh waktu. Dan baginya, waktu lebih berharga daripada sekadar keping-keping emas. Bukankah waktu adalah sesuatu yang tidak dapat dibeli dengan sumber daya apa pun di dunia ini?
Tetapi Mantingan sedikit menaruh sesal pada keputusannya yang tidak mau menerima uang ganti rugi itu meski tidak dapat lagi mengubah keputusannya. Bahkan dalam penyamarannya sekalipun, ia tidak dapat menahan sikap rendah hati.
Pelayan itu tetap menawarkannya uang ganti rugi sebanyak beberapa kali, tetapi telah tentu semuanya ditolak oleh Mantingan. Sebelum memutuskan pergi, pelayan itu tersenyum dan berterimakasih pada Mantingan.
Ketika Mantingan baru saja beranjak berdiri dari bangkunya, matanya menangkap sosok orang yang telah ia tunggu-tunggu sedari tadi.
Terlepas dari anak tangga, perempuan muda itu berbelok ke arah kedai di sudut aula. Dua orang yang tampak seperti pengawalnya mengikuti di belakang. Mata gadis itu hanya melirik Mantingan sekilas sebelum kembali membuang pandang.
Melihat itu, Mantingan hanya bisa tersenyum canggung sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Tetapi tingkah Dara itu justru membuatnya senang, sebab itu mengartikan bahwa penyamarannya sudah sangat bagus.
Dara meliriknya untuk yang kedua kali. Dan tanpa menghentikan langkah, dia membalas, “Wahai, orang asing.”
Mantingan terbatuk pelan. Benarkah Dara sungguh tidak mengenal bahkan dengan suaranya?
“Sudah tiga bulan lamanya kita tidak bersua, Nyai.” Mantingan kembali berkata, seketika itu pula Dara menghentikan langkah dan menatapnya lamat-lamat.
“Dikaukah itu?”
Mantingan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Katanya, kedai ini tidak dapat menyediakan hidangan diakibatkan oleh suatu peristiwa. Jika Nyai berkenan, marilah daku antarkan menuju kedai lain.”
Dara terdiam sejenak sebelum akhirnya dapat memahami keadaan. “Daku menaruh rasa senang atas ajakanmu itu. Jika itu tidak merepotkanmu, daku akan terima.”
“Sama sekali tidak merepotkan, Nyai.” Mantingan melebarkan senyuman.
__ADS_1
***
MANTINGAN membawa Dara ke dalam kedai tuak setelah memberikannya sebuah topeng pemain wayang yang ia beli di tepi jalan. Gadis itu tentu menjadi heran dan bahkan sedikit menaruh sangka bahwa Mantingan telah menjadi pecinta tuak dan gadis penari. Namun setelah mereka sampai di dalam kedai itu, barulah ia menyadari bahwa tindakan Mantingan sudah sangat tepat.
“Adakah ruangan pribadi yang kalian sewakan di sini?” Mantingan mengeluarkan beberapa keping emas di atas meja pemesanan.
Pelayan yang berdiri di belakang meja itu melihat Mantingan dari atas sampai bawah sebelum beralih pandang menuju Dara. Tidak dapat melihat wajah Dara yang tertutup topeng, orang itu hanya mengangkat alisnya tanpa menaruh rasa peduli.
“Kami masih memiliki beberapa ruangan pribadi. Satu ruangan dihargai sepuluh keping emas untuk satu malam, hanya boleh diisi empat orang. Kalian sudah berempat, jika ingin menambah orang lainnya harus membayar lima puluh keping perak.”
Mantingan melirik Dara di sebelahnya. Gadis itu menganggukkan kepala, seraya berkata, “Hanya kami berdua saja yang masuk.”
Mantingan mengambil beberapa keping emas di meja itu, sehingga yang tersisa di sana tinggallah sepuluh keping emas.
“Kalian ingin pesan tuak jenis apa untuk diantarkan ke sana?”
“Tuak murahan dari Negeri Atap Langit, apakah kalian punya?” Mantingan menjawab cepat.
Orang itu mengangguk tanpa memasang raut wajah apa pun. “Kami memiliki arak putih yang terkenal seantero Negeri Atap Langit. Boleh dikata, minuman itu adalah arak rakyat Wangsa Jin. Harga satu cangkirnya adalah sepuluh keping perak, sedang untuk satu kendinya berharga sekeping emas—bisa untuk lima belas cangkir jika tidak tumpah-ruah. Berapa banyak yang ingin kaubeli?”
“Satu kendi saja.” Mantingan mengeluarkan sekeping emas. “Antarkan kami berdua dan arak itu ke ruangan yang kami pesan.”
Pelayan itu menerima uang Mantingan sebelum menganggukkan kepala.
___
catatan:
Arak putih memiliki nama lain, yaitu Bai Jiu yang merujuk pada nama seseorang yang memperkenalkan arak tersebut. Namun, orang itu hidup di tahun 600-an, sedang latar cerita kita adalah tahun 400.
Arak putih masih dalam pengembangan pada masa Dinasti Jin.
Penulis mengandaikan bahwa arak itu telah cukup populer di Negeri Atap Langit, pada terutamanya adalah Dinasti Jin.
__ADS_1