Sang Musafir

Sang Musafir
Tiada Penginapan Lain di Desa Sawahan


__ADS_3

“Dikau tidak menyertaiku di pertemuan sepenting itu?!”


MANTINGAN tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. “Bukankah sudah kukatakan sebelumnya bahwa kejadian itu berlangsung dengan begitu cepat? Jangankan untuk mengabarimu, mengabari Munding saja tidak sempat.”


Chitra Anggini memalingkan wajah. Cepat sekali melupakan kekesalannya, sebab segala keindahan yang tersaji di sekelilingnya itu terlalu sayang untuk dilewatkan. Kembali Chitra Anggini memandangi barisan angsa di depannya.


“Kita sudah terlalu dekat dengan peradaban. Kita harus segera turun ke daratan.”


Chitra Anggini menoleh. Enggan mengakhiri segala keindahan ini. Mantingan menatapnya tegas. Perempuan itu lantas menunduk dan mengangguk.


***


CHITRA Anggini tidak jadi tidak senang. Pemandangan yang ada di daratan tidaklah kalah indahnya dengan pemandangan di atas sana. Sama-sama luar biasa.


Pesawahan terbentang luas seantero mata memandang. Di tengah petak-petak padi, atau di atas pematang yang membatasi petak-petak itu, terdapat titik-titik kecil yang bergerak. Jika dilihat lebih tajam dan seksama lagi, maka akan terlihat bahwa titik-titik kecil yang bergerak itu adalah para petani yang sedang bekerja menanam pagi.


Di awal musim hujan seperti ini, memang merupakan waktu yang teramat tepat untuk mulai menanam padi. Air melimpah ruah, lebih dari cukup untuk mengairi petak-petak sawah. Tanah akan menjadi lumpur, mudah sekali untuk dibajak kerbau. Sehingga, di pagi hari seperti ini, keramaian di pesawahan tidak lagi menjadi hal yang mengejutkan.


Sedangkan di tengah jalan yang kiranya berukuran dua kali pedati gerobak yang membentang di antara pesawahan itu, dua manusia dan satu kerbau bergerak lamban dan santai. Itulah Mantingan yang berjalan di depan, dan Chitra Anggini yang berjalan di belakang, sedangkan Munding berjalan di sisi kiri mereka.


Kedua muda-mudi itu mengenakan caping jerami lebar yang Mantingan beli di pasar tempo lalu. Sebenarnya, Chitra Anggini sama sekali tidak suka mengenakan caping, seterik apa pun matahari bersinar, tetapi perempuan itu tetap memakainya setelah Mantingan berkata bahwa caping lebar akan banyak membantu menutupi wajah.


Tidak satupun dari Mantingan dan Chitra Anggini mengetahui apakah akan ada orang telaga persilatan yang dapat mengenali wajah mereka sepanjang melewati pesawahan ini. Jadi alangkah baiknya, mengenakan caping saja.


Mantingan tetap menyoren sepasang pedang di punggungnya. Melintang. Hanya saja, Pedang Savrinadeya tidak tampak berbentuk pedang, sebab dibebat kain hingga berlapis-lapis. Perlu diingat bahwa Pedang Savrinadeya masih belum memiliki sarung, tetapi bilahnya yang teramat sangat tajam itu mesti selalu dilindungi agar tidak membahayakan sesuatu tanpa dikehendaki. Sedangkan untuk karat, Mantingan sama sekali tidak takut Pedang Savrinadeya akan karatan jika terlalu sering dibiarkan di udara terbuka, sebab pedang itu berbahan dasar batu mestika, bukan logam.


“Ini benar-benar jalan menuju kotaraja, bukan?” Mantingan bertanya pelan pada Chitra Anggini di belakangnya. Selama ini, perempuan itulah yang lebih banyak memandu jalan.

__ADS_1


“Benar,” jawab Chitra Anggini. “Ini adalah jalan yang selalu kulewati untuk mencapai kotaraja Koying.”


“Bukankah jalan ini terlalu sepi untuk seukuran jalur utama menuju ibukota sebuah kerajaan besar?”


“Siapakah yang berkata bahwa jalan yang kita lewati ini adalah jalan utama menuju kotaraja? Tidak sama sekali, jalur yang kupilih ini justru jarang diketahui orang kebanyakan.”


Sambil berjalan Chitra Anggini menjelaskan bahwa terdapat banyak jalur menuju kotaraja, meski lebih banyak yang menggunakan jalur utama untuk beberapa alasan.


