
ORANG BERTOPENG membuka suara. “Aku menotoknya dengan ilmu dasar, kau tidak perlu ributkan, aku tidak harus membuka totokannya.”
Paman Bala tidak mengangguk, tidak pula membalas, namun ia paham bahwa ilmu dasar totokan dapat dilepaskan dengan mudah olehnya. Diam-diam Paman Bala juga bersyukur orang bertopeng itu telah menotok putrinya sebelum dirinya sendiri yang menotok dengan Ilmu Totokan Angin. Jika saja putrinya tidak ditotok, sudah pasti gadis itu akan berlari padanya dan membuat semua musuh curiga.
“Wanita ini sangat merepotkan, kami baru bisa melepasnya jika kau mau membayar lima Batu. Tidak ada penawaran yang kubuka.”
“Akan kubayar!” Paman Bala berkata lantang. Merogoh kantung pundi di pinggangnya dan mengeluarkan lima bongkahan batu tembus pandang seukuran jaring kelingking. Langsung saja melempar kelima-limanya itu pada orang bertopeng.
Dengan sebat si orang bertopeng menangkap seluruh Batu yang dilemparkan Paman Bala ke udara. Orang itu melirik Paman Bala selintas lalu memeriksa lima Batu di tangannya.
Mantingan cukup terkejut melihat Paman Bala begitu mudah melempar lima bongkah Batu yang bernilai 5.000 keping emas itu seperti melempar batu biasa. Mengartikan bahwa putrinya itu jauh lebih berharga ketimbang lima bongkah Batu. Paman Bala membelinya tanpa menawar sedikitpun.
“Pria gila, untuk apa kau membeli manusia jelek ini?” Orang bertopeng itu berkata datar dengan tatapan tajam menjurus pada Paman Bala.
“Apakah tidak cukup jelas bagimu, wahai orang yang bertopeng aneh?” Paman Bala mengancungkan jari telunjuknya pada Mantingan. “Sengaja bagiku membeli wanita jelek agar orang ini tahu betapa dirinya tidak cantik sama sekali.”
Mantingan sungguh tidak tersinggung, malahan merasa terpuji oleh perkataan Paman Bala. Bukankah dirinya adalah seorang pria yang semesti-mestinya sama sekali tidak cantik?
Untuk pertama kalinya, orang bertopeng tertawa. Tawa yang sangat berbeda dengan tawa orang pada umumnya. Tawanya itu mengandung ***** pembunuh yang sangat kuat, bisa membuat siapa saja ketakutan hanya karena mendengar suaranya.
“Kau ambil dia, dan bersenang-senanglah kalian bertiga.” Menghentikan tawanya, orang itu kemudian menunduk dan menatap tajam wajah putri Paman Bala di hadapannya. “Dan jika kau bosan, kau bisa menjualnya kembali, di sini.”
Paman Bala mengangkat tubuh putrinya ke atas pundaknya. Dengan totokan yang mengenai aliran syarafnya, putri Paman Bala tidak bisa berkutik. Namun terlihat ia meneteskan air mata.
__ADS_1
“Lak, kita harus mencari orang baru lagi.” Orang bertopeng itu berbicara pada temannya di sudut ruangan, seolah tidak mempedulikan lagi Paman Bala dan Mantingan yang masih ada di ruangan itu.
“Kita pergi, Ratna.”
Setelah mengatakan itu, Paman Bala berbalik dan mulai melangkahkan kaki. Begitu pula dengan Mantingan yang dipanggil Ratna itu.
Tangan Paman Bala menyentuh gagang pintu dan menariknya ke belakang. Namun, tidak sesuatu pun yang terjadi. Pintu tidak bisa terbuka. Paman Bala mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar pada tangannya, ditariknya pintu itu sekali lagi. Tetap tidak berkutik.
“Sepertinya kita tidak perlu pergi ke atas untuk mencari orang baru.” Terdengar suara tawa pelan. “Pastikan pisaunya terasah tajam, daging yang akan kita potong kali ini agak alot.”
Paman Bala menghela napas panjang sebelum menurunkan putrinya di atas lantai. Dengan sedih pria parobaya itu membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja.
