
KATA-kata dari mulut Chitra Anggini terus meluncur bagai air terjun di tepi jurang tinggi.
“Tetapi sehebat apa pun seorang Kartika Anggini, dia tidak akan dapat menahan gempuran dari selusin pendekar tingkat menengah sekaligus. Lebih-lebih lagi, Pendekar Kelewang Berdarah telah dapat dianggap sebagai pendekar tingkat ahli.
“Tepat sekedipan mata sebelum kelewang musuh menyambar batang leher kakakku, kerbaumu yang entah datang dari mana, tiba-tiba saja menyeruduk tubuh pendekar yang sedang menyerang itu, berikut dengan kelewang yang terlepas dari tangannya. Kakakku lepas dari maut.
“Menurut pengakuan kakakku, dirinya melihat ukuran kerbau itu bertambah besar dua kali lipat. Tubuhnya berwarna merah. Diselimuti api. Tanduknya memanjang hingga setengah depa, berkilauan dipantul cahaya api di badannya, jelas saja tajam bukan bualan.
“Kerbaumu terus mengamuk. Menyeruduk salah seorang pendekar musuh terdekat dengannya. Membunuhnya dalam seketika. Lalu bergerak lagi, mencari pendekar lain.
“Pendekar Kelewang Berdarah segera mengambil tindakan dengan berkelebat ke arah kerbau itu. Sepasang kelewangnya terangkat tinggi. Dihunjam kuat-kuat ke bawah. Dan, BAH!”
Mantingan tersentak di tempat duduknya. Chitra Anggini berhasil membuatnya tegang penuh dengan cara penceritaannya itu. “Apa yang terjadi dengannya?!”
“Dia terus berlari mengincar pendekar-pendekar lain. Mereka semua tunggang-langgang. Kerbaumu tidak terluka barang segores pun. Kakakku berhasil menghalau serangan Pendekar Kelewang Berdarah yang mengarah kepadanya. Lalu katanya, ‘Dikau adalah lawanku’.”
Mantingan mengembuskan napas lega. “Chitra, daku bukanlah anak kecil yang sedang dikau ceritakan dongeng. Jangan membuatku tegang.”
“Apa salahnya? Daku senang membuat orang lain tegang.” Chitra Anggini mengangkat bahunya, tidak peduli, sebelum kembali melanjutkan ceritanya. “Kerbaumu terlalu ganas. Kebal senjata pula. Dibacok berkali-kali tidak ambruk, hanya menimbulkan luka, itu saja kecil dan tidak dapat dianggap membahayakan. Pendekar Kelewang Berdarah akhirnya memerintahkan sisa anak buahnya untuk memancing kerbau itu menjauh, sebab beberapa kali kedapatan membahayakannya yang sedang bertarung melawan kakakku.
“Anak buahnya tentu mengetahui bahwa perintah itu dapat berarti kematian. Tetapi mereka memang tidak memiliki banyak pilihan. Jika pemimpin mereka, yakni Pendekar Kelewang Berdarah, mati karena serudukan kerbau gila itu, maka mereka juga akan mati di tangan Kakak Kartika.”
Mantingan tiba-tiba memotong, “Jadi kerbauku menghilang?!”
__ADS_1
Chitra Anggini menatap Mantingan dengan malas. Betapa kecemasan tercetak jelas di wajah pemuda itu. Namun meskipun begitu, Chitra Anggini tetap tidak suka jika perkataannya dipotong begitu saja tanpa perizinan semacam apa pun.
“Dengarkan dulu,” katanya kemudian. “Kerbaumu memang berhasil terpancing dan kemudian berlari pergi meninggalkan gelanggang pertarungan. Kakak Kartika tidak dapat menahan kepergiannya, sebab dirinya sendiri pun masih dalam keadaan terdesak menghadapi Pendekar Kelewang Berdarah. Namun ketika pagi telah tiba, kerbaumu kembali ke tanah lapang itu, tepat sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju Lembah Balian.”
Mantingan menarik napas panjang. Menyimpan rasa penasaran dan kekhawatirannya. Berusaha tidak memotong.
“Melihat dikau tidak sadarkan diri, kerbaumu yang telah kembali dengan wujud awalnya itu hanya bisa mengikuti rombongan kami sambil sesekali mengeluh panjang penuh kedukaan. Kami semua yang mendengarnya, merasa teriris. Ketika malam tiba, lenguhannya jauh lebih keras dan panjang. Dia tidak mau makan, bahkan mengibaskan ekornya ketika satu-dua kawanku berusaha mengelusnya.
“Setelah tiba di Lembah Balian, tiba-tiba saja dia berderap pergi dengan wujud silumannya. Tidak ada satupun dari kami yang berani menghentikannya. Lebih-lebih, kakakku melarang kami untuk mengejar kerbau itu. Terlalu berbahaya.”
