Sang Musafir

Sang Musafir
Latih Tanding di Atap Rumah


__ADS_3

SUATU SAAT ketika Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tak sengaja bertemu di anak tangga, yang lelaki meminta yang perempuan untuk naik ke atas. Masuk ke kamarnya. Bidadari Sungai Utara menurutinya saja.


Sesampainya di kamar, Mantingan menutup pintu dan meminta gadis itu untuk duduk di belakang meja bersamanya. Kembali Bidadari Sungai Utara kembali menuruti Mantingan tanpa perasaan curiga sedikitpun.


Mantingan mengambil sebuah keropak lontar di dalam rak penyimpanan lontar. Keropak itu dibuka, dan dikeluarkanlah segulung lontar. Gulungan lontar itu kemudian dibentangkan di atas meja. Terpampanglah segala sesuatu yang terukir di atas daun lontar-lontar kering itu.


“Ini adalah rencana utama yang telah kita canangkan, Saudari Sasmita. Mohonlah untuk dibaca ulang, karena tidak lama lagi rencana ini akan kita laksanakan.”


Bidadari Sungai Utara meraih gulungan lontar itu dan mulai membacanya. Mantingan juga mengeluarkan gulungan-gulungan lainnya dari dalam keropak.


“Ini adalah denah balai desa yang kudapatkan berdasarkan keterangan seorang penduduk desa.”


Bidadari Sungai Utara beralih menuju lembar-lembar lontar bergambar garis-garis tersebut. “Balai desa” tertulis di bagian atas lontar. Ada beberapa keterangan-keterangan lainnya di bagian samping lontar.


“Apakah penduduk yang dikau mintai keterangan itu sungguh-sungguh dapat dipercaya?”


Mantingan mengangguk. “Dirinya cukup bisa daku beri kepercayaan. Orang itu telah bersumpah setia pada desa kelahirannya ini.”


“Dan apakah sumpah itu dapat engkau dipercayai?” Kembali Bidadari Sungai Utara bertanya.


“Ya. Daku dapat melihat dari sorot matanya.”


“Kalau begitu, diriku dapat kembali tenang.” Bidadari Sungai Utara mengembuskan napas perlahan. “Bolehkah daku mengambil denah balai desa?”


“Itu memang daku buatkan untuk Saudari, jadi simpanlah baik-baik.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk sekali sebelum menggulung lontar di tangannya itu. “Jadi, kapankah kita akan melaksanakan semua rencana ini?” Bertanya Bidadari Sungai Utara.

__ADS_1


“Soal itu bukan hanya daku yang menentukannya, lebih baik kita saling beranggar pikiran.”


Bidadari Sungai Utara terdiam berapa lama. Pemikiran apakah yang harus ia anggarkan? Gadis itu berada dalam kondisi siap tak siap. Dirinya merasa begitu geram ketika si pria tua penagih pajak itu kian hari semakin menambah beban pajak. Ibu Wira sampai dibuat kesulitan. Maka dari itu, Bidadari Sungai Utara ingin segera membasmi mereka, sampai akar-akarnya jika perlu. Namun di sisi lain, dirinya belum siap jika harus menghadapi pertarungan berdarah.


“Bagaimana jika satu pekan dari sekarang?” kata gadis itu, pada akhirnya.


Mantingan mengangkat alisnya sebentar, kemudian berkata, “Daku berpikir memang ada baiknya seperti itu. Dalam sepekan, kita bisa berlatih menguatkan badan dan pikiran.”


Bidadari Sungai Utara mengangguk pasti. “Maka mulai hari ini juga, diriku akan bersiap-siap.”


“Alangkah baiknya ....” Mantingan tersenyum manis. “Berlatihlah hari ini, sedang esok hari kita saling latih tanding menggunakan senjata, bagaimana?”


“Daku terima tantangan Saudara.” Bidadari Sungai Utara tersenyum semakin lebar. Menganggap Mantingan telah menantangnya.


***


Mantingan menatap tajam Bidadari Sungai Utara di depannya. Gadis itu berdiri belasan langkah darinya. Dengan sebelah kaki dapat menyeimbangkan diri di atas atap rumah yang berbentuk segitiga itu. Pakaian kain, cadar, dan rambut gadis itu berkibar selayaknya bendera.


Mantingan membetulkan kedudukannya. Ia maju selangkah. Digenggamnya sarung Pedang Kiai Kedai.


Sebelum menarik sarung pedang itu, Mantingan berkata pada Bidadari Sungai Utara. “Kemampuanmu sungguh mengagumkan, Saudari. Perubahanmu bukanlah perubahan kecil. Maka izinkanlah daku menarik Pedang Kiai Kedai dari sangkarnya ....”


Bidadari Sungai Utara membalas dengan senyum samar, “Daku persilakan, Saudara Man!”


Dengan sekali entak, Mantingan menarik gagang Pedang Kiai Kedai. Sedangkan sangkarnya itu dilayangkan ke udara. Saat itulah, tubuh Mantingan menghilang.


Tubuh Bidadari Sungai Utara pun seakan menghilang. Orang awam akan terkejut melihat dua sosok muda-mudi itu tiba-tiba saja menghilang. Seolah lenyap ditelan makhluk tak kasat mata. Tetapi yang sebenarnya sedang terjadi sungguhlah berlainan.

__ADS_1


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara tengah bertarung dengan kecepatan tinggi di udara. Tubuh mereka melenting-lenting di udara. Hanya beberapa kali saja menapak atap rumah. Di udara, mereka menyambar-nyambar laksana rajawali yang berkelahi.


Serangan Bidadari Sungai Utara begitu cepat dan tepat. Hampir setiap kali dirinya menyerang, Mantingan tidak bisa menghindar, pemuda itu hanya bisa menangkis atau balik menyerangnya.


Serangan gadis dari Champa itu juga menyasar ke titik-titik berbahaya. Seperti perut, dada, leher, dan kepala. Dia memperlakukan Mantingan selayaknya memperlakukan musuh. Seolah-olah tidak ada hubungan pertemanan di antara mereka.


Mantingan merasa bahwa pertarungan dapat dikatakan seimbang. Maka mulai saat ini, dirinya tidak segan-segan untuk menyerang.


Mantingan menapakkan kakinya ke salah satu genting rumah. Dapat dilihat sarung pedangnya masih melayang-layang di udara. Tiba-tiba saja Mantingan berniat menyelesaikan pertandingan sebelum sarung pedang itu menyentuh tanah.


Maka setelah menapak, tubuh Mantingan meluncur ke atas. Bidadari Sungai Utara terlihat menyusulnya di bawah. Mantingan menjungkir balikkan tubuhnya. Kaki menghadap atas; kepala menghadap bawah.


Serangan Bidadari Sungai Utara disambut olehnya. Pedang Merpati Haus Darah milik Bidadari Sungai Utara itu menusuk-nusuk dengan kecepatan tinggi. Mantingan terus menangkis dan menggunakan daya dari serangan Bidadari Sungai Utara untuk terus melayang ke atas.


Tidak satupun serangan Bidadari Sungai Utara mengenai tubuh Mantingan sampai dirinya kehilangan daya angkat. Maka mulailah Bidadari Sungai Utara melayang turun.


Namun, Bidadari Sungai Utara cukup cermat untuk memposisikan dirinya tegak lurus. Kaki menghadap bumi; kepala menghadap langit. Kini dirinyalah yang menyambut serangan Mantingan.


Namun baru satu serangan Mantingan lancarkan, gadis itu telah memutarkan pedangnya pada pedang Mantingan. Bilah putih dari Pedang Merpati Haus Darah berhasil memantulkan sinar mentari yang menyilaukan mata Mantingan, hingga tanpa sadar Pedang Kiai Kedai telah lepas dari tangannya!


Mereka terus meluncur cepat ke bawah, meninggalkan Pedang Kiai Kedai yang melayang jauh di udara. Mantingan tidak bisa mengambil pedang itu tanpa pijakan. Dan Bidadari Sungai Utara pun tidak dapat meluncur ke atas untuk mengalahkannya tanpa pijakan.


Biarpun mereka adalah pendekar berkeahlian tinggi, tetapi keduanya tetap tidak dapat sesuka hati melayang-layang di udara tanpa pijakan. Dan masih belum ada ilmu untuk dapat terbang di udara laksana burung.


Maka Mantingan masih bisa tenang selama dirinya berada di atas Bidadari Sungai Utara, karena tidak mungkin gadis itu bisa meluncurkan dirinya ke atas. Namun jika nanti keduanya telah sampai di atap rumah, Mantingan tidak bisa memastikan kemenangannya.


Namun selintas kemudian, Mantingan melihat sarung pedangnya yang masih melayang-layang di udara. Tercetuskanlah olehnya sebuah pemikiran cermelang.

__ADS_1


__ADS_2