Sang Musafir

Sang Musafir
Dua Mantra yang Tersisa


__ADS_3

"Paman Bala, letakkan saja putri Paman duduk bersandar di tembok. Kita harus menyelesaikan mantra dua mantra sihir yang tersisa."


PAMAN BALA tanpa berlama-lama lagi meletakkan putrinya dalam keadaan duduk tegak bersandar pada dinding ruangan. Kemudian ia berjalan kembali ke samping Mantingan. Luka yang disebabkan oleh benturan tadi masih belum menghilang sepenuhnya.


“Paman, mereka sedang lengah. Kita harus bergerak cepat,” kata Mantingan masih dalam Ilmu Bisikan Angin. “Saat ini, mari kita satukan lontar sihir kedua.”


Sebelum musuh sempat mengambil tindakan, tangan Mantingan dan Paman Bala telah berkelebat cepat menyatukan Lontar Sihir di tangan mereka. Sekali lagi, ribuan aksara bercahaya berhamburan, terbang ke atas sebelum menyatu dan bersanding dengan aksara yang telah lebih dulu tercipta.


Saat itulah musuh berkelebat, mengincar Mantingan dan Paman Bala. Karena sangat tidak mungkin bagi mereka untuk merusak dua aksara yang melayang di atas, sungguh membutuