
JAKAWARMAN LANGSUNG melesat ke arah semak belukar yang tumbuh rimbun di sisi jalan. Mantingan menggelengkan kepalanya pelan sebelum kembali menulis aksara-aksara di atas lembar lontar guna melanjutkan kitabnya.
Banyak yang dirasa perlu ditulisnya, sebab semenjak meninggalkan Desa Lonceng Angin, Mantingan tidak pernah menulis lagi. Sedang perjalananya berlanjut, ditaburi kisah-kisah yang menurutnya cukup menarik untuk dimasukkan ke dalam naskah tulisannya.
Mantingan tiba-tiba saja berpikir. Siapa sajakah yang akan membaca naskahnya ini? Bagaimanakah kiranya jika khayalak sama sekali tidak menyukai naskahnya?
Mantingan merasa bahwa dirinya bukanlah penulis handal. Ia memang harus mengakui, bahwa banyak sekali kesalahan pada naskahnya. Tata bahasanya pun sedikit berbeda, tidaklah mungkin dapat menarik minat banyak orang.
Tetapi kemudian disadarinya, bahwa ia menulis bukan agar orang menikmati kisah perjalanannya yang penuh pertarungan selayaknya kisah-kisah yang dibuat para pengarang tentang kehidupan pendekar yang selalu mesti dipenuhi pertarungan. Mantingan menulis agar orang-orang mendapatkan sedikit pelajaran dari perjalanannya. Dengan begitu, ia merasa naskahnya akan jauh lebih bermanfaat dibandingkan dongeng yang dibuat-buat belaka.
***
ROMBONGAN BERHENTI tengah malam itu dalam keadaan buncah. Sebuah regu berisi tiga puluh pendekar terkuat segera dibuat, Mantingan sendiri yang memimpin regu tersebut.
Tanpa berlama-lama lagi, 30 pendekar itu segera melesat cepat ke arah barat. Menyusuri jalan yang mereka lalui sebelumnya.
Puluhan Lontar Sihir Cahaya memendarkan sinarnya. Menciptakan pemandangan indah manakala pendekar-pendekar itu membawanya dalam kecepatan tinggi laksana petir. Tetapi yang sebenar-benarnya terjadi, suasana benak mereka tidak seindah pemandangannya.
Terutama pada Mantingan yang berdegup kencang jantungnya. Ialah yang paling risau dari seluruh pendekar yang bersamanya. Ilmu Mata Elang dipakainya, begitu pula dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Padahal jika kedua jurus itu dipakai bersamaan dalam kadar penuh, Mantingan akan dibayang-bayangi oleh tanggungan luka dalam yang dapat mematikan. Tetapi kerisauan hatinya telah melampaui akal sehatnya.
Tak lama kemudian, Mantingan berhenti melesat. Serta merta, 29 pendekar di belakangnya pun turut berhenti. Mereka menyebar di kedua sisi jalan. Mata memandang ke segala tempat yang sekira-kirannya memungkinkan untuk dipandang.
“Yakinkan di sini, Pahlawan Man?” Seorang pendekar dari Pasukan Topeng Putih bertanya di samping Mantingan. Meski dirinya prajurit khusus, tetapi nada bicaranya terdengar cukup cemas.
“Ya, kuyakin,” balas Mantingan, “di tempat ini, Jakawarman berkata padaku bahwa dirinya hendak buang air. Tetapi tidak mungkin ia menghabiskan waktu selama sepenanak nasi hanya untuk buang air! Di manakah dia sekarang?!”
“Kami mengerti keadaannya, Pahlawan Man. Mari kita menyisir daerah ini dengan lebih tenang. Dengan ketenangan, jejak sekecil apa pun pastilah ketahuan.”
__ADS_1
Mantingan tidak menjawab melainkan segera melesat masuk ke dalam hutan. Ia menggenggam dua Lontar Sihir Cahaya untuk memberikannya penerangan tambahan. Melihat itu, pendekar-pendekar lainnya pun memulai penyisiran.
Mantingan melesat di antara dahan-dahan pepohonan. Sesekali, ia akan memukul dahan pohon. Bukan tanpa alasan, ia melakukan itu untuk menciptakan gelombang suara. Ketika gelombang suara tersebut memantul pada sebuah bidang permukaan, Ilmu Mendengar Tetesan Embun akan menangkap dan menerjemahkannya menjadi sebuah bentuk seusai dengan bentuk bidang yang dipantulkan suara.
Dengan cara seperti itu, Mantingan seolah dapat melihat benda nun jauh di sana meski tertutupi oleh gulita malam. Mantingan dapat meraba keberadaan ratusan pohon, kelelawar malam yang terbang mengincar ngengat, ular yang merambati pepohonan, bebatuan besar, rumput ilalang, sampai tetesan embun yang berjarak ratusan tombak dari tempat melesat.
Tetapi tidak sekalipun Mantingan merasakan keberadaan manusia selain dari regunya itu sendiri. Mantingan semakin resah.