“Pintu ini terkunci oleh mantra sihir, Pahlawan Man, sayangnya aku akan membutuhkan waktu untuk mematahkan mantra sekuat ini.”
“Oh ternyata, banci rendahan.” Terdengar ucapan bernada meledek dari salah satu orang-orang bertopeng itu.
Jumlah semua lawan adalah tiga, dengan kemungkinan masih ada orang lain di ruangan lain yang tertutup tirai. Mantingan bisa menentukan bahwa seluruh lawannya memiliki tingkat ilmu di atasnya. Ia hanya bisa berdoa, semoga saja Lontar Sihir dapat membantunya memenangkan pertarungan nanti. Walau harapannya setipis harapan menemukan Kembangmas.
“Kalau sudah seperti ini, kau tidak bisa lari lagi.” Rara berjalan ke samping Mantingan. “Kau harus menghadapi mereka. Kali ini, nyawamu benar-benar dipertaruhkan. Jika diibaratkan sebuah dadu, maka kau mendapat lima tanda kematian di dari enam permukaan dadu. Tolong jangan mati, lakukan yang terbaik untukmu dan untukku.”
Mantingan mengangguk pasti. Bukankah Rara ada di sampingnya saat ini dalam wujud yang benar-benar nyata? Sekalipun Mantingan mati hari ini, maka setidaknya ada Rara di sebelahnya. Menemani saat-saat terakhirnya. Dan dapat dipastikan, Mantingan akan tersenyum padanya.
“Pikiranmu itu buruk sekali, Mantingan,” kata Rara. “Tapi lakukanlah yang terbaik untukku jika tidak mau melakukannya untukmu.”
__ADS_1
Mantingan tidak lagi berucap di dalam benaknya, langsung mengucap melalui mulutnya. “Aku akan melakukannya untukmu.”
“Pahlawan Man.” Paman Bala melangkah dan berhenti di samping Mantingan. “Mereka bukan tandingan kita jika beradu tarung secara langsung. Karena itu, kita harus memanfaatkan Lontar Sihir untuk melawan mereka.”
“Paman Bala, kita bisa bekerja sama. Ada tiga jurus sihir berkepasangan yang aku kuasai.”
“Sebutkan saja, Pahlawan Man.”
“Jurus Kera Melempar Buah, Jurus Naga Membelah Badai, dan yang terakhir adalah Jurus Rembulan dan Matahari.”
Paman Bala menganggukkan kepala. “Aku menguasai dua jurus pertama yang kausebutkan. Namun jurus ketiga itu berasal dari Perguruan Angin Putih. Aku tidak menguasainya.”
“Hm, apakah kita harus membiarkan mereka bercakap-cakap dahulu sebelum kita memotong mereka.” Salah satu orang bertopeng berkata sambil tertawa pelan.
“Ingat kata orang bijak, jangan menunda-nunda pekerjaan, atau pekerjaan akan semakin menumpuk saja.”
Suara mereka ditimbun oleh suara Paman Bala yang harus lebih Mantingan perhatikan. “Kita gunakan Jurus Naga Membelah Badai. Dengan jurus itu, kita bisa dengan mudah menghadapi mereka semua sekaligus.”
Mantingan mengangguk. Memang seperti itulah Jurus Naga Membelah Badai, dikhususkan untuk menghadapi lawan yang banyak sekaligus. Mantingan menyiapkan kotak lontar dan pengukirnya untuk mencipta mantra.
“Mereka orang-orang gila, Pahlawan Man. Mereka semua harus dibunuh sebelum kita bisa keluar dari tempat ini.”
Mantingan kembali mengangguk, ia akan senang hati membunuh orang-orang seperti mereka yang perlakuannya sudah keterlaluan. Jika mereka tidak segera mungkin dihentikan, maka akan semakin banyak lagi orang yang menjadi korban perbuatan mereka. Sungguh mereka bukanlah manusia, mereka adalah jelmaan iblis. Harus segera dimusnahkan!
__ADS_1
Beruntunglah mereka berdua, sebab ruangan yang akan menjadi tempat pertarungan ini berada di dalam lorong sepi yang jauh terpisah dari kegiatan manusia.