Sang Musafir

Sang Musafir
Kecurigaan


__ADS_3

Mantingan menyerahkan kudanya pada Dara. Orang-orang kembali berkumpul ketika melihat Dara hendak pergi, mereka hendak melepas kepergian sosok pujaannya itu.


Mantingan dan Dara melompat naik ke atas kuda. Mereka saling berpandangan sekali dan mengangguk, mulai memacu kudanya tanpa satupun yang menghalangi lagi. Hari masih cukup jauh untuk disebut senjakala. Namun, biarpun senjakala masih jauh, perjalanan yang cukup lama nantinya akan sangat berbahaya. Jika malam hari telah tiba, entah bahaya apa yang akan Mantingan hadapi nanti.


Bukannya Mantingan takut. Ia hanya khawatir Dara akan celaka. Dirinya bisa melindungi diri sendiri, tapi mungkin tidak jika harus dengan Dara sekaligus.


Perjalanan mungkin akan selesai pada malam hari. Kota tempat tinggal Dara berada di Gunung Kubang, sedangkan mereka saat ini berada di sisi timur Cupunegara, membutuhkan banyak waktu dan jarak untuk mencapai wilayah Gunung Kubang. Itu saja jika kuda mereka terus melaju tanpa istirahat. Maka dari itu Mantingan menyiapkan kemungkinan terburuknya, dan tetap mengharapkan kemungkinan terbaiknya.


Jika terburuknya mereka harus bertarung menghadapi pendekar-pendekar aliran hitam, Mantingan telah menyiapkan sebuah rencana penyelamatan. Tetapi ia enggan terlalu memikirkan rencana penyelamatan yang sebenarnya telah matang itu, Mantingan tidak mau terlalu khawatir dengan pendekar-pendekar aliran hitam itu. Terlebih, Mantingan tidak takut lagi dengan orang-orang pencipta kekacauan.


Kuda terus melaju, membawa mereka keluar dari kota. Keduanya kembali masuk ke daerah hutan rimbun. Udara terasa lebih segar dihirup. Dedaunan ringan berguguran, rela diterjang kuda Mantingan dan Dara. Matahari meskipun berada di tengah langit, namun tidak terlalu terik. Di musim penghujan seperti ini, memang paling baik menikmati suasana perjalanan. Sebelum hujan datang, sebab akan sangat merepotkan perjalanan jika hujan tiba-tiba turun.


Kuda Mantingan dan Dara terus melaju berdampingan. Selama di perjalanan yang panjang itu, matahari perlahan-lahan lengser ke barat. Langit barang tentu menjingga, sebentar lagi akan berubah menjadi gelap.


Buruknya lagi, selama perjalanan tidak satupun penginapan terlihat. Jangankan penginapan, kedai pun tidak terlihat. Mantingan menganggap hal ini wajar, maraknya perampokan pastinya telah membuat pemilik kedai memilih untuk menutup kedainya di wilayah hutan sepi.


Jalanan yang sedari siang tadi Mantingan lewati juga terlihat jarang dilewati. Batu-batu ukuran sedang berserakan, rumput-rumput tinggi tumbuh di jalan. Dedaunan jatuh berserakan di mana-mana. Tidak terawat lagi jalan yang Mantingan dan Dara lewati itu.


Merasa malam akan segera datang, Dara berkata cemas pada Mantingan. “Mantingan, apakah kita tidak sebaiknya berhenti dan membangun tenda?”


“Dara, aku tidak menduga perjalanan kita ini akan sampai malam, aku tidak membawa tenda.” Mantingan mulai menyesali keputusannya tidak membawa banyak barang dalam bundelannya.


Dara semakin cemas. “Maafkan aku, ini salahku.”

__ADS_1


Mantingan menggeleng pelan dan tersenyum. “Tidak ada yang mesti diributkan, yang penting untuk kita adalah cepat sampai di kotamu.”


Dara mengangguk sekali sebelum memacu kuda lebih cepat lagi.


Sementara itu matahari semakin lengser ke barat, hingga tidak dapat dilihat lagi oleh Mantingan dan Dara. Perlahan-lahan langit mulai menggelap.


Benar-benar setan. Jika malam hari, mereka baru berani muncul. Menyebarkan ketakutan. Nyatanya, manusia seperti itulah setan yang sebenarnya.


Belum juga terlihat satupun penginapan. Jika ada bangunan di pinggir jalan, maka bangunan itu tak berpenghuni dan telah dirusak. Mantingan geram, aliran hitam memang tidak pernah merasa senang jika tidak menimbulkan kekacauan.


