
NAMUN, bukankah Mantingan sudah berkata untuk terus berjalan? Gadis itu pernah berucap bahwa semua keputusan hidupnya ada di tangan Mantingan. Walaupun Mantingan menolaknya, tetap saja Bidadari Sungai Utara menganggap jiwa raganya adalah milik Mantingan, dalam artinya semua perintah Mantingan adalah harga mati baginya.
Bidadari Sungai Utara melangkahkan kaki, satu langkah dengan terpaksa. Pikirannya tertuju pada perintah Mantingan, hanya perintah Mantingan. Mengambil langkah kedua, masih untuk Mantingan sahaja. Langkah ketiga, langkah keempat, langkah kelima, berjalan begitu saja tanpa terasa. Tanpa ketakutan lagi. Kini bukan lagi hanya untuk Mantingan, tetapi juga untuk dirinya sendiri.
Bidadari Sungai Utara tersenyum dan bergumam pada dirinya sendiri, “Ini tidak terlalu buruk."
Mantingan yang sedang memasang ilmu pendengaran tajam jadi mendengar suara gumaman Bidadari Sungai Utara, berlainan niatnya yang hanya untuk berwaspada pada lingkungan sekitar. Tersenyum semakin lebar, semakin hangat, laksana mentari yang bersinar tanpa menuntut balasan.
***
MANTINGAN MENDIRIKAN tenda di dalam sebuah lembah yang tidak terlalu dalam. Pada atap-atap tenda itu, Mantingan meletakkan banyak dedaunan untuk menyamarkan keberadaan tenda. Dedaunan itu tentu tidak langsung ia timbun begitu saja, telah Mantingan buat suatu jaring dari tali-temali yang menjadi tempat dedaunan tersebut, sehingga tidak mudah terbang lepas tatkala angin meniup.
“Aku tinggalkan dendeng di dalamnya kalau kau lapar,” kata Mantingan, “dan beberapa kitab kalau kau bosan.”
Bidadari Sungai Utara tertawa gugup tanpa bisa menjawab.
“Aku tahu keadaan ini memang tidak enak, tapi coba dinikmati saja. Aku akan segera kembali.” Mantingan kembali berkata, tersenyum canggung.
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara mengangguk pelan dan tersenyum. “Baiklah, tetap berhati-hati.”
Mantingan mengangguk sekali. Tanpa berlama-lama lagi, dirinya melesat cepat meninggalkan Bidadari Sungai Utara bersama tendanya di lembah kecil itu.
Tak lama setelah tadi Bidadari Sungai Utara dapat berjalan dengan ringan menyeberangi jalan dan mereka kembali masuk ke dalam hutan, Mantingan menemukan tanda-tanda keberadaan kota tak jauh di depannya. Maka dari itu, ia mencari tempat yang aman untuk Bidadari Sungai Utara bersembunyi, sedangkan dirinya pergi ke dalam kota untuk mengisi ulang perbekalan. Sesuai dengan kesepakatan awal, Bidadari Sungai Utara rela ditinggalkan demi keamanan dirinya sendiri.
***
MANTINGAN SAMPAI di gerbang kota. Ia melihat peradaban di depannya, sudah lama ia tidak melihat peradaban seperti ini. Pengunjung yang datang ke kota tergolong ramai. Banyak pejalan kaki yang berlalu-lalang di sekitar gerbang, banyak pula rombongan pedagang yang datang atau pergi.
Mantingan menyamar sebagai pendekar seperti pada umumnya. Mantingan sengaja tidak melepas capingnya saat mencoba masuk ke dalam kota guna menambah kesan ‘dingin' dalam dirinya. Agar orang-orang atau pendekar muda yang melihatnya akan berpikir dua kali sebelum mencari masalah dengannya. Mantingan juga mencabut sehelai daun buluh, yang pada ujung tangkainya ia masukan ke dalam mulut, menambah kesan angkuh dan dingin.
Dan alasan mengapa Mantingan berusaha mengubah citra dirinya adalah karena wajah dan namanya sudah cukup terkenal di telaga dunia persilatan. Nama Mantingan sebagai salah satu pendekar penentang aliran hitam pastinya sudah pernah terdengar sampai ke kota ini. Dan entah mengapa wajah Mantingan dapat tersebar pula. Apakah ada yang melukisnya? Pasalnya, Pendekar Cakar Emas yang ditemui olehnya di Kedai Purnama Merah dapat mengenalinya hanya karena bersitatap wajah.
