Sang Musafir

Sang Musafir
Kak Maman


__ADS_3

SEMAK BELUKAR rubuh. Semuanya, secara perlahan. Bagai diterpa angin beliung yang membawa ribuan pisau bermata teramat tajam, memberantas semak belukar yang nyaman melambai-lambai di atas tanah. Tanpa ampun dan tanpa terkecuali. Itulah Mantingan, yang memotong rumput dengan memanfaatkan kemampuan pendekarnya. Pedang Kiai Kedai dengan segala hormat dipakainya untuk memotong rumput, dibawanya berputar-putar. Sementara itu, Kana hanya bisa diam dan ternganga tanpa bisa berbuat sesuatu pun.


Tak lama kemudian, tubuh Mantingan muncul kembali di sampingnya. Berdiri tegak. Bernapas tenang. Seolah tidak baru saja melakukan hal yang hebat.


“I-itu ... Kakak yang perbuat?”


“Ya.” Mantingan mengangguk pelan. “Jika kamu ingin menerima kerjasama dengan Kakak, maka bersihkan semua semak belukar itu dengan baik.”


Masih dengan sedikit gagap, anak itu kembali berkata. “Bagaimana caranya?”


“Ada banyak cara untuk menyingkirkan sampah semak belukar,” jawabnya. “Apakah Kakak perlu menyebutkannya satu-satu?”


Kana lekas menggeleng. “Tidak perlu, aku tahu caranya.”


Mantingan tersenyum lalu mengangguk berjalan meninggalkan anak itu.


Namun, Kana kembali memanggilnya. “Kakak.”


Mantingan berhenti tanpa berbalik. “Ya?”


“Siapa nama Kakak?”


“Mantingan,” jawabnya. “Jika seseorang bertanya padamu tentang namaku, katakan saja namaku adalah Jaya.”


Kana mengangguk sekali lagi. “Baiklah.”


***


MANTINGAN KEMBALI ke kamar Kana untuk memeriksa keadaan Kina. Sesampainya di dalam, Mantingan melihat Kina sudah bisa membuka kelopak mata dan menggerakkan bola matanya untuk melihat ke sekeliling. Menyadari itu, Mantingan merasa cukup senang.


Saat mata Kina menangkap keberadaan Mantingan, bocah malang itu lekas berteriak keras. “Orang jahat! Orang jahat! Kakak, tolong!”


Mantingan mengangkat tangannya dan mencoba menenangkan anak itu dengan perkataan lembut. “Kina, tenanglah.”


“Orang jahat! Bagaimana kau bisa tahu nama Kina?!”


“Aku tidak jahat, sungguhan!”


“Kina tidak percaya! Kakak Kana, datanglah! Ada orang jahat di sini!”


Terdengar suara keras saat seorang bocah laki-laki mendorong pintu kuat-kuat. Mantingan yang berada tepat di belakang pintu tak ayal terkena imbas itu, ia terdorong kuat ke samping.

__ADS_1


“Di mana orang jahat itu, Kina?!”


“Itu dia, bersembunyi di belakang pintu!”


Dengan kalap Kana menarik pintu. Ditemukanlah Mantingan yang sedang memegangi pinggang dan kepalanya.


“Kakak Mantingan? Kakak sedang meniru monyet?”


“Tentu saja tidak. Kau mendorong pintu terlalu kuat.”


Kana tampak tidak peduli. “Kakak Mantingan lihat orang jahat yang lewat di sekitar sini tidak?”


“Tanyakan itu pada Kina.”


“Dia orang jahatnya, Kakak! Kenapa Kakak malah mengobrol dengannya?”


Kana membalikkan badannya menghadap Kina dan berkacak pinggang. “Dia ini namanya Kakak Mantingan. Dia bukan orang jahat, telah menyembuhkan Adik.”


“Lalu, kenapa dia masuk tanpa izin?”


“Kakak Mantingan akan tinggal di sini, Adik ....”


Mantingan berjalan beberapa langkah ke depan. Menunjukkan senyum hangat.


“Adik, Kakak Mantingan ini sudah menyembuhkan Adik. Ingat tidak nasihat Ibu?”


Kina menganggukkan kepala pada kakaknya, lalu menoleh ke arah Mantingan. “Terima kasih, Kakak Maman.”


Mantingan tidak bisa menahan tawanya saat mendengar dirinya dipanggil seperti itu. Kana dan Kina menatapnya aneh sampai pemuda itu menghentikan tawanya. Secara jujur, Mantingan cukup senang dipanggil seperti itu.


“Kana, sudah selesaikah tugasmu? Apa kamu tidak mau menerima kerjasama dengan Kakak?”