“Lantas di mana dia sekarang?” Mantingan tidak dapat menahan kebuncahannya, sehingga kembali memotong perkataan Chitra Anggini tanpa sadar. “Kejadiannya baru kemarin, bukan?”
Chitra Anggini mengangkat sebelah tangannya tinggi-tinggi. Berlagak hendak melayangkan tamparan ke wajah Mantingan, tetapi urung pula melakukannya.
Mantingan sama sekali tidak tampak takut. Hanya kegusaran yang tampak dengan teramat jelas di wajahnya. Tidak lebih dan tidak kurang. Berkatalah ia, “Lekas lanjutkan kembali ceritamu.”
Kartika menurunkan lengannya itu. Menarik napas dalam-dalam, berusaha kembali tenang. Maka kembalilah dirinya bercerita, “Kerbaumu kembali ke tempat ini tepat tengah malam. Daku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa di mulut kerbau itu terdapat beberapa tumbuhan obat langka yang entah bagaimana bisa didapatkannya. Dia meletakkan tetumbuhan itu di atas tanah, begitu saja, sebelum kembali berderap pergi, lenyap ditelan kegulitaan malam. Sampai sekarang, dia belum kembali, tetapi kami semua yakin bahwa dia akan kembali dengan keadaan selamat.”
Pada akhirnya, Mantingan dapat mengembuskan napas lega. Betapa pun, ia tahu bahwa Munding Caraka akan kembali dengan secepat mungkin. Mantingan pula menjadi terharu bukan main, kerbau itu mencari tetumbuhan obat pastilah karena dirinya masih belum sadarkan diri. Kecemasannya bagai hilang sudah. Tak berbekas sama sekali di wajahnya.
“Dikau sangat beruntung mendapatkan kerbau itu,” kata Chitra Anggini lagi. “Dari manakah dikau mengambilnya?”
Mantingan menggeleng pelan. “Daku bukan mengambilnya; daku membelinya dari sebuah peternakan di Pasemah.”
__ADS_1
Dahi Chitra Anggini terlipat. “Di peternakan? Mantingan, dikau tidak sedang bergurau, bukan?”
“Untuk apa daku bergurau denganmu?” Mantingan mengangkat alisnya.
“Lupakan.” Chitra Anggini menggelengkan kepala. “Dikau sudah puas dengan cerita itu, bukan? Daku bisa pergi sekarang?”
“Tunggu. Masih ada hal yang ingin kutanyakan.” Mantingan berdeham beberapa kali sambil membetulkan bentuk duduknya. “Di malam itu, daku ambruk dan tak sadarkan diri tepat setelah berkelebat, bukan? Nah, seharusnya saat itu daku sudah mati karena cairan racun yang menyelimuti tubuhku masih belum dibersihkan, tetapi mengapa pula diriku masih tetap hidup hingga sekarang? Maksudku, tentu saja daku bersyukur dan teramat sangat senang dengan kenyataan ini, tetapi daku masih belum menemukan penyebabnya dan merasa perlu untuk menemukannya.”
Entah mengapa, Chitra Anggini tersenyum lebar. Kedua pipinya bersemu merah. Matanya menampilkan sinar jahil.
“Tentu saja seharusnya dikau segera mati pada malam itu, sebab betapa pun tubuhmu tidak lekas dibersihkan dari cairan racun berbentuk keringat yang melekat. Beruntunglah diriku dan seluruh pemain wayang yang tersisa langsung bertindak.”
Chitra Anggini memang tidak meneruskan perkataannya, tetapi Mantingan sungguh tahu kelanjutannya. Dan memanglah seharusnya tidak perlu dilanjutkan lagi. Wajahnya terasa memanas!
“Agak aneh jika dikau tidak menyadari bahwa baju yang dikau kenakan saat ini telah berganti, bukan?” Chitra Anggini berkata enteng.
Mantingan masih membeku selama beberapa saat. “Mengapakah ... mengapakah harus semua pemain wayang? Mengapakah ... mengapakah tidak dirimu saja?”
Chitra Anggini mengangkat bahunya. “Entahlah, mungkin mereka hanya penasaran saja.”
Mantingan mengumpat keras dalam benaknya. Tersenyum sepahit-pahitnya, bagai tiada senyum yang dapat lebih pahit ketimbang itu. Pantaslah dirinya ditertawakan oleh beberapa perempuan wayang ketika sedang mencari Kartika pagi tadi!
“Lihatlah, wajahmu tampak seperti kepiting rebus!” Chitra Anggini tiada kuasa menahan tawanya, tepat sebelum dirinya beranjak pergi dan meninggalkan Mantingan seorang diri di teras itu.
__ADS_1