Kiai Guru Kedai pernah berkata padanya, bahwa aliran hitam sebenarnya bukanlah aliran tanpa tujuan yang jelas. Mereka memiliki tujuan yang sudah lama diidam-idamkan bahkan sebelum ilmu persilatan tenaga dalam ada di Dwipantara. Mereka menginginkan kekuasaan. Sama seperti aliran putih yang juga menginginkan kekuasaan. Hanya caranya saja yang berbeda. Jika aliran putih melakukan pendekatan yang halus, maka aliran hitam melakukan pendekatan yang kasar.


Pernah suatu aliran hitam menang, berkuasa secara sah. Pemerintahan yang mereka terapkan tidaklah seburuk pikiran orang-orang. Pemerintahan mereka sangat biadab, tetapi tidak ditunjukkan secara langsung. Mereka menciptakan undang-undang yang sekaan mensejahterakan, yang tanpa disadari memperbudak rakyatnya. Mereka menciptakan berbagai cerita, berbagai drama politik, berbagai kecurangan; asalkan untung yang mereka raup jauh lebih besar ketimbang modalnya yang sedikit.


Jika melihat keadaan pemerintahan Taruma saat ini, maka pemerintahan lebih condong dikendalikan oleh aliran putih. Banyak orang-orang dari golongan partai putih yang mendapat jabatan di istana. Penasihat-penasihat kerajaan juga diisi oleh orang-orang partai putih. Kekuatan balatentara kerajaan diatur oleh aliran putih.


“Berhenti Dara!” Mantingan berteriak sambil menarik kekang kudanya. Dara yang mendengar itu lekas-lekas menarik kekang kudanya. Dua kuda itu meringik nyaring sebelum berhenti sempurna.


Di antara suara dengkus napas kuda, Mantingan mendengar suara-suara lain, karena itulah ia meminta Dara berhenti. Jika sudah mendengar suara-suara mencurigakan, Mantingan memilih untuk berhenti dan memeriksa, bisa saja di depan telah disiapkan jebakan.


Karena Mantingan mempelajari ilmu dan kitab beraliran hitam, ia jadi mengetahui bagaimana pendekar-pendekar aliran hitam bersikap.


Sebuah siasat jadul mereka ialah menyiapkan jebakan di depan, sedangkan mereka menunggu di belakang untuk membantai sasaran.

__ADS_1


Mantingan menajamkan pendengaran. Di dengar olehnya beberapa suara napas yang sengaja dilambatkan. Jumlahnya sembilan. Setidaknya ada sembilan pendekar yang memiliki ilmu pernapasan tingkat tinggi, hingga mereka bisa menyamarkan suara pernapasan mereka dengan suara angin. Tetapi Mantingan masih bisa mengenali suara napas ini sebagai suara napas yang dikeluarkan manusia.


“Mantingan, ada apa? Jangan membuatku takut,” kata Dara setengah berbisik, setengah takut.


Mantingan menggeleng pelan. “Lebih baik kita turun dan jalan pelan-pelan ke depan.”


Dara menyadari sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sekitarnya, berkatalah dengan cemas. “Mantingan, jika ternyata nantinya aku mati di sini, mohon maafkan aku atas sikap cerobohku.”


Mantingan menepis itu. “Jangan katakan itu.”


Mantingan turun dari pelana kuda, menggandeng kudanya untuk berjalan ke depan. Dara mengikuti apa yang Mantingan lakukan, berjalan tepat di sisinya.


“Mantingan, pedangmu masih ada bersamaku, maukah kau mengambilnya?” Dara berbisik.


Mantingan tidak menjawab, hanya menggeleng, masih sempat juga ia menunjukkan senyum.


Hingga akhirnya langkah Mantingan terhenti, ia juga menyuruh Dara untuk berhenti. Benar saja dugaannya, di depan mereka telah melintang seutas benang tipis setinggi lutut. Jika mereka menginjak atau menabraknya, entah kejutan apa yang akan menyambut mereka.


Menyadari bahwa Mantingan dan Dara tidak berhasil ditipu, sembilan sosok bayangan yang sembunyi di dalam pohon kini mulai menyerbu mereka. Mantingan mengetahui dan sudah siap menghadapi mereka. Ia melirik Dara di sampingnya yang tak mengetahui serbuan itu, tangan Mantingan menarik gagang Pedang Kiai Kedai yang ada di pinggang Dara, lalu melesat dan menghilang.


____


Catatan:

__ADS_1


Halo. Grup chat WestReversed telah tersedia, ya. Perlu diketahui bahwa grup ini dikhususkan untuk pembaca berkontribusi. Jika merasa sudah menjadi pembaca yang bergabung.


Bonus berupa 2 episode akan diposting hari Senin. Terima kasih😁


__ADS_2