“Aku baru saja mulai bekerja, sampai Kina memanggilku, mengira Kakak ini adalah orang jahat.”


Mantingan tersenyum canggung. “Kalau begitu, lekas selesaikan sebelum siang berganti malam.”


Kana mengangguk dan berniat pergi, namun Mantingan meraih tangan bocah itu sebelum benar-benar pergi. “Kamu suka dendeng?”


“Dendeng? Daging yang dikeringkan itu? Aku pernah mencicipinya sekali, itu enak sekali.”


Mantingan mengangguk. Menyuruh Kana menunggu. Ia merogoh bundelannya, mengeluarkan lima keping dendeng. “Ini tidak bisa langsung dimakan, beri sedikit air atau direbus terlebih dahulu.”

__ADS_1


Kana memandangi lima keping dendeng yang dijulurkan Mantingan ke arahnya. “Maksud Kakak? Ini untukku?”


Mantingan mengangguk sekali lagi. “Iya. Anggap saja untuk merayakan kerjasama kita.”


Kana tersenyum bahagia, tangannya bergerak mengambil lima keping dendeng dari tangan Mantingan. Menyisihkan satu di antaranya, dan mengulurkan empat keping dendeng lainnya pada adiknya.


Mantingan tidak mau melihat hal-hal yang menyedihkan sekali lagi, lekas ia berkata, “Kina akan mendapatkan dendeng yang lebih banyak. Itu untukmu, Kana.”


Senyum di bibir Kana semakin merekah. Sungkan berterimakasih, bocah itu lekas pergi ke bawah. Mantingan tidak mempermasalahkan hal itu, sebab ia belum berusaha mengubah sifat Kana menjadi lebih baik. Lalu ia beralih pada Kina.


“Apakah Kina suka dendeng?”


“Kina suka sekali,” katanya.


Mantingan tersenyum. “Kalau begitu, aku akan mengeluarkan lebih banyak dendeng lagi. Kina mau berapa keping?”


Kina menyentuh dagunya dengan jari telunjuk dan berpikir sejenak. “Tiga keping saja cukup untuk Kina.”


“Kalau begitu ....” Mantingan mengeluarkan enam keping dendeng. “Enam untuk Kina yang mau sembuh.”


Anak perempuan berambut pendek itu menyunggingkan senyum selebar yang ia bisa. “Kak Maman ini sepertinya memang orang yang baik.”


Mantingan hanya tersenyum menanggapi itu. Ia agak ragu, apakah dirinya adalah orang yang baik? Sebab, menurut Bidadari Sungai Utara, Mantingan dipandang sebagai pria yang buruk. Maka dari itu, dengan segala maaf ia tidak membalas ucapan Kina.


Mantingan hanya bisa mengeluarkan wadah panci dan mengisinya dengan sedikit air. Di sanalah ia meletakkan enam keping dendeng. Daging kering itu menyerap air dengan cepat, mengubahnya menjadi jauh lebih empuk. Mantingan melirik Kina yang tampak sudah tidak sabar, padahal ini hanyalah dendeng kering yang diberi air tawar. Rasanya akan hambar. Makanan yang bahkan tidak disukai Bidadari Sungai Utara.


“Apakah sudah boleh dimakan, Kak Maman? Perutku sudah sangat lapar.”


“Tentu saja, maaf Kakak belum beli garam.”


Kina mengatakan bahwa itu bukanlah masalah, anak itu kemudian berusaha bangkit duduk. Mantingan tangkas membantunya. Saat Mantingan menggenggam tangan Kina, betapa teriris perasaannya. Ia merasa menggenggam sebatang kayu, bukan tangan manusia. Hampir saja Mantingan meneteskan air mata, tapi sebagai pria ia harus menahan itu.


Kina meraih panci itu, mengambil sekeping dendeng yang hampir-hampir lembek. Langsung melahapnya sedikit demi sedikit. Mantingan tidak mau memperhatikan lebih lama, ia tidak mau melihat hal yang menyedihkan sekali lagi. Maka Mantingan bangkit, hendak keluar untuk melihat kinerja Kana.


“Kakak Maman mau ke mana? Ini ada dua keping untuk Kakak.”


Mantingan berbalik, tersenyum hangat. “Kakak punya banyak dendeng, Kina. Itu untuk Kina.”


Kina mengerucutkan bibirnya. “Apakah Kina tidak boleh berbuat baik?”


Mantingan kembali turun dan duduk bersila di hadapan Kina. Ia mengambil sekeping dendeng di dalam panci itu. Kina menunjukkan senyum sangat bahagia. Mantingan menyuap dendeng itu sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


__ADS_2