Ketika Mantingan melesat semakin jauh ke dalam hutan, matanya menangkap sebuah benda bercahaya keemasan di antara rerumputan pendek. Mantingan segera melesat turun ke arah benda yang selayaknya kencana itu.
Setelah berhasil mendarat, Mantingan tanpa berlama-lama lagi lekas menggapai benda kecil tersebut dengan cara yang boleh dikata sedikit kasar.
Petir seolah meledak tepat di atas kepalanya. Tangannya bergemetar hebat sampai selembar benda keemasan itu melayang jatuh ke tanah. Bibirnya terbata-bata, ingin mengucap sesuatu yang tak pula menemui keberhasilan.
Tidak seperti yang dipikirkan, benda yang barusan dipegangnya itu ternyata memiliki permukaan yang teramat lembut dan seolah-olah amat sangat rapuh. Berbentuk pipih; setipis helai pakaian.
“Kembangmas!”
Jantung Mantingan semakin berdegup cepat. Tidak salah lagi, itulah Kembangmas! Mantingan mengambil kotak kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana di dalam jubahnya lantas membukanya. Di dalam kotak tersebut, terdapat benda sepipih helai pakaian yang memancarkan sinar keemasan pula. Itulah sehelai kelopak Kembangmas yang diberikan Paman Birawa kepadanya!
Didekatkan hidungnya pada kelopak Kembangmas itu. Dihirup dalam-dalam aromanya. Mantingan melebarkan matanya. Aroma yang sama dengan aroma benda ditemukannya!
Ketika Mantingan ingin mengambil sehelai benda pipih keemasan di atas rumput itu, pandangannya tidak sengaja menangkap sebuah cahaya keemasan lain agak jauh di depannya. Mata Mantingan semakin melebar. Mantingan segera melesat ke arah cahaya tersebut.
Lagi-lagi, Mantingan dibuat terkejut. Ia kembali menjumpai benda yang sama seperti yang tadi ditemuinya. Tak hanya itu, matanya kembali menangkap beberapa cahaya keemasan yang di depannya.
Dengan dahi mulai berkernyit, Mantingan menempelkan kedua Lontar Sihir Cahaya pada capingnya. Setelah itu, Mantingan menarik keluar bilah Pedang Kiai Kedai dari sangkarnya.
__ADS_1
Meskipun takdir memberikan petunjuk dari benda yang selama ini dicari-cari olehnya, Mantingan tidak benar-benar sampai kehilangan akal sehatnya. Jika benar yang ia temukan adalah kelopak-kelopak dari Kembangmas, maka seharusnya bunga itu berada di sekitar dan itu dapat berarti marabahaya!
Mantingan teringat cerita dari Paman Birawa bahwa Kembangmas dapat menjadi buas ketika merasa terancam, maka ada baiknya ia menyiagakan pedang. Bukankah pada zaman Salakanagara terdahulu, Kembangmas berhasil membunuh ratusan pendekar sakti yang sedang mencari keberadaannya?
Bukankah dengan begitu, Kembangmas dapat membunuh Mantingan semudah membalikkan telapak tangan?
Kendati demikian, akal sehatnya tidak juga benar-benar sehat. Ketika akal sehatnya mengatakan untuk mundur, maka rasa penasaran membawanya untuk melangkah maju lebih jauh.
Terkadang, akal sehat memang menginginkan yang terbaik untuk diri sendiri. Tetapi rasa penasaran terkadang pula menuntun seseorang mengorbankan dirinya demi kebaikan.
Mantingan terus berjalan dengan perlahan-lahan. Telah lebih dari lima kelopak bercahaya keemasan yang dilewatinya. Kerimbunan hutan semakin lebat.
Cahaya-cahaya keemasan itu membentuk rentetan panjang dan menuntunnya untuk melewati lembah yang bersebelahan dengan jurang tinggi. Mantingan tidak peduli, ia terus maju mengikuti ke arah mana cahaya-cahaya emas itu membawanya.
Hingga sampailah Mantingan tepat di atas sebuah batu besar. Tiada lagi kelopak bercahaya emas yang tertangkap oleh matanya. Namun, suatu benda yang lain terlihat tergeletak di atas batu tempatnya berdiri. Mantingan mendekati dan menatapnya secermat mungkin.
Benda itu bukan lain dan bukan keliru merupakan seperangkat pakaian serba putih. Tergeletak begitu saja di atas batu dingin. Mantingan memapas benda itu tanpa keraguan sedikitpun.
“Ini pakaian Jaka,” gumamnya pelan.
Lolongan anjing hutan terdengar panjang. Mantingan mengadahkan kepalanya, memandangi bulan purnama yang bersinar tanpa terhalang mega-mega. Angin berembus sedemikian kuatnya di tepi jurang itu, mengibarkan jubah dan rambut pemuda itu.
___
catatan:
Adakah yang mencium aroma Kembangma—, maksud saya aroma hendak tamat?
__ADS_1