
PERUBAHAN sikap para pendekar yang biasanya saling memusuhi tetapi kini justru salinh melempar bantuan dan keramahan begitu kentara di Perhelatan Cinta.
Apakah Koying benar-benar berhasrat mengubah sikap lama para pendekar dunia persilatan? Bukankah dengan begitu, para Pemangku Langit sebagai penjaga telaga persilatan akan bertindak segera untuk menghadapi gerakan semacam ini ini?
Mantingan hanya balas menjura pada pendekar yang menawarkan bantuan itu, Chitra Anggini juga melakukan hal yang sama. Setelah itu, mereka berjalan beriringan mengikuti langkah pendekar itu.
“Benar-benar berubah,” kata Chitra Anggini yang agaknya telah menyadari apa yang Mantingan sadari. “Bahkan dalam perguruan silat sekalipun, persaingan adalah hal yang biasa sehingga sikap tolong-menolong bukanlah suatu keharusan, tetapi di Perhelatan Cinta semua itu bagaikan menghilang seluruhnya.”
Mantingan tidak tahu harus menanggapi apa, sehingga dirinya berkata, “Tetaplah berwaspada betapa pun suasananya.”
Memanglah seringkali suasana yang berlarut-larut dapat membuat pendekar kehilangan kewaspadaannya. Itu adalah salah satu alasan dari sekian banyaknya alasan mengapa pertarungan di senjakala sangat dihindari, sebab keindahan lembayung senja dapat membuat mata para pendekar menjadi terpikat padanya dan bukan kepada lawan yang sedang di tempurinya!
Wajar saja bila Mantingan meminta Chitra Anggini tetap berwaspada. Dunia persilatan tidak pernah lepas dari tipu muslihat yang memperdaya. Apa yang seharusnya terlihat seringkali tidak terlihat, dan apa yang seharusnya tidak terlihat seringkali justru terlihat.
Setelah berjalan tak seberapa jauh dari tempat awal, Mantingan dan Chitra Anggini dapat melihat sebuah lapangan besar di ujung jalan. Beberapa balai berukuran besar terlihat berdiri di tempat itu, tetapi meskipun demikian lapangan tersebut masih menyediakan ruang kosong yang sangat luas.
“Lapangan ini biasanya digunakan untuk pelatihan balatentara,” kata Chitra Anggini dengan tidak mengurangi kecepatan berjalannya. “Terutama untuk melatih prajurit pemanah dan senjata jarak jauh lainnya, tetapi tidak jarang juga digunakan untuk melatih pasukan berkuda dan pasukan pejalan.”
“Ke manakah pasukan-pasukan itu sekarang?” Mantingan bertanya.
“Itulah yang kuherankan pula. Seharusnya, tempat seperti Lingkungan Seribu Rumah Istana selalu terisi penuh, tetapi kulihat terdapat cukup banyak rumah yang kosong. Ke mana mereka kiranya?”
Jika Mantingan dan Chitra Anggini saling bertanya untuk hal yang sama, bagaimanakah mereka bisa menemukan jawabannya?
“Tetapi, cepat atau lambat kita akan mengetahuinya,” kata Mantingan memberi sedikit harapan, “dan harap saja itu tidak akan buruk.”
__ADS_1
Balai-balai di Halaman Besar Seribu Rumah Istana itu berjumlah sepuluh, dan masing-masingnya telah dibagi berdasarkan petak-petak perumahan yang ada di sana. Mantingan, Chitra Anggini, bersama tetangga-tetangganya menempati balai di sebelah barat daya sebab mereka semua tinggal di petak yang sama.
Balai tersebut penuh dengan meja pendek yang di atasnya terdapat beberapa tudung saji, tetapi tidak ada bangku di tempat itu sehingga para pendekar duduk melaseh. Dan seperti biasa, Mantingan bersama Chitra Anggini memilih meja yang terletak di sudut.
Chitra Anggini dengan bersemangat langsung membuka seluruh tudung saji yang ada. Matanya melebar ketika dilihatnya potongan-potongan daging bakar serta beberapa jenis sayuran yang tersaji di hadapannya. Perutnya yang sedari malam tidak terisi itu segera memberontak dengan suara gemuruh.
Mantingan hanya menggelengkan kepalanya dan memilih untuk memperhatikan sekitarnya terlebih dahulu sebelum benar-benar menyentuh hidangan.
Dilihatnya beberapa pendekar yang terpaksa melepas topengnya sebab harus menyantap makanan, namun beberapa pasangan pendekar bertopeng lainnya memilih untuk meninggalkan balai ketimbang harus membuka topeng, sangat mungkin mereka memiliki perbekalan sendiri yang memang telah disiagakan untuk menghadapi keadaan seperti ini.
