Sang Musafir

Sang Musafir
Mantingan Tidak Mengerti Wanita


__ADS_3

“Sahaya belum memiliki, baru pertama kali datang ke kotaraja.” Mantingan menjawab jujur.


“Sedangkan Saudari yang sedang tertidur itu?”


“Dia memilikinya.” Mantingan kemudian menyenggol Chitra Anggini yang merebah sambil berkemul di sebelahnya. Meski memejamkan mata, gadis itu tidak mungkin tidur.


“Ada apa? Kau sangat menggangguku!” Chitra Anggini berkata malas-malasan yang bahkan tanpa membuka matanya.


“Tanda pengenal.”


Dengan malas-malasan pula, Chitra Anggini menarik pundi-pundi yang tergeletak di sebelahnya. Mengeluarkan sebuah lencana kayu, lalu melemparkannya kepada Mantingan.


“Jangan sampai hilang.” Itulah kalimat terakhir dari Chitra Anggini sebelum kembali merebahkan kepalanya. Terpejam.


Meskipun teramat bingung dengan sikap Chitra Anggini, Mantingan tetap memberikan lencana tersebut kepada prajurit yang berdiri tepat di samping pedatinya itu.


Setelah mencermati lencana milik Chitra Anggini, prajurit itu menganggukkan kepalanya. Dikembalikanlah lencana itu ke tangan Mantingan. “Saudara-Saudari berdua harus turun pedati untuk urusan pemeriksaan. Kami juga harus memeriksa pedati kalian. Apakah ada yang keberatan?”


Mantingan tahu bahwa dirinya jelas tidak memiliki pilihan lain. Menyatakan keberatan sama saja dengan menyatakan diri sebagai ancaman yang telah sepantasnya ditangkap. Tepat setelah dirinya mengatakan sudah bersedia, Chitra Anggini tiba-tiba mengeluarkan perkataan menolak.


“Katakan kepada prajurit itu, daku tidak bisa turun.” Chitra Anggini berkata antara lemah dan malas. Jelas saja kalimat itu ditunjukkan kepada Mantingan, namun terdengar sampai ke telinga sang prajurit.


“Maaf, tetapi mengapa Saudari tidak bersedia?” tanya prajurit itu yang dengan sengaja menunjukkan bahwa dirinya sedang mengelus gagang kelewangnya.


Chitra Anggini tidak membalas. Hanya mengeluh pelan sambil meringkuk. Wajahnya penuh dengan kerutan, seperti sedang menahan sakit. Mantingan lekas mengetahui bahwa dirinyalah yang mesti menjawab pertanyaan prajurit itu.


“Dia sedang menjadi wanita, Saudara Prajurit.”


...****************...

__ADS_1


DAHI prajurit itu berkerut. Tidak mengerti. Namun sekejap kemudian, dia tampak seperti telah menyadari sesuatu. “Saudari harus tetap keluar ….”


“Sudah kukatakan daku tidak bisa!” Chitra Anggini membentak keras tanpa ancang-ancang. Sontak mengejutkan Mantingan dan prajurit itu. “Jangan menggangguku! Daku tidak bisa berjalan, apalagi sampai digeledah! Seluruh badan rasanya tidak enak!”


Mantingan sungguh tidak terlalu mengerti dengan apa yang sedang terjadi sebenarnya! Mungkinkan Chitra Anggini sedang sakit badan? Ataukah dia sedang menjadi wanita, yang sebenar-benarnya wanita adalah mereka yang perasaannya sering berubah-ubah tanpa berketentuan? Mantingan tidak dapat menentukan mana yang benar dari perkiraannya itu, sehingga memilih untuk diam sambil mencermati keadaan betul-betul.


“Yang akan menggeledah Saudari adalah prajurit wanita. Saudari tidak perlu merasa takut.”


“Apakah itu lelaki atau perempuan, daku tidak peduli! Pokoknya, daku tetap tidak mau digeledah hari ini. Datanglah besok-besok saja!” bentak Chitra Anggini yang kini bahkan telah menatap mata prajurit itu tajam-tajam. Seolah hendak menelannya hidup-hidup. “Dan bukankah di lencanaku itu telah tertera dengan sejelas-jelasnya bahwa daku sudah banyak kali berkunjung ke kotaraja? Mestikah dikau mencurigaiku juga sekarang ini, wahai prajurit yang selalu menjunjung tinggi kehormatan wanita?”


Prajurit itu menggaruk kepalanya. Menghadapi bentakan-bentakan kasar Chitra Anggini yang tak terbantahkan, siapakah kiranya yang tidak akan kewalahan?


“Baiklah! Sesuai peraturan, mereka yang telah berkunjung sebanyak sepuluh kali ke kotaraja tanpa menimbulkan keributan macam apa pun akan diberi kelonggaran. Di dalam lencana itu, ternyatakan bahwa Saudari telah berkunjung ke kotaraja sebanyak lima belas kali tanpa ada catatan keributan Maka setelah ditambah dengan datang bulan, maka Saudari akan dibebaskan dari penggeledahan. Namun, Saudara ini tidak begitu.”


Mantingan segera melompat turun dari pedatinya. “Daku tidak keberatan sama sekali, Saudara Prajurit.”


Prajurit itu menganggukkan kepalanya puas sebelum meminta salah satu rekannya untuk memeriksa Mantingan.


***


MANTINGAN menganggukkan kepalanya. Pemeriksaan telah selesai dengan cepat. Tidak ditemukan apa-apa yang mencurigakan di pedati Mantingan. Satu-satunya benda yang dicurigai adalah Pedang Savrinadeya, yang pada mulanya tidak berbentuk pedang sama sekali sebab telah terbungkus sempurna di dalam kain, dan masalah selesai setelah prajurit mengetahui bahwa itu adalah sebuah pedang biasa yang bahkan tidak memiliki sarung—betapa mirisnya pedang itu sehingga sama sekali tidak dicurigai sebagai benda pusaka yang mampu membelah rambut menjadi tujuh bagian!