Jalur-jalur selain jalur utama itulah yang kemudian dimanfaatkan para pendekar jaringan bawah tanah untuk dapat sampai di kotaraja dengan penuh kerahasiaan.


“Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak pendekar jaringan bawah tanah yang berseliweran di sekitar kita.” Begitulah perkataan Chitra Anggini sempurna membuat Mantingan menoleh ke arahnya dengan tampang wajah terkejut. “Tetapi hampir tidak ada yang mau berurusan dengan kita. Mereka memiliki kepentingan masing-masing yang mesti diselesaikan tepat waktu, yakni dengan tidak terlambat dan tidak pula terlalu cepat. Sudah dapat dipastikan mereka tidak akan menyempatkan diri untuk berhenti dan menantang kita bertarung. Terkecuali jika kita berdua memiliki silang sengketa dengan mereka.”


Mantingan langsung paham. “Apakah kelompokmu memiliki silang sengketa dengan kelompok jaringan bawah tanah lain?”


Gadis jelita itu menggelengkan kepalanya. “Tidak. Eh, maksudku, tidak terlalu banyak. Hanya satu-dua perkumpulan saja, seperti Kelompok Kelewang Berdarah.”


Hanya terdengar helaan napas panjang dari Chitra Anggini. Gadis itu tentunya tidak mampu berkata-kata lagi, tetapi membenarkan perkataan Mantingan. Urusan dengan Kelompok Kelewang Berdarah amatlah kacau setelah Kartika berhasil membunuh pendekar utama dari kelompok itu.


Dalam kebisuan, Mantingan dan Chitra Anggini sama-sama berharap agar Kelompok Kelewang Berdarah tidak menyimpan dendam, sebab pembunuhan dan kematian di dunia persilatan bukanlah sesuatu yang patut sungguh-sungguh dipermasalahkan. Bukankah kesempurnaan yang dicari-cari oleh para pendekar adalah kematian dalam pertarungan? Akan tetapi, masihkah hakikat dasar dunia persilatan itu berlaku di jaringan bawah tanah yang serba berkepentingan?


***


MANTINGAN dan Chitra Anggini memutuskan untuk menyusun rencana sebelum benar-benar tiba di kotaraja. Mereka memang harus menyelamatkan Tapa Balian barang secepat mungkin, tetapi bukan berarti itu dilakukan dengan tergesa-gesa.


Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kartika, Mantingan akan kalah telak jika hendak melawan Kerajaan Koying dengan mengandalkan kekuatan, tetapi berkemungkinan dapat menang jika mengandalkan siasat yang benar-benar matang.


Sehinggalah saat ini, Mantingan dan Chitra Anggini akan tinggal di sebuah penginapan desa barang satu-dua malam sebelum melanjutkan perjalanan menuju Koying.

__ADS_1


“Hanya tersedia satu kamar saja.”


Mantingan menepuk dahinya saat mendengar itu dari penjaga penginapan. Ini sama seperti cerita-cerita kependekaran yang dikisahkan para juru hikayat, di mana pendekar pria dengan pendekar wanita harus tidur di satu ranjang sebab kamar penginapan tempat mereka menumpang telah habis. Mestikah dirinya mengalami itu pula bersama Chitra Anggini?


Mantingan rasa, itu sama sekali tidak harus. Dirinya bisa mencari penginapan lain di desa itu.


Seolah dapat membaca jalan pikir Mantingan, penjaga penginapan yang duduk di belakang meja itu segera berkata, “Tidak ada penginapan lagi. Di Desa Sawahan ini, hanya kami saja yang buka penginapan. Kecuali jika awak berdua mau tidur di kedai-kedai makan, bersama kecoak dan tikus.”


Mantingan menjadi bimbang seketika itu pula. Diliriknya Chitra Anggini. Minta pendapat. Perempuan muda itu melempar tatapan meyakinkan sebelum menganggukkan kepala.


___


catatan:


Daftar bonus episode sebelum tanggal 30 April 2022.


Favorit 1370\= 2 episode [TERPENUHI]


Favorit 1400\= 5 episode [+3 EPS]


Vote 950\= 2 episode [TERPENUHI]


Vote 1000\= 5 episode


Bonus episode untuk 950 vote: 1/2


Sisa bonus episode dirilis besok ya.

__ADS_1


__ADS_2