Sang Musafir

Sang Musafir
Menuju Pemukiman Kumuh Kotaraja


__ADS_3

BERJALAN tanpa membawa lembar-lembar kitab perjalanannya sedikit banyak membuat Mantingan merasa suatu perasaan haru. Selayaknya meninggalkan kawan lama yang telah lama bersama, tanpa belas kasihan sama sekali.


Diingatnya kembali ketika mulai menuliskan lembar pertama dalam naskah perjalanannya. Itu adalah saat di mana dirinya berada di jantung rimba, jauh dari keramaian dan peradaban, berbanding terbalik dengan jalanan kotaraja yang sedang dilewatinya saat ini.


Naskah itu bagai setia menemaninya di mana saja. Seolah pula menjadi sahabat untuk menumpahkan segala curahan hati. Baik di tempat yang aman maupun berbahaya; dalam keadaan tenteram maupun kemelut; senang maupun duka. Lembar-lembar lontar itu selalu menyertainya.


Bukankah dapat dikatakan naskah itu bahkan jauh lebih setia ketimbang seluruh kawan-kawannya?


Dan kini, Mantingan hampir tidak percaya telah menyerahkan sahabat setianya itu pada orang lain. Meninggalkannya begitu saja tanpa mengetahui dapatkah bertemu kembali atau berpisah untuk selama-lamanya. Itu terasa begitu menyesakkan.


“Mantingan,” tegur Chitra Anggini yang seketika pula membuyarkan semua lamunan Mantingan. “Tetap waspada.”


“Ongng ....” Munding di sebelahnya pun seolah menyetujui perkataan Chitra Anggini, bahkan kerbau itu jauh lebih mengerti apa yang sedang Mantingan pikirkan saat ini ketimbang gadis itu.


Mantingan tersenyum tipis sambil mengusap punggung Munding, berkata bahwa dirinya tetap berwaspada meskipun kelihatannya sedang melamun dan lengah. Chitra Anggini yang melihat itu hanya dapat menggeleng pelan. Memangnya ada kerbau yang dapat mengerti bahasa manusia?


“Berapa lama lagi kita sampai di Pemukiman Kumuh Kotaraja?” tanya Mantingan setengah berbisik pada Chitra Anggini di sebelahnya.


“Dua penanakan nasi lagi jika kita mempertahankan kecepatan,” balas gadis itu. “Satu penanakan lagi jika kita berjalan sedikit lebih cepat. Dan kurang dari sepuluh kejap mata bila kita berkelebat. Manakah yang akan kau pilih?”


“Tetap pertahankan kecepatan,” putus Mantingan, dengan pertimbangan bahwa melangkah terlalu buru-buru dapat memancing pendekar lain mengikutinya.


Meskipun di kotaraja terdapat aturan tak tertulis untuk tidak membunuh sesama pendekar secara sembarangan, tetapi akan selalu ada beberapa pendekar yang nekat melanggar peraturan tak tak tertulis itu sebab tiada dapat membendung rasa penasarannya.

__ADS_1


Toh jikalau mereka sampai tertangkap basah oleh pendekar-pendekar penjaga kota, hanya kematian yang akan mereka terima sebagai sebuah hukuman. Bukankah kematian di tangan lawan yang lebih kuat adalah jalan seluruh pendekar dunia persilatan menuju kesempurnaan?


Maka akan sangat bagus jika Mantingan tetap berjaga-jaga. Mengandaikan bahwa serangan dapat terjadi kapan saja tanpa pernah terduga.


“Harus kukatakan bahwa Pemukiman Kumuh Kotaraja bukanlah tempat yang benar-benar baik,” kata Chitra Anggini yang ikut mengganti kata miskin menjadi kumuh. “Setelah tiba di sana, kau akan melihat kehidupan masyarakat yang jauh dari kata wajar. Aku merasa akan sia-sia saja bila kuceritakan kepadamu tentang hal itu, alangkah baiknya jika kau melihatnya dengan mata kepala sendiri. Aku hanya sekadar memperingatimu agar tidak banyak berharap.”


Mantingan menganggukkan kepalanya perlahan.l Paham.


“Termasuk bersiap untuk mati ....” Chitra Anggini mendesis, sebab ternyata perkataannya belum habis.


“Aku selalu siap mati kapan saja, Chitra.” Mantingan berucap tegas.


“Pemukiman itu jauh berbeda dengan segala keteraturan di kotaraja ini, Mantingan. Tidak ada hukum tertulis maupun tak tertulis di tempat itu. Kau dapat diserang kapan saja oleh pendekar yang tak jelas asal-usulnya.”


Lantas Chitra Anggini menceritakan bahwa ketika pertama kali mengunjungi Pemukiman Miskin Kotaraja, dirinya diserang sebanyak sepuluh kali hanya dalam waktu satu hari. Serangan yang dihadapinya pun terang saja sangat berbahaya, sebab musuh menggunakan cara-cara licik yang seharusnya dianggap teramat hina di dunia persilatan.


Mendengar itu, Mantingan jadi teringat ketika dirinya berkunjung ke Pasar Malaya bagian bawah tanah untuk mencari keberadaan putri Paman Bala si penjual lontar yang diculik. Di sanalah tempat berlangsungnya segala kegilaan yang belum pernah Mantingan bayangkan sebelumnya. Hingga kini pun, ingatan itu masih membekas menjadi kenangan pahit yang agaknya tidak akan pernah terlupakan.


Mungkinkah tempat semacam itu ada pula di Pemukiman Kumuh Kotaraja? Ataukah pemukiman itu sendiri secara keseluruhannya? Mantingan tidak tahu, tetapi ia akan segera mengetahuinya.


“Pendekar-pendekar yang ditugaskan untuk menjaga kotaraja tidak mengambil bagian di Pemukiman Kumuh Kotaraja. Telah terlalu banyak pendekar pemerintah yang hilang tanpa jejak di pemukiman itu. Ketika ditemukan, tahu-tahu saja sudah berpihak pada jaringan bawah tanah yang ada di sana.”


Ucapan Chitra Anggini terasa benar. Jaringan bawah tanah selalu memiliki cara-cara khusus untuk menjerat para pendekar untuk bergabung serta setia padanya. Jumlah mereka tidaklah banyak, tetapi pemahaman yang mereka sebarkan amat sangat berbahaya. Untuk itulah Kiai Guru Kedai memberi banyak wejangan yang dapat membantu Mantingan jika seandainya ia sampai terjerat dengan pemahaman-pemahaman jaringan bawah tanah.

__ADS_1


“Bukankah dengan begitu, segala rahasia yang ada di pemerintahan dapat bocor ke tangan musuh?” tanya Mantingan.


“Pemerintahan sudah berjaga-jaga untuk kemungkinan itu,” kata Chitra Anggini. “Para prajurit kerajaan tidak ada yang boleh mengetahui rahasia-rahasia di dalam pemerintahan. Mereka hanya perlu menjalankan tugas tanpa perlu bertanya tentang alasannya. Sedangkan yang bertugas menyimpan rahasia pemerintahan hanyalah pelayan-pelayan khusus yang telah dipastikan kesetiaannya.”


Chitra Anggini kemudian menjelaskan bahwa pelayan-pelayan khusus itu telah dipastikan betul-betul kesetiaannya. Betapakah tidak? Lidah mereka dipotong hingga pangkalnya, hingga lumpuh semua kemampuan berbicaranya. Mereka hanya mengandalkan kemampuan menulis untuk berbicara, itu pun lebih sering menggunakan aksara dan bahasa sandi.


Pelayan-pelayan istimewa itu harus dikebiri, sebab mereka lebih sering bekerja di dalam istana yang penuh dengan putri-putri raja. Setiap perempuan keturunan raja berharga perdamaian dan perdagangan dengan kerajaan lain. Perkara seperti ini juga terjadi pada Bidadari Sungai Utara yang menjadi alat politik Champa.


Kebiri juga dilakukan untuk melindungi garis keturunan murni seorang raja. Bukan lucu jadinya jika putra mahkota yang kelak akan menjadi raja nanti ternyata adalah buah perselingkuhan antara permaisuri dan pelayan kerajaan.


Setelah dikebiri, mereka juga dilarang mengangkat anak atau berkekasih. Mereka mesti meninggalkan segala hubungan kekeluargaan, termasuk hubungan pada orang tua dan saudara kandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran rahasia sebab penyanderaan.


Bukan saja dipotong lidah, dikebiri, dan dilarang berkeluarga telah sangat menyiksa, pelayan-pelayan “istimewa” itu juga harus menjalani pelatihan selama tiga tahun yang sangat menyiksa. Mereka akan diajari cara paling cepat untuk bunuh diri jika terancam tertangkap musuh. Mereka pula dilatih untuk menahan segala penyiksaan terpedih jika seandainya telah terlanjur tertangkap pihak musuh.


“Namun atas semua penderitaan itu, kerajaan membalasnya dengan harta yang melimpah serta kekuasaan yang tinggi,” tukas Chitra Anggini setelah penjelasan panjangnya. “Tiadalah pernah mereka merasakan kekurangan. Hampir semua yang raja rasakan, mereka juga merasakannya. Hanya saja, mereka tidak dapat memuaskan birahi sama sekali. Aku tak tahu betapa menyiksanya perasaan semacam itu meski digelimang harta.”


Menanggapi itu, Mantingan hanya terbatuk-batuk pelan.


____


catatan:


Maaf atas typo di episode sebelumnya. Yang benar adalah Penginapan Barisan Bintang, bukan Penginapan Barisan Malam. Semoga kamu masih dapat menikmatinya.

__ADS_1


Dukung terus Sang Musafir dengan like, comment, dan share jika kalian suka. Penulis tidak dapat berbohong, dirinya tetap membutuhkan dukungan dari para pembaca.



__ADS_2