
MELAKUKAN RENCANA awal, Mantingan segera melesat menuju menara pengawas. Dirinya melumpuhkan empat musuh sekaligus yang berjaga di menara menggunakan ilmu totok dan beberapa jarum terbang.
Pelumpuhan itu dilakukan dengan sangat senyap. Selain suara besit jarum, maka tidak ada suara lain yang ditimbulkannya. Mantingan menjatuhkan semua lawannya begitu perlahan, sehingga tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Setelah melumpuhkan empat lawannya, Mantingan berhasil menguasai menara itu secara penuh. Ia melihat ke bawah, di mana dua prajurit yang menjaga pintu itu masih tidak menyadari kehadirannya sama sekali.
Kemudian ia melirik bangunan di sampingnya. Sekiranya di lantai tiga itu, terdapat jendela kecil yang memungkinkannya untuk masuk. Jendela itu terletak tepat di sebelah timur menara, sehingga bukan hal yang sulit bagi Mantingan untuk melompat ke sana.
Maka hal itu benar-benar ia lakukan. Karena itulah rencananya. Sedari awal, memang dirinya ingin menyerang menara, lalu masuk ke dalam lantai tiga, barulah turun ke lantai di bawahnya.
Kali ini, Mantingan tidak akan segan membunuh lawan-lawannya. Orang-orang seperti mereka hanya akan menimbulkan marabahaya di kemudian hari, merekalah yang pantas dimusnahkan. Mantingan telah melihat pertanda tersebut.
Dengan mudah Mantingan melompati bingkai jendela. Masuk ke dalam lantai tiga bangunan tersebut. Gerakannya begitu cepat, namun bayangannya itu masih dapat disadari musuh yang berada di ruangan tersebut.
Mantingan pula melihat musuhnya yang sedang membeliakkan mata di atas ranjangnya. Tanpa berlama-lama lagi, Mantingan mengirimkan dua buah jarum terbang ke arahnya. Tertancap tepat di leher orang itu. Segera saja kembali merebah tanpa nyawa di atas kasur.
Mantingan melihat ke sekitarnya. Ruangan tempatnya berdiri boleh dikata sangat mewah. Terdapat cawan-cawan emas yang pastinya berisi tuak berharga mahal, Mantingan dapat mencium aromanya. Ranjang di ruangan ini bukanlah ranjang murahan, terdapat kelambu besar yang agaknya hanya digunakan sebagai hiasan, kain yang melapisi ranjang tersebut adalah sutra.
Mudah bagi Mantingan untuk mengetahui bahwa ruangan ini adalah kamar pemimpin kelompok rampok. Atau setidaknya, pemimpin tertinggi di markas ini. Perlahan, Mantingan mendekati orang yang baru saja ia bunuh. Dilihat dari bentuk tubuhnya, jelas bahwa orang itu adalah pendekar. Bahkan, Mantingan dapat melihat ciri khas seorang pendekar ahli pada tubuh orang itu.
__ADS_1
Jika saja lawannya itu lebih bersiaga dan menyambut serangan Mantingan, maka akan tercipta pertarungan berimbang yang sama bahayanya bagi kedua belah pihak. Sayang sekali, orang itu tidak bersiaga sepanjang waktu, sehingga sangat mudah Mantingan menghabisinya.
Mantingan membuka pintu dan bergerak keluar. Dirinya tidak berkelebat melainkan berjalan tenang. Hanya saja, ia menggunakan ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Jikalau dirinya berkelebat, maka itu justru mengundang bahaya. Suara desau angin mungkin akan terdengar biasa-biasa saja di telinga orang awam, namun tidak di telinga pendekar. Dengan berjalan pelan tetapi lembut, Mantingan telah mengikis marabahaya yang mengincarnya.
Pemuda itu menjumpai beberapa pendekar yang berjalan di dalam lorong. Pendekar itu bahkan tidak sempat memasang raut wajah apa pun saat tubuhnya jatuh tak bernyawa. Mantingan meneruskan pergerakannya ke lantai bawah.
Di lantai dua, ia menjumpai banyak pendekar yang duduk melingkar. Kelihatannya, mereka tengah mengadakan pembicaraan serius. Hanya ada beberapa orang saja yang menyadari kehadiran Mantingan, dan beberapa orang itu kemudian membentak keras.
βHe, siapa orang bercaping itu?!β katanya sambil menunjuk Mantingan.
Secara naluriah, kawan-kawannya menoleh ke arah yang ditunjuk orang itu. Dijumpailah sesosok pemuda bercaping lebar yang wajahnya tidak tampak semua, hanya senyumnya saja yang tampak di wajahnya.
Mantingan bergerak teramat cepat. Dari dua tangannya, ia melepaskan belasan jarum beracun. Sebagian besar jarum itu mengenai lawan-lawannya, tetapi sebagian lagi tidak. Beberapa pendekar dapat bergerak dengan cepat untuk menangkis jarum-jarum tersebut.
Senyum Mantingan semakin lebar, tanpa berkata-kata lagi, ditariknya Pedang Kiai Kedai. Pendekar-pendekar itu melompat mundur saat Mantingan bergerak maju. Sama halnya dengan Mantingan, mereka menarik kelewang yang tersoren di pinggang.
Mantingan jelas mengetahui bahwa kelewang itu telah dilumuri racun mematikan, tetapi dirinya sama sekali tidak gentar. Tidak sedikitpun mengurangi laju jalannya.
Sesaat kemudian, terjadilah pertarungan yang tidak seimbang secara jumlah.
__ADS_1
Selama memakai pedang, Mantingan tidak bisa melepaskan jarum beracun maupun Lontar Sihir. Mungkin saja bisa, jikalau musuh-musuhnya tidak sekuat yang ia hadapi saat ini. Mantingan perlu memusatkan perhatiannya hanya kepada satu gaya bertarung.
Pedang Kiai Guru Kedai berkelebatan bersamaan dengan tubuh penggunanya. Mantingan bergerak cepat, tepat, dan indah. Selayaknya sedang menari-nari mengundang dewi kematian.
Cairan merah berterbangan. Pertarungan itu terjadi demikian cepatnya. Cepat pula lawan-lawannya kehilangan nyawa. Pakaian dan pedangnya penuh dihiasi noda-noda merah, yang akan terlihat indah tak peduli berasal dari mana noda-noda tersebut.
Ketika pedang lawan berhantaman dengan Pedang Kiai Kedai, maka pedang itu tidak akan bisa menahan lebih dari tiga hantaman. Itulah yang membuat diri Mantingan dapat mengungguli pertarungan.
Mantingan menyelesaikan lawan terakhirnya dengan serangan menusuk. Mantingan menarik napas panjang lalu melihat ke sekitarnya. Jamuan-jamuan yang tadinya ada di tengah ruangan, kini basah oleh cairan merah. Dinding-dinding ruangan tak ayal mendapat bercak-bercak merah. Cairan merah itu menggenang pula di atas lantai kayu, merembes ke lantai bawah.
Mantingan tidak bisa berdiam diri terlalu lama, sebab cairan tersebut telah merembes sampai ke lantai pertama. Dirinya harus menyerang sebelum musuh menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi.
Mantingan berkelebat menuruni tangga. Namun, agak-agaknya ia telah terlambat. Beberapa pendekar bergerak menaiki tangga dengan pedang terhunus. Begitu mereka melihat Mantingan, maka tanpa pikir panjang langsung menyerang.
Mantingan menyambut serangan musuh, lalu senyumnya memudar. Pendekar-pendekar yang ia hadapi bukanlah pendekar lemah. Sentakan-sentakan yang mereka hasilkan berhasil memaksa Mantingan untuk mundur beberapa langkah.
Mantingan merapatkan giginya. Ia terpukul mundur sampai ke lantai dua. Dirinya dikerumuni lima pendekar berkelewang panjang. Menyerang bagaikan angin ribut berpedang. Mantingan terus menangkis tanpa bisa melancarkan serangan.
Maka kini, Mantingan terpaksa mengeluarkan Lontar Sihir untuk membantunya. Walaupun itu terkesan sangat curang, tetapi Mantingan tidak menemukan jalan lain. Belasan Lontar Sihir Penjerat Elang ditebar. Aksara-aksara di dalam belasan lontar tersebut bercahaya, dengan cepat membentuk garis-garis jaring yang menjerat lima pendekar itu.
__ADS_1
Dengan Lontar Sihir Penjerat Elang tersebut, para pendekar merasa telah bertabrakan dengan tali-tali jaring. Terperangkap di dalamnya. Dengan ruang gerak terbatas itu, Mantingan dapat dengan mudah menghadapi lawan-lawannya. Lima pendekar itu hanya sempat menangkis satu-dua kali sebelum mati dihunjam Pedang Kiai Kedai.
Jaring-jaring cahaya dari Lontar Sihir Penjerat Elang mulai memudar hingga menghilang sepenuhnya. Dan kali ini, Mantingan tidak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan berdiam diri. Cepat-cepat ia melesat menuju lantai pertama, sebelum musuh kembali mencegatnya di anak tangga.