
“Keluarkanlah dia!” RAJA berteriak lantang, membuat beberapa pendekar berpakaian serba hitam itu beranjak ke suatu ruangan.
Mantingan menatap dengan curiga sekaligus cemas. Apakah atau siapakah kiranya yang hendak dikeluarkan dari dalam ruangan itu?
Beberapa pendekar suruhan itu kembali dengan menyeret paksa seorang pria yang tampak amat ringkih. Tangannya diikat dengan rantai yang menyambung ke tangan orang lain di belakangnya. Mulutnya dibebat.
“Paman Balian ....” Mantingan mendesis. Perasaannya kembali terguncang. Setelah Kiai Guru Kedai gugur, mestikah pula Tapa Balian mengalami nasib yang sama?
Mengikuti di belakang pria parobaya itu adalah cucunya, Delima, yang pula dirantai tangannya dan dibebat mulutnya. Namun, rantai tersebut rupa-rupanya tidak terhenti hanya padanya dan masih menyambung ke belakang. Itu berarti, ada orang lain yang dijadikan tawanan!
Jantung Mantingan kembali berdegup cepat. Mungkinkah itu Dara? Tidak mungkin! Sang raja tidak akan mungkin berani membunuh wanita yang telah lama diidam-idamkannya, terbukti ketika dirinya tak sampai bersungguh-sungguh memberikan gadis itu pada pemenang sayembara.
Mungkinkah Chitra Anggini?
Kebenaran akhirnya terungkap ketika tawanan terakhir dibawa keluar dari ruangan tersebut. Kebenaran yang sayangnya amat sangat menyakitkan yang bila ditambah dengan kebenaran bahwa Kiai Guru Kedai telah mati, maka penderitaan Mantingan bagaikan tidak lagi dapat tertandingi oleh penderitaan-penderitaan apa pun di jagat bumi ini.
Betapa Mantingan melihat Bidadari Sungai Utara!
“Sekarang, apakah kiranya dikau masih dapat berkata bahwa keadaan pikiranmu tidak akan kacau, wahai Pahlawan Man?!” Sang Raja membentak dengan amat keras, seluruh ruangan bergetar.
Namun nyatanya, tidak hanya seantero ruangan saja yang bergetar, melainkan pula sekujur Mantingan yang bahkan lebih hebat lagi bergetarnya!
__ADS_1
Bidadari Sungai Utara, gadis yang selalu Mantingan kenal sebagai Sasmita-nya itu, kini mengangkat kepala hanya untuk menampakkan matanya yang berkantung dan hilang harapan kepada Mantingan. Namun demi bisa melihat pujaan hatinya, Bidadari Sungai Utara tersenyum amat tipis, sangat tipis, begitu tipis.
Semestinya dengan rupa wajah Mantingan yang berubah banyak setelah menggunakan alat sihir yang diberikan Puan Kekelaman padanya, Bidadari Sungai Utara tidak akan bisa mengenalinya sama sekali. Tetapi bila memang tidak mengenali pemuda itu, mengapakah dia merasa harus tersenyum kepadanya?
Suasana hati Mantingan semakin berguncang. Guncangan yang bahkan mampu meruntuhkan gunung tertinggi sekalipun bila dilihatnya Bidadari Sungai Utara dijadikan tawanan oleh sang raja. Ditambah dengan guncangan akibat kematian gurunya yang bahkan belum usai, tidak dapat terbayangkan lagi bagaimana keadaan kejiwaan Mantingan saat ini.
Siapakah yang bersedia menggantikan keadaannya meski untuk sekejap saja?
“Tenang saja, Pahlawan Man, dikau masih bisa melepaskan mereka semua.” Sang raja mengibaskan tangannya pada seorang prajurit, maka segeralah datang sebuah kursi untuknya. Agaknya, pembicaraan akan berlangsung cukup panjang. “Wahai, apakah dikau hendak duduk pula?”
Mantingan tidak mengangguk, tetapi tidak pula menggeleng. Bagaimanakah ia dapat menentukan pilihan atas urusan remeh-temeh dengan keadaannya saat ini?
“Baiklah, ini mudah saja.” Sang raja menepuk tangannya sekali. “Sebelumnya, maafkan daku tentang kepala gurumu itu. Sebelumnya, kami hanya berniat menangkapnya semenjak Balian tidak mampu membuka segel Sepasang Pedang Rembulan. Hanya dia yang dapat membukanya dengan jurus Tapak Angin Darah.”
