Sang Musafir

Sang Musafir
Sedang Cari Angin, Anak Man?


__ADS_3

MANTINGAN MASUK ke dalam hutan. Hanya itu yang dapat ia lakukan sekarang untuk mencari keberadaan Nenek Genih. Ia berharap bisa mendengar denting logam. Satu dentingan saja, itu sudah cukup untuk mengetahui keberadaannya.


Namun ternyata, yang datang adalah lebih dari harapan. Mantingan tidak tahu ini baik atau buruk, tetapi ia tidak bisa menampikkan bahwa telinganya mendengar puluhan denting logam dalam kurun waktu sekejap mata saja.


Puluhan denting logam itu, jika didengar oleh manusia biasa yang bukan pendekar, hanya terdengar sebagai satu dentingan keras saja. Tetapi bagi pendekar seperti Mantingan, dentingan itu terdengar puluhan kali. Memang sejatinya adalah puluhan kali, tetapi terjadi dengan sangat cepat sehingga seolah-olah hanya terdengar satu dentingan saja.


Mantingan bergerak cepat menelusuri bekas gelombang bunyi dari dentingan itu dengan ilmu pendengaran tajam. Pergerakannya yang sangat cepat membuat dirinya lekas sampai ke tempat di mana dentingan itu berbunyi.


Adalah di suatu bukti tinggi tak berpohon melainkan berpasir, kelebat-kelebat bayangan terlihat saling beradu sampai bunga api tercipta dan denting pedang melengking jauh. Mantingan mengawasi kelebatan-kelebatan bayang itu dari bawah, ia bersembunyi di balik batang pohon.


Dari yang Mantingan lihat, kelebatan bayang itu tercipta karena adanya dua pendekar tinggi yang saling mengadu kekuatan. Mantingan dapat melihat sebagai gerakan yang lambat, hasilnya ia dapat mengenali salah satu dari mereka: Nenek Genih. Tidak salah lagi perempuan tua itu yang dulu terlihat ringkih dan tak berdaya, tetapi sekarang dapat bertarung mengimbangi kecepatan dan ketangkasan lawannya.


Sedangkan yang merupakan lawan Nenek Genih terlihat seperti seorang pria tua, dengan pakaian serba abu-abu yang serba lusuh pula. Rambut dan jenggotnya putih memanjang bagai tak pernah dicukur, tak terurus.


Mantingan masih terus mengawasi. Ia tidak berniat ikut campur sebelum sebab perkara menjadi terang. Dalam peraturan di dunia persilatan, adalah sikap pengecut jika mengeroyok pendekar yang sedang meladeni tantangan dengan tanpa izin. Maka Mantingan diam saja terlebih dahulu, lagi pula dua lawan itu terlihat saling berimbang.


Pertarungan yang sangat cepat jika dilihat oleh manusia biasa, dilihat sebagai pertarungan yang kecepatannya sedang-sedang saja jika dilihat oleh Mantingan.

__ADS_1


Semakin lama, Nenek Genih semakin menguasai pertarungan. Pria tua yang menjadi lawan Nenek Genih terlihat mulai kewalahan, serangannya berubah menjadi pertahanan, bahkan pertahanannya itu berantakan sekali.


Baik Nenek Genih maupun Mantingan dapat melihat celah pertahanan yang amat besar. Maka dari itu, pertarungan dengan cepat diselesaikan setelah Nenek Genih mengirim serangan tapak tangan tepat di dada lawannya. Pria tua berjanggut putih tewas seketika.


Mantingan mengangguk pelan, merasa sama sekali tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Baru saja ia ingin berbalik meninggalkan tempat itu, suara Nenek Genih tiba-tiba terdengar di sampingnya. Mantingan terkejut bukan main saat ia berbalik dan menemukan Nenek Genih sudah berdiri tepat di sampingnya, bahkan semakin terkejut lagi setelah mendengar Nenek Genih menyapa padanya.


“Jalan-jalan cari angin, Anak Man?” Nenek Genih tersenyum hangat padanya, seolah-olah melupakan pembunuhan yang barus saja ia lakukan.


Mantingan salah tingkah. Ingin ia mengangguk, namun itu sama saja dengan berbohong. Ingin juga hanya tersenyum, tetapi itu tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik.


