Sang Musafir

Sang Musafir
Pembunuhan Ketiga


__ADS_3

Masih berada di udara, masih juga Mantingan berpikir, sedang tujuh musuhnya semakin merapatkan jarak.


Mantingan mencapai suatu putusan. Ia membalik diri dan mendorong Dara kuat-kuat ke atas. Dara terhenyak, tidak menyangka apa yang baru saja Mantingan lakukan, dirinya berputar-putar di atas udara tanpa pegangan sama sekali.


Sedangkan Mantingan kembali membalik diri, melepas pedang dari sarungnya dan menatap tajam tujuh musuhnya.


Randu berada paling di depan, ia mengayunkan belatinya kuat-kuat, berusaha mengoyak leher Mantingan.


Gerakan belati itu seharusnya lebih cepat dari pedang Mantingan. Dibandingkan dengan pedang, belati bisa jauh lebih cepat gerakkan. Akan tetapi, Mantingan yang lebih tinggi ilmunya ketimbang Randu membuat pedangnya melaju lebih cepat ketimbang belati tersebut.


Pedang Mantingan mengincar leher Randu langsung. Baru beberapa saat pedang itu melaju membelah angin, Mantingan telah mendapatkan serangan dari pendekar lain di depannya. Mau tidak mau Mantingan membatalkan serangannya terhadap Randu, ganti menangkis belati pendekar yang tiba-tiba menyerangnya itu. Sedang serangan Randu dapat dengan mudah ia hindari.


Masih di udara dalam kecepatan tak kasat mata, Mantingan mengirim serangan membabat ke tubuh Randu dan kawannya itu. Tetapi tanpa diduga-duga pula, Sena sudah lebih dahulu melemparkan belatinya, terbang cepat mengarah ke arah kepala Mantingan.


Lagi-lagi Mantingan harus menarik serangannya, ganti menangkis belati yang dikirimkan Sena. Tangkisan Mantingan itu menciptakan percikan api dan suara denting logam yang sangat kuat. Hampir saja belati itu menancap di kepalanya, jika saja Mantingan tidak segera menangkisnya.


Dari adu logam itu, Mantingan bisa mengetahui sampai sejauh mana kekuatan Sena. Ketua komplotan itu mempunyai kekuatan yang sebanding dengannya, dan dia jadi satu-satunya pendekar terkuat dari enam pendekar tersebut.


Kini Sena tersenyum lebar pada Mantingan, senyuman yang mengisyaratkan kebencian besar.


Pertarungan tidak bisa terus menerus dilangsungkan di udara. Biar bagaimanapun, Mantingan akan tetap jatuh ke bawah, begitu pula dengan Dara dan tujuh pendekar lawannya. Maka setelah tidak ada pijakan lagi, mereka sama-sama meluncur ke bawah.

__ADS_1


Sebenarnya, ketinggian yang melebihi pucuk pohon ini cukup membahayakan keselamatan Mantingan. Mantingan terlalu kuat menapak, tanpa perhitungan yang matang. Tetapi hal ini bisa menjadi suatu keuntungan. Tujuh pendekar itu, kecuali Sena, memiliki tingkat kependekaran di bawah Mantingan. Jika Mantingan terluka akibat jatuh, maka mereka akan lebih terluka lagi.


Tetapi setelahnya Mantingan sadar, bahwa Dara jauh lebih lemah ketimbang tujuh lawannya itu. Di ketinggian seperti ini, bahkan dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, akan tetap berpotensi membunuh Dara.


Mantingan mencodongkan tubuh ke arah jatuhnya Dara, lalu menangkap tubuh Dara ke dalam dekapannya. Mantingan tidak peduli Dara akan marah atau menanggapnya seperti apa nanti, yang terpenting sekarang ini adalah keselamatan Dara. Sekali lagi Dara tidak percaya dengan apa yang Mantingan lakukan, terlihat dari matanya yang menatap Mantingan tak percaya.


Segera Mantingan menggunakan ilmu meringankan tubuh. Walaupun yang Mantingan pakai adalah ilmu dasar, tetapi ia yakin mampu menyelamatkan dirinya dan Dara. Mantingan juga memusatkan tenaga dalam di kedua kakinya.


Mereka turun perlahan, bagai sehelai daun yang baru saja lepas dari tangkainya. Hingga menyentuhlah dengan lembut di atas tanah.


Sebenarnya hal ini berada di luar dugaan Mantingan. Ia pikir kakinya akan cidera, atau bahkan patah. Tetapi lihatlah apa yang terjadi sekarang ini, mereka mendarat selembut kapas.


Tujuh pendekar yang merupakan lawan Mantingan itu mendarat dengan keras. Jelas kaki mereka terluka. Butuh waktu bagi mereka untuk bangkit.


Dengan gerakan secepat kilat, Mantingan menghampiri mereka. Sena sebagai pendekar terkuat di sana bangkit lebih dahulu, berkelebat ke depan Mantingan dan menghantamkan dua belatinya pada bilah pedang Mantingan.


Mantingan menarik pedangnya. Ditusukkan ke arah perut Sena. Gerakan Mantingan yang terlampau cepat dan kuat itu tidak bisa ditangkis belati Sena. Jikapun berhasil ditangkis, belatinya tidak akan kuat menahan gerakan pedang Mantingan.


Ujung pedang Mantingan berhasil menembus kulit dan lapisan otot Sena yang lumayan tebal. Terus melaju, tetapi harus terhenti sebelum menyentuh perut bagian dalam. Enam pendekar menyerang Mantingan bersamaan dari atas, dengan arah yang berbeda-beda.


Mantingan harus cepat dan tepat. Jika salah menghindar, ia akan terpapas belati dari pendekar lainnya. Terlebih musuh menyerang dari arah yang bermacam-macam. Mata Mantingan bergerak-gerak dengan cepat, meneliti kekuatan enam lawan di sekitarnya. Setelah menemukan lawan terlemah, Mantingan langsung melesat ke arahnya.

__ADS_1


Mendapat serangan tidak terduga dari Mantingan, pendekar itu bersiap-siap dengan cepat pula. Dengan gerakan asal tapi cepat, ia membabat Mantingan dengan dua belati di tangannya. Seluruh serangannya itu dilakukan sambil berteriak, tetapi tak satupun serangan yang mengenai sasaran. Hingga akhirnya perjuangan pendekar itu sempurna tatkala Mantingan berhasil menghunjamkan pedang ke jantungnya.


Mantingan memutar diri, dan melepas pedang dari tubuh lawannya. Ia kembali mendarat di dekat Dara.


Mantingan menoleh keenam pendekar yang masih berdiri kokoh melawan. Tampang mereka sangat geram, mengetahui satu kawannya telah terbunuh oleh Mantingan.


Sena berkata marah, “Badjing*n! Kau hanya mencari lawan yang lemah! Hayo, hadapi aku!”


Mantingan berkata tenang, “Aku akan menghadapimu hanya dalam pertarungan satu lawan satu.”


Sena tidak dapat bicara lagi. Meskipun tingkat kependekarannya seimbang dengan Mantingan, tetapi gerakan Mantingan jauh lebih terlatih. Pertandingan satu lawan satu tidak akan menguntungkannya. Selama ia berhadapan dengan Mantingan pun harus dibantu oleh kawan-kawannya, atau ia akan mati terpapas senjata Mantingan.


Tanpa banyak bicara lagi, Sena dan kawan-kawannya maju dengan amarah yang meletup-letup. Mantingan menganggap itu sebagai penolakan tawaran tanding satu lawan satu. Maka dirinya turut maju ke hadapan, mencari lawan yang pertahanannya lemah untuk ia hadapi terlebih dahulu.


Mantingan masih enggan memakai jarum beracun sebelum situasi benar-benar mendesaknya. Baginya, jarum beracun adalah cara yang agak curang jika dipakai di luar kesepakatan bersama. Tetapi biar begitu, Mantingan tetap melapisi pedangnya dengan racun. Sehingga lawan bisa lumpuh bahkan mati hanya karena tergores bilah pedang Mantingan. Walau sedikit saja tergores, itu tetap sangat berbahaya.


Setelah berhasil memilih lawan, Mantingan melaju semakin cepat ke arahnya. Lawannya itu bisa dikatakan siap-tidak-siap, karena amarahnya yang membuat dia tidak siap, juga amarahnya yang membuat dia siap. Melihat Mantingan datang menerjangnya ia melempar satu belati ke arah Mantingan, satu belati yang tersisa disiagakan jika belati pertama tidak mengenai sasaran.


Menghindari serangan lempar itu, Mantingan tidak perlu banyak bergerak. Bahkan ia terlihat sama sekali tidak bergerak saat belati itu tiba-tiba saja melewatinya. Dengan lawannya yang hanya memegang satu belati, Mantingan dapat dengan mudah melawannya.


Dengan gerakan bagai seberkas kilatan saja, Mantingan telah mengayunkan pedangnya ke leher pendekar tersebut. Berhasil memisahkan kepala dengan badannya. Kawan-kawan di sampingnya sungguh tidak sempat membantu rekannya, hingga amarah mereka semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


Mantingan menapak sekali sebelum tubuhnya bergerak ke belakang. Ia mengimbangi lima pendekar itu yang masih saja terus melaju ke depan. Amarah mereka tidak saja pada Mantingan, melainkan pada Dara pula. Hingga serentak mereka menuju Dara, berniat menjadikannya sandera.


__ADS_2