Maka dari itu pula sebelum masuk ke dalam kota, Mantingan mengganti pakaiannya. Ia memakai pakaian paling bagus pemberian Kiai Guru Kedai yang memang sengaja ia simpan untuk suatu keadaan yang penting seperti saat ini. Maka orang yang pernah mengenali Mantingan dulu, mungkin akan sulit mengenali Mantingan yang saat ini.
Mantingan melangkah ke depan untuk memasuki kota melalui gerbang. Namun sebelum pengunjung dari luar kota bisa masuk, mereka harus melewati pemeriksaan oleh petugas penjaga gerbang kota terlebih dahulu, tidak terkecuali Mantingan.
__ADS_1
Tanda pengenalnya diperiksa petugas dengan seksama, memastikan keasliannya. Lalu isi bundelan Mantingan diperiksa. Tentu saja Mantingan telah lebih dahulu meninggalkan kitab-kitab persilatan yang berharga di dalam tenda bersama bidadari rawa. Maka aman dan mudahlah Mantingan melewati petugas. Hanya saja sebelum benar-benar masuk ke dalam kota, petugas memberi Mantingan peringatan.
“Mohon tuan Pendekar tidak membawa kekacauan di dalam kota, kami pasti akan mengurusnya dan itu tidak berarti tugas berat bagi kami, tetapi tetap saja buang-buang waktu dan tenaga jika harus memusnahkanmu.”
Mantingan menahan dirinya untuk tidak tertawa. Alasannya sudah jelas, tetapi Mantingan enggan melontarkannya. Maka saat itu Mantingan hanya bisa mengangguk patuh, bagai anak kecil yang dinasihati ibunya. Biarlah apa pun anggapannya yang diberikan petugas itu pada Mantingan, tetapi Mantingan masih merasa perlu terus menyamar.
“Baiklah, aku menaruh rasa percaya pada pendekar patuh seperti dikau. Sekarang aku izinkan kau pergi.”
Mantingan mengangguk patuh sekali lagi, tetapi kali ini ia membuka mulutnya untuk bertanya. “Prajurit yang Gagah, jika daku boleh mengetahui, di wilayah manakah kota indah yang ada di depan mataku saat ini?”
Petugas itu dengan santai menekan hulu pedang dengan tangan kirinya dan menyunggingkan senyum penuh kebanggaan. “Apakah dikau tidak mengetahuinya? Sungguh disayangkan seorang pendekar seperti dirimu tidak tahu nama tempat. Tetapi biarlah, memang saat ini banyak berkeliaran pendekar muda yang seperti dikau. Kini aku akan memberitahumu, asalkan kau akan selalu mengingat namaku ini. Ingatlah wahai pendekar asing, namaku adalah Wijavya.”
Mantingan tertawa, tetapi dalam hatinya. Sungguh petugas dengan nama aneh ini senang bertele-tele dan sombong. Namun biarlah ditertawakan dalam benak saja. Dan biarlah juga Mantingan mengambil perannya sebagai pendekar muda yang kurang pengalaman.
“Sesungguhnya memang daku tidak mengetahui banyak hal, Prajurit yang Gagah. Akan selalu aku ingat namamu walau engkau tidak memberitahuku sekalipun.” Mantingan menunduk sedikit saat ia mengatakan itu.
Petugas yang memiliki nama aneh itu semakin tersenyum bangga. “Tentu prajurit seperti aku ini tidak akan mengingkari janji jika engkau sendiri tidak mengingkari janji. Baiklah akan kuberitahu kota di hadapanmu saat ini.” Wijawya menghamparkan tangan dan pandangannya pada gerbang dan tembok kota. “Sesungguhnya wahai pendekar asing yang tidak kukenal, engkau tengah berada di wilayah Tanjung Kalapa. Kota ini adalah kota terluar di wilayah Tanjung Kalapa, segala bentuk perbekalan tempur seperti senjata dan makanan akan ditampung ke kota ini sebelum akhirnya diteruskan ke medan pertempuran.”
__ADS_1
Mantingan mengernyitkan dahi, di Tanjung Kalapa pun terjadi peperangan? Yang pasti peperangan itu bukanlah peperangan kecil. Mungkin saja peperangan telah meraup hampir seluruh bagian Tanjung Kalapa, sehingga kota terluar pun menjadi kota penyortir perbekalan.