
“Kemarin hari, daku menggunakan banyak tenaga dalam untuk jumlah yang tidak sedikit. Namun kurasa, diriku masih dalam keadaan baik-baik saja sampai saat ini.”
BIDADARI SUNGAI UTARA mengangguk perlahan. Tampaknya mengerti betul apa yang Mantingan maksudkan. Dan tanpa diduga-duga, tangannya bergerak cepat menepuk pundak Mantingan. Begitu cepatnya sampai Mantingan tak dapat bereaksi. Tepukan itu sangatlah lembut, tetapi anehnya Mantingan merasakan sakit yang teramat sangat di bagian dada dan lehernya. Bagaikan tertusuk ribuan jarum di saat yang bersamaan.
Beruntung, sakitnya itu tidak berlangsung sedemikian lama. Saat Bidadari Sungai Utara mengangkat kembali tangannya dari pundak Mantingan, maka rasa sakit itu hilang.
“Apa yang telah Saudari lakukan?” Mantingan bertanya penuh keheranan dan kecurigaan.
“Jika Saudara masih merasakan sakit setelah diriku menepuk pundak Saudara, maka sesungguhnya keadaan Saudara telah sangat memburuk setelah menggunakan banyak tenaga dalam tadi malam.” Mata Bidadari Sungai Utara menyipit, agaknya tengah tersenyum di balik cadarnya.
Mantingan membenarkan capingnya setelah melihat senyum Bidadari Sungai Utara. Berjaga-jaga jika gadis itu tiba-tiba berniat membongkar jati dirinya.
“Daku ini adalah pendekar, akan sangat terganggu jika tidak bisa menggunakan tenaga dalam.”
“Berhentilah menerima atau membuat tantangan bertarung selama beberapa bulan ke depan, Saudara.” Bidadari Sungai Utara berkata lembut. “Saudara masih bisa menggunakan tenaga dalam, tetapi tidak dalam jumlah yang banyak.”
Mantingan masih merasa bahwa dirinya mesti senantiasa menyiagakan tenaga dalam banyak. Namun percuma saja, jika tidak bisa digunakan dalam jumlah banyak. Terlebih pula ia harus melindungi Kana, Kina, dan sekaligus Bidadari Sungai Utara.
“Daku memang tidak suka menerima tantangan atau membuat tantangan bertarung,” katanya lalu. “Tetapi daku membutuhkan banyak tenaga dalam untuk mencari uang.”
“Saudara, sepertinya ini memang saatnya bagimu untuk kembali menjadi orang awam. Tetapi tenang saja, ini tidak berlangsung lama."
Mendengar itu, Mantingan hanya bisa menghela napas dan mengangguk pelan. Dalam pikirannya yang kacau, Mantingan tidak tahu harus berbuat apa. Harapan untuk menawar Racun Tidak Bernama sangatlah tipis, setipis harapan untuk menemukan Kembangmas. Isi kepalanya terlalu penuh untuk dapat berpikir dengan baik.
__ADS_1
Mantingan membayangkan jika dalam kurun waktu empat bulan dirinya akan mati. Apakah ia tidak akan menyesali apa pun?
Tentu saja tidak bisa dikatakan seperti itu. Sangat tidak bisa.
Banyak yang Mantingan sesali jika dirinya mati muda. Terutama jika ia tidak mampu menemukan Kembangmas, memenuhi utangnya pada Kenanga.
Mantingan bersedih hati. Jika dirinya mati muda, maka ia tak punya banyak waktu untuk berbakti pada gurunya serta membalas jasa dua orangtuanya. Dan jika dipikir-pikir kembali, maka Mantingan belum menemui dua orangtuanya setelah begitu lama.
Ada banyak hal yang akan Mantingan sesali. Dirinya tidak pernah menyangka akan mati dalam usia yang begitu muda, ia terlanjur membuat rencana-rencana besar yang hanya bisa dilakukan nanti.
Bidadari Sungai Utara dapat menyadari keputusasaan pemuda bercaping di depannya itu. Biar bagaimanapun juga, Bidadari Sungai Utara turut berduka. Walau nampaknya ia tidak tahu siapakah pemuda di depannya itu.
“Saat ini daku tidak memiliki pelanggan tetap yang harus aku rawat.” Bidadari Sungai Utara membuka suara. “Dan Ibu Wira juga bersimpati atas dirimu, beliau memintaku untuk memusatkan pengobatan padamu. Jadi, apakah yang bisa kubantu untukmu?”
Mantingan terdiam. Kali ini tidak beberapa saat saja. Mantingan membutuhkan waktu untuk berpikir. Banyak hal yang harus dipikirkan, membuatnya tidak dapat berpikir dengan baik. Untuk menjawab pertanyaan Bidadari Sungai Utara, Mantingan sengaja mengambil waktu yang banyak.
Bidadari Sungai Utara menganggukkan kepalanya.
Mantingan melanjutkan, “Berapa lamakah angin muson timur datang? Bukankah angin itu yang akan membawa Saudari kembali ke sana?”
“Ibu Wira berkata kepadaku, bahwasanya angin muson timur akan tiba kurang dari lima bulan dan lebih dari empat bulan lagi.”
Kini Mantingan yang mengangguk. Lalu terdiam.
__ADS_1
“Apakah yang Saudara inginkan?”
“Jika Racun Tidak Bernama tak dapat ditawar, waktuku hanya tersisa empat bulan lagi. Saat itu, mungkin saja diriku tidak dapat melihatmu pergi meninggalkan Javadvipa.” Setelah berkata, Mantingan kembali terdiam. Menyusun kalimat selanjutnya yang akan ia ungkapkan.
Sedang Bidadari Sungai Utara terlihat bingung. Mengapakah pemuda di depannya itu menyesal karena tidak dapat melihatnya pergi meninggalkan Javadvipa? Apa hubungan pemuda itu dengan dirinya?
Saat itulah, Mantingan melanjutkan perkataan, “Itu berarti, engkau bisa menjagaku sampai daku mati. Dalam waktu empat bulan, tolonglah latih diri engkau dengan baik. Pelajari seni bela diri persilatan yang sesuai dengan gerak tubuh khas Saudari. Dan jagalah diriku dengan segenap kemampuan persilatan itu. Apakah Saudari berkenan? Aku sangat sakit hati jika Saudari tidak berkenan.'
Sama seperti Mantingan, Bidadari Sungai Utara tidak langsung menjawabnya. Dia membutuhkan waktu untuk berpikir, sebab keputusan yang akan ia ambil bukanlah keputusan yang ringan. Semua keputusan akan mempengaruhi hidupnya. Apakah ia akan merasa terbebani jika menerima permintaan itu, ataukah akan merasa menyesal jika tidak menerima permintaan itu.
“Sebelumnya, daku merasa perlu tahu siapa nama Saudara dan di mana tempat kediaman Saudara saat ini. Tanpa itu, akan sangat sulit bagiku untuk menerima permintaan Saudara.”
Mantingan memejamkan mata sejenak lalu mengangguk pelan. “Ada baiknya Saudari langsung saja berkunjung ke tempat tinggalku saat ini. Di sana, Saudari akan mengetahui namaku dengan sendirinya.”
Tetapi, Bidadari Sungai Utara justru menggeleng. “Saudara, daku harus melayani pelanggan lainnya sampai petang berganti malam. Di pagi hari ini, sudah barang tentu daku tidak bisa mengikuti Saudara.”
“Mudah saja. Datanglah di waktu petang.” Mantingan membuka matanya. “Pastinya Saudari telah mengetahui desa di dekat pasar ini, bukan? Di sisi timur desa itu, Saudari akan menemukan kediaman dengan lahan yang luas. Itulah kediamanku.”
Bidadari Sungai Utara sebenarnya tidak berniat sampai sejauh itu, ia berusaha menghindar dengan cara yang halus. “Jika daku masuk ke rumahmu, apakah itu tidak akan membuat orang lain merasa curiga?”
Mantingan mengetahui Bidadari Sungai Utara berusaha menolak permintaannya, namun Mantingan tetap bersikukuh pada keinginannya. Sebab keinginannya itu akan sangat bermanfaat bagi Bidadari Sungai Utara, dan hanya memberi sedikit manfaat baginya.
“Ada dua orang lain di sana, selain diriku. Salah satunya adalah perempuan.” Mantingan beranjak bangkit dari duduknya. “Datanglah sore nanti, akan kusiapkan kudapan untuk Saudari. Selamat tinggal.”
__ADS_1
“Saudara, sepertinya aku tidak bisa.” Bidadari Sungai Utara menahan Mantingan yang hendak beranjak pergi.
“Bagaimanalah ini, Saudari.” Mantingan memelas. “Daku tidak bisa membayar pengobatan Saudari pagi ini juga. Tidak bisa sekarang. Saat petang hari, barulah aku bisa membayar Saudari. Jadi kumohon, datang dan jemputlah bayaranku."