Sang Musafir

Sang Musafir
Mantra Pelindung untuk Kitab


__ADS_3

SENJAKALA tiba pula. Mantingan menutup jendelanya sesegera mungkin untuk kemudian kembali duduk di belakang mejanya. Semenjak peristiwa penyerangan pelabuhan yang berlangsung tatkala senja tiba, Mantingan jadi tidak terlalu menyukai senja. Lebih-lebih untuk saat ini, Mantingan tidak ingin diganggu pendekar-pendekar yang mencoba peruntungan dengan menyerangnya di waktu seperti ini.


Kembali lagi ia memegang pengutiknya, menyalin Kitab Teratai pada lembar-lembar lontar yang berserak di atas mejanya.


Setelah menulis hingga beberapa lembar lontar lagi, Mantingan meletakkan pengutiknya di atas meja sebelum menyandarkan punggung ke bangku. Dengan selesai menyalin Kitab Teratai, pemuda itu mengembuskan napas lega.


Namun, pekerjaannya tidak berhenti sampai di sana saja. Setelah lontar-lontar berisi salinan Kitab Teratai itu diikat dengan seutas tali menjadi sebuah keropak, Mantingan mulai menggurat mantra sihir untuk melindungi kitab salinan tersebut.


Dengan mantra sihir yang akan ia pasang, kitab itu tidak akan hancur dengan begitu mudahnya. Andaikata Mantingan menggunakan Pedang Kiai Guru Kedai dan segenap kekuatannya untuk menyerang sekeropak kitab salinan itu, maka ia membutuhkan setidaknya dua kali usaha penyerangan untuk dapat benar-benar menghancurkan kitab tersebut.


Selain itu, dengan mantra pelindung tersebut, isi kitab hanya bisa dibaca oleh orang-orang yang telah meneteskan darahnya pada mantra sihir tersebut. Untuk hal ini, Kana, Kina, dan Bidadari Sungai Utara sudah pernah meneteskan darah mereka pada Lontar Pengatur milik Mantingan.


Mantra pelindung yang Mantingan pasang kali ini merupakan salah satu mantra terkuat yang dikuasainya, serta merupakan satu-satunya mantra pelindung yang paling kuat untuk melindungi kitab-kitab berharga dari ancaman pencurian.


Tentu saja Mantingan melakukan ini bukan tanpa alasan. Bagi dirinya, Kitab Teratai merupakan kitab yang berisi ilmu kebenaran paling lengkap yang pernah dijumpainya. Jika sampai kitab tersebut dicuri, lalu diselewengkan isinya demi maksud dan tujuan tertentu, maka akan sangat gawat keadaannya.


Kitab Teratai mampu mengubah pandangan bahkan arah hidup masyarakat secara luas. Mengingat betapa kitab itu sebenarnya berisi tentang pedoman hidup serta hubungan antara manusia dengan Sang Hyang. Namun, Mantingan menemukan beberapa bagian di kitab itu yang sama sekali tidak menguntungkan bagi pemerintahan kerajaan yang tamak menggerus rakyatnya.


Andaikata sebuah kerajaan tidak suka dengan keberadaan Kitab Teratai, maka bukan tidak mungkin kitab tersebut akan dicuri oleh pendekar-pendekar suruhan yang bergerak dalam kesenyapan.


Tidak mudah bagi kerajaan untuk benar-benar memusnahkan kitab seperti itu dari wilayah kekuasaannya. Lebih-lebih lagi, upaya pemusnahan itu akan memunculkan kemungkinan pemberontakan dari pihak yang tidak setuju. Maka yang dapat dilakukan oleh kerajaan adalah dengan mengubah sedikit isi kitab tersebut, lalu menyebarkannya secara luas dengan dalih bahwa kitab tersebut telah dimatangkan secara resmi oleh ahli-ahli igama di kerajaan.


Maka Mantingan memutuskan untuk melindungi kitab tersebut dengan membuatnya hanya bisa dibaca oleh segelintir orang saja. Ia merasa bahwa Tarumanagara yang terkenal sebagai kerajaan yang gemar memakmurkan kehidupan rakyatnya sekalipun akan sulit menerima keberadaan Kitab Teratai.


Kamarnya yang gelap itu seketika saja menjadi terang oleh aksara-aksara bercahaya jingga merembak keluar dari dalam Lontar Sihir yang diguratkan Mantingan. Pemuda itu kemudian menutup matanya, mengendalikan aksara-aksara tersebut masuk ke dalam kitab salinan.


Satu demi satu, aksara-aksara tersebut melesat masuk ke dalam badan keropak. Menyatu dengan sampul kitab salinan. Setelah aksara terakhir melesat masuk, kamarnya secara serta-merta kembali menjadi gelap sebab telah kehilangan cahaya penerangnya.


Dada Mantingan kembang-kempis dengan cepatnya. Memasang mantra sihir tersebut, ia telah menguras habis tenaga dalam pada salah satu dari ketujuh cakranya. Bukan upaya yang mudah untuk membuat mantra tersebut.

__ADS_1


Kitab salinan itu kemudian dimasukkan ke dalam kotak penyimpanan. Mantingan duduk bersila di atas bangkunya untuk menyerap cadangan tenaga dalam di sekitarnya.


***


MANTINGAN mengetuk pintu kamar Bidadari Sungai Utara. Kali ini gadis itu membukakan pintu selebar-lebarnya tanpa merasa curiga terhadap siapa yang mengetuknya. Terlihat dirinya mencangklong dua bundelan berukuran besar di punggungnya.


“Baru saja daku hendak menghampirimu, Saudara.” Bidadari Sungai Utara berkata dengan suara yang sedikit bergetar. Agaknya di balik tabir cadarnya itu, dia tersenyum.


“Dikau tidak meminta bantuanku untuk mengemas barang-barangmu, Saudari?”


Bidadari Sungai Utara menggelengkan kepalanya pelan. “Dikau telah sangat banyak membantuku, Saudara. Daku tidak akan merasa enak jika harus merepotkanmu lagi.”


Mantingan menggelengkan kepalanya pula tetapi ia memutuskan untuk melupakan hal ini dengan cepat. “Biar kubantu bawakan bundelanmu, Saudari. Setelah itu, kita harus pergi ke kamar Kana.”


Bidadari Sungai Utara kembali menolak, tetapi Mantingan tidak menerima penolakan kali ini. Langsung saja diangkatnya dua bundelan itu dari pundak Bidadari Sungai Utara.


Sembari berjalan di lorong, Mantingan bertanya, “Kina masih ada di sana, bukan?”


Mantingan tersenyum lembut. “Kuharap mereka tidak sedang menyiapkan apa-apa untukku.”


Alis Bidadari Sungai Utara berkerut bingung. “Mengapakah demikian?”


“Mungkin diriku akan menangis.” Mantingan kemudian tertawa lebar.


“Oh, dikau bisa menangis pula rupanya,” kata Bidadari Sungai Utara tertawa kecil. “Kukira pemuda seperti dirimu selalu berhati beku dan tak kenal perasaan.”


Mantingan tersedak ludahnya sendiri di tengah tawanya. Sungguh, tidak pernah diduganya bahwa Bidadari Sungai Utara akan berkata seperti itu.


“Ah, setiap orang punya air mata. Jika tidak digunakan, lalu buat apa?”

__ADS_1


“Setiap orang punya perasaan cinta. Jika tidak digunakan, lalu buat apa?” Bidadari Sungai Utara melempar pertanyaan bernada sama.


Mantingan mampu membaca pertanda, lebih-lebih dirinya memang memiliki rasa kepekaan terhadap perasaan orang lain sejak awal. Sehingga ia tahu mengarah ke manakah kiranya ucapan Bidadari Sungai Utara itu. Mantingan memutuskan untuk diam.


“Daku bersungguh-sungguh pada pertanyaan itu, Saudara, daku sangat berharap engkau sudi menjawabnya.”


Mantingan menghentikan langkahnya; Bidadari Sungai Utara pun bertindak serupa. Berdirilah mereka di depan pintu kamar Kana.


“Setiap orang memiliki rasa cinta, tetapi tidak setiap orang harus menggunakannya untuk mencintai sesama manusia. Daku menggunakan rasa cintaku untuk Gusti dengan segala kebenaran-Nya.”


“Tetapi untuk apakah Sang Hyang menciptakan dua jenis manusia yang berbeda, jika tidak untuk saling mencintai satu sama lain?”


Mantingan menatap mata Bidadari Sungai Utara lamat-lamat. “Daku tahu ke mana arah pembicaraan ini—”


“Maka engkau pasti mengetahui bagaimana perasaanku, Mantingan.” Bidadari Sungai Utara balas menatapnya lekat-lekat, seolah tiada seorangpun akan mampu melepaskan tatapannya itu. “Kita akan berpisah sebentar lagi—”


“Daku akan mengikuti pelayaran kalian sampai di tengah laut.” Kini giliran Mantingan yang memotong.


“Tetapi kita akan berpisah dalam waktu dekat pada akhirnya, bukan?”


“Daku ikut atau tidak ikut kalian ke Champa, kita akan tetap berpisah.”


“Daku tahu!” Suara Bidadari Sungai Utara sedikit mengeras. “Kita akan tetap berpisah pada akhirnya, cepat atau lambat, begitu katamu bukan? Tetapi diriku tidak ingin adanya perpisahan tanpa dikau mengakui perasaan!”


___


catatan:


Jika merasa bahwa kisah ini begitu larut dalam percintaan, maka lihatlah kembali genre apa saja yang tercantum. Dan lagi pula, tokoh utama yang benar-benar terlibat dalam perasaan cinta yang sungguh rumit tiada jua bertemu ujung.

__ADS_1



__ADS_2