Chitra Anggini lolos dari pemeriksaan, dengan peta bangunan bawah tanah istana yang masih tersimpan aman di balik dadanya. Mantingan tidak mengerti alasan apa yang membuat Chitra Anggini urung digeledah, tetapi ia tahu bahwa betapa pun perempuan itu telah melakukan sesuatu yang teramat cerdas.


“Kami berdua adalah pasangan, Saudara Prajurit. Tidak bisakah jika dirinya ikut bersamaku ke penampungan?” Mantingan berkata lancar, tetapi menelan ludah pahit dalam benaknya. Dengan segala keterpaksaan mengatakan bahwa Chitra Anggini adalah pasangannya, maka mungkin saja prajurit itu memperbolehkannya membawa perempuan ke penampungan.


“Tentu saja itu diperbolehkan, tetapi Saudara dan Saudari hanya boleh mengambil satu kamar saja.”


Jika keduanya adalah pasangan, tentulah tidur di satu kamar bukanlah masalah sama sekali, bahkan telah menjadi suatu kewajiban tersendiri! Mantingan tersenyum tipis sambil berterimakasih.

__ADS_1


“Jika Saudara dan Saudari hendak mengikuti Perhelatan Cinta yang akan berlangsung lima hari lagi, maka Saudara dapat meminta petugas yang ada di penampungan untuk membuatkan rangkaian surat kepersertaan Perhelatan Cinta. Itu akan memudahkan segala urusan serta mencegah Saudara-Saudari berdua dari keterlambatan.”


Sekali lagi Mantingan tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia tidak mengatakan akan mengikuti atau tidak mengikuti Perhelatan Cinta, berjaga-jaga jikalau sampai terjadi perubahan rencana yang menuntut keduanya untuk mengikuti Perhelatan Cinta.


“Di sepanjang jalan nanti, akan ada banyak petunjuk arah menuju pusat penampungan. Beraksara Sanskerta dan berbahasa Sanskerta pula. Tetapi jika Saudara mengalami kesulitan dengan petunjuk-petunjuk itu, maka cukuplah dengan menanyakan kepada orang kota, tetapi jangan pada orang bertampang asing—mereka biasanya tidak menghapal jalan menuju penampungan. Orang setempat ramah dan murah hati, jadi Saudara tidak perlu sungkan sama sekali.”


***


PEDATI yang ditumpangi Mantingan dan Chitra Anggini kembali bergerak. Munding menariknya perlahan memasuki kotaraja. Mantingan menyandarkan punggung di pinggiran pedati, tepat di sebelah Chitra Anggini yang kini mulai bangkit duduk.


“Chitra, sekarang jawab pertanyaanku.” Langsung saja raut wajah Mantingan terlihat bersungguh-sungguh. Ditatapnya Chitra Anggini lamat-lamat. “Katakan kepadaku yang sebenar-benarnya. Sejujur-jujurnua. Apa pun jawabanmu, aku tidak akan marah.”


“Pertanyaan apa?” Chitra Anggini memotong, dirinya tidak pernah melihat kesungguhan Mantingan seperti ini hanya untuk sebuah pertanyaan. Perempuan itu khawatir jika salah satu rahasia besarnya terbongkar. Tetapi setelah dia pikirkan kembali, rahasia besar semacam apakah yang mampu membuat Mantingan seserius itu?


Di sisi lain, Chitra Anggini juga tidak mau kehilangan pemandangan kotaraja—yang mungkin saja telah berubah banyak semenjak terakhir kali dia datang.


“Apakah kau adalah wanita jadi-jadian? Maksudku, apakah kau ini sebenarnyalah lelaki, tetapi kemudian berubah menjadi wanita?”


Chitra Anggini tenganga, begitu lebarnya hingga seolah saja dagunya itu akan menyentuh tanah!


Melihat keterkejutan Chitra Anggini, Mantingan segera menyadari bahwa terdapat sesuatu yang aneh dari pertanyaannya. Namun sungguh, ia tidak mengetahui keanehan macam apakah itu!


“Tadi kau mengatakan sedang menjadi wanita. Secara jujur, dengan sebenar-benarnya jujur, aku tidak mengerti itu berarti apa. Tolong jelaskanlah.”


Chitra Anggini mengubah raut wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Tangan perempuan itu meremas bahu Mantingan, lantas menggeleng perlahan. “Aku sangat mengasihanimu, Mantingan. Dan aku sama sekali tidak menyangka bahwa dalam beberapa perkara, terutamanya perkara wanita, pengetahuanmu teramat sedikit. Nanti akan kujelaskan panjang lebar setelah kita tiba di pusat penampungan. Untuk saat ini, aku hanya akan mengatakan kepadamu bahwa aku adalah wanita yang sebenar-benarnya wanita. Aku bukan wanita jadi-jadian atau apa pun itu. Kau mengerti?”


Mantingan menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak terasa gatal. “Aku sudah meninggalkan rumah saat masih berusia belasan. Tentang perkara wanita, orangtuaku belum banyak mengajarinya kepadaku.”


Chitra Anggini kembali menggeleng iba. “Baiklah, aku akan mengajarimu banyak hal tentang wanita nantinya, termasuk cara memperlakukannya dengan sebaik-baiknya pula. Tetapi untuk sekarang ini, aku sama sekali tidak mau melewati pemandangan kotaraja dari dalam, dan kurasa kamu juga tidak mau melewatkannya.”

__ADS_1



__ADS_2