“Jurus yang dikuasai oleh gurumu jauh lebih murni ketimbang seluruh anggota Perguruan Angin Putih, tetapi dia menolak mengajarkannya pada siapa pun selain muridnya sendiri kelak di kemudian hari.
“Saat kami berusaha menangkapnya hidup-hidup di Champa, Kedai tidak mau mengambil jalan damai. Daku harus merelakan lebih dari seratus pendekar terbaik yang kumiliki hanya untuk tumbang di tangannya!”
Kembali ruangan itu bergetar hebat ketika sang raja berteriak dengan amarah yang sungguh memuncak.
“Daku melupakan rencana menangkap Kedai hidup-hidup dan membunuhnya secepat mungkin. Jika dia dibiarkan hidup, semua rencana kami dapat terancam. Lagi pula, bukankah kau juga menguasai Tapak Angin Darah yang dikuasai Kedai?”
__ADS_1
Mantingan merapatkan rahangnya. Ia memang menyadari bahwa ada yang berbeda dengan Jurus Tapak Angin Darah yang diajarkan Kiai Guru Kedai dengan yang ada di kitab ilmu milik Perguruan Angin Putih, tetapi sungguh tidak pernah disangkanya bahwa perbedaan itu dapat berakibat besar. Jadi, memang bukan tanpa alasan gurunya enggan mengajarkan ilmu tersebut pada orang lain selain muridnya kelak.
“Sekarang mestinya engkau mengetahui arah pembicaraan ini, bukan?” Raja Koying tersenyum lebar sambil menimang-nimang kotak kayu berisi Sepasang Pedang Rembulan.
Maka saat itu pula Mantingan membuka suara sekadar untuk mengucapkan sepatah kalimat, “Apa yang akan kau lakukan dengan pedang itu?”
Mendengar pertanyaan tersebut, sang raja tertawa keras. “Bagaimanakah kiranya kau tidak mengetahui jawaban atas pertanyaan konyol itu, wahai Pemangku Langit?! Bukankah telah jelas apa yang akan daku lakukan sebagai raja setelah kudapatkan sepasang pusaka sakti itu? Daku akan meluaskan kekuasaan, begitu luasnya hingga bagai tidak memiliki batas. Akan kulahap habis semua wilayah Javadvipa dan semenanjung. Jika bisa, hingga Champa dan Fun-an! Dengan pedang itu, daku akan menjadi penguasa tak terbandingi seantero Dwipantara.”
Tawa raja itu semakin tidak terkendali. Dia sampai harus menahan perkataannya sampai puas tawanya.
“Namun sebelum kugunakan Sepasang Pedang Rembulan untuk meluaskan kekuasaan, terlebih dahulu diriku mesti memenggal pemberontak-pemberontak yang hendak memakariku itu, pula kawan-kawanmu ini jika dikau memang tidak menghendaki jalan damai.” Sang raja berkata setelah dirinya kembali tenang.
Mantingan tetap diam.
“Keluarkan Tapak Angin Darah untuk membuka segel ini, maka segala permasalahan dapat kuanggap selesai. Tidak hanya itu, dikau akan kuberikan tempat bagus dalam pemerintahan di kerajaanku. Dan jika dikau menghendaki Putri Pham Lien bersamamu, maka bukan hal yang sulit bagiku menghadapi Champa dengan sepasang pedang itu.”
Mantingan bergeming di tempatnya. Tidak bergerak sedikit juga. Bahkan bola matanya pun tiada bergerak sama sekali.
Melihat keterdiaman Mantingan, Raja Koying menghela napas panjang. “Duhai, sayang sekali daku bukannya sekadar memberi penawaran yang bisa dikau tolak begitu saja, Pahlawan Man.”
Selesai mengatakan itu, salah seorang dari pendekar-pendekar berpakaian hitam mendekati Tapa Balian dengan kelewang yang telah lepas dari sangkarnya. Tak lama kemudian, bilah kelewang itu telah menempel di leher sang penempa besi paling handal di daerah Balian itu.
__ADS_1
“Di Pertempuran Laut Javadvipa, dikau kehilangan lengan kanan. Bagi seorang pendekar berpedang, tentunya kehilangan lengan kanan berarti kehilangan segala-galanya. Namun, dengan sepenuh jiwa Tapa Balian menciptakan Golek Jiwa untukmu sampai-sampai dia sempat menolak tawaran bekerja di istana. Jika dikau masih mengetahui cara membalas budi, pastinya tak akan sampai hati dikau membiarkannya terbunuh."