Maka Mantingan memilih untuk mengakuinya saja. “Nenek, Bidadari Sungai Utara berkata telah mendengar denting pedang setelah Nenek pergi. Dia khawatir Nenek dalam bahaya, maka aku dimintanya untuk ke sini. Tetapi sepertinya tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi.”


“Nenek, tidak baik berkata seperti itu.”


“Anak Man, marilah kita berjalan pulang sambil aku bercerita. Apa kau sudi mendengarkannya?”


Mantingan tersenyum hangat pula. “Tentu saja, Nenek.”

__ADS_1


Mereka berjalan bersisian, tidak ada yang di belakang dan tidak ada pula yang di depan. Nenek Genih mulai bercerita, dengan bahasa yang mengalir begitu saja bagai air terjun yang bermuara pada telaga. Menjadi sekumpulan kisah yang akan Mantingan ingat baik-baik dalam telaga pikirannya.


“Sudah lama aku jadi pendekar, Anak Man. Tiada terkira banyak jiwa yang melayang akibat jurus tapakku. Di dunia persilatan dulu, aku dikenal sebagai Perempuan Tapak Maut. Memang nama yang sedikit pasaran, tetapi orang-orang akan langsung bungkam mulut setelah mendengar nama itu.


“Bukanlah sesuatu yang dapat disombongkan atas itu, Anak. Aku malah merasa sedih dikenal sebagai Perempuan Tapak Maut yang selalu dikaitkan dengan pembunuh berdarah dingin. Empat puluh tahun malang-melintang di dunia persilatan, aku tidak pernah mendapat kekalahan. Padahal itulah yang aku inginkan: kekalahan. Dengan kekalahan, itu berarti aku mati, yang berarti pula aku tidak akan membunuh orang lagi.


“Tapi nyatanya, aku tidak pernah mengalami kekalahan. Aku tidak kunjung mati pula sampai sekarang. Sungguh itu sangat menyedihkan, Anak Man. Terlalu banyak dosa yang aku pikul di punggungku.”


Angin bersiur lambat membawa dedaunan tua yang telah jatuh dari pohonnya, tak jarang pula menjatuhkan daun muda di tangkainya. Pembicaraan masih berlanjut dengan Mantingan tidak menyela sama sekali sampai cerita Nenek Genih selesai.


“Empat tahun sudah aku mengundurkan diri dari dunia persilatan, tetapi tidak ada yang menerima pengunduran diriku. Banyak pendekar yang punya api dendam padaku, sehingga banyak pula yang masih mencariku hingga hari ini.”


Nenek Genih berhenti bicara. Dari raut wajahnya, dapat terlihat ia tak sanggup melanjutkan ceritanya lagi. Atau memang seperti itulah adanya, yang membuatnya tetap sedih. Memang seperti inilah kehidupan kependekaran, di mana penyesalan selalu datang di masa tua.


“Aku sedikit mengetahuinya, Nenek. Membunuh memang tidak menyenangkan.” Mantingan menghela napas panjang.


Nenek Genih menunjukkan senyum hangat pada Mantingan, walau tampak dalam senyumannya itu masih terkandung kesedihan mendalam. “Anak Man jangan bercanda, aku sudah mendengar sepak terjang dirimu di dunia persilatan. Orang berkata kau sangat jarang membunuh pendekar lain, dan hanya membunuh tatkala sudah sangat-sangat mendesak. Anak Man, kau yang menolong banyak kota itu, bukan?”

__ADS_1


Mantingan yang mendengar itu jadi tersenyum canggung, namanya ternyata sudah terkenal sampai di pelosok hutan seperti ini. Entah itu akan berakibat baik atau buruk. “Tidak, Nenek, aku hanya menolong satu kota saja.”


“Secara langsung kau memang hanya menolong satu kota saja, tapi secara tidak langsung kau telah menolong belasan kota dan ribuan orang tak bersalah lainnya.” Nenek Genih terkekeh pelan. “Anak Man, kau sudah memilih jalan yang benar. Tidak seperti diriku yang terlambat menyadari telah tersesat sejauh-jauhnya.”


__ADS_2