Beruntunglah Mantingan dan Chitra Anggini menggunakan topeng yang hanya menutupi sekitaran mata, dahi, dan sebagian pipi mereka, sehingga keduanya masih dapat memasukkan makanan ke dalam mulut tanpa perlu melepas topeng.
Mantingan mengelus dagunya dan tersenyum tipis. Entah apakah harus menganggap Kerajaan Koying licik atau cerdas, tetapi dirinya tahu pasti bahwa kegiatan makan pagi di balai ini merupakan suatu siasat Koying untuk mengungkap jati diri para pendekar bertopeng tanpa terkesan memaksa. Namun sepertinya, mereka tidak memperhitungkan jenis topeng tak biasa yang dipakai oleh Mantingan dan Chitra Anggini.
“Jika mereka meninggalkan balai, mereka dapat saja berada dalam penglihatan mata rajawali.”
“Ibarat kata, mereka adalah ikan incaran seekor burung rajawali lapar yang terbang di langit untuk mencari mereka. Tetapi sayangnya, ikan-ikan itu terlalu bodoh sehingga memilih untuk berenang di dekat permukaan air, sedang seharusnyalah mereka bersembunyi di dasaran lumpur. Mata rajawali sedang mengawasi dan mengincar mereka, hanya perkara waktu sampai dirinya menukik tajam dan memapas ikan-ikan itu saat mereka tidak berwaspada. Apakah dirimu paham apa yang kumaksudkan ini?”
Mantingan menganggukkan kepalanya. Jelas dirinya memahami bahwa mungkin saja sebagian besar pendekar-pendekar bertopeng yang memilih meninggalkan balai ketimbang harus membuka topengnya itu adalah buronan kerajaan atau penyusup. Chitra Anggini mengibaratkan mata-mata kerajaan sebagai burung rajawali yang terbang di langit.
“Tak perlu pusingkan mereka, lihatlah daging-daging ini!”
Mantingan kemudian beralih menuju hidangan di atas meja yang ada di hadapannya. Penciumannya menangkap suatu aroma yang khas pada daging bakar itu.
“Ini daging kerbau.” Mantingan menggelengkan kepalanya berkali-kali. Meskipun belum mengatakannya secara langsung, tetapi raut wajahnya telah mengisyaratkan penolakan untuk memakan daging tersebut.
__ADS_1
“Memangnya mengapa?” tanya Chitra Anggini dengan kernyit di dahinya.
“Aku teringat Munding, dan lagi pula aku telah berjanji kepadanya untuk tidak memakan daging kerbau.”
Setelah Munding menjadi sahabatnya dan bahkan pernah menyelamatkan hidupnya satu kali, bagaimanakah Mantingan bisa senang-senang memakan daging kerbau?
Munding memiliki kepintaran yang boleh dikata hampir menyamai anak remaja manusia, perasaannya pasti akan terluka jikalau mengetahui bahwa Mantingan memakan daging hewan sejenis dengan dirinya.
“Munding ....” Chitra Anggini menatap daging kerbau bakar di hadapannya dengan wajah tak bagus. “Ah, setidaknya aku masih bisa memakan sayurannya.”
Namun tanpa disangka-sangka, gadis itu menuangkan seluruh hidangan sayur yang ada ke dalam piringnya tanpa menyisakan sedikitpun untuk Mantingan, membuat pemuda itu sangat terkejut bukan tipuan!
“Aku hanya mengambil secukupnya saja,” kata Chitra Anggini sambil tersenyum lebar. “Jika kau mau, maka ambillah di piringku. Aku sama sekali tidak keberatan jika kita makan berdua.”
Mantingan menggeleng pelan sebelum mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung jubahnya. Itu adalah sekeping dendeng ikan yang tampak telah diolah sehingga dapat langsung dimakan!
“Hei! Kau menyembunyikan itu dariku?” Chitra Anggini tidak terima sebab baginya sekeping dendeng ikan akan jauh lebih baik ketimbang sepiring sayuran yang rasanya tidak enak.
“Jika aku berniat menyembunyikannya darimu, maka tidaklah aku tunjukkan dendeng ini di hadapanmu. Chitra, kau begitu serakah.” Mantingan kembali menggelengkan kepalanya, dirinya masih tidak menduga bahwa ada perempuan yang bisa bersikap seperti Chitra Anggini.
___
catatan:
Mari hidupkan kembali semboyan lama kita: "One Like & Comment" demi membantu Sang Musafir masuk rekomendasi NovelToon. Mohon bantuannya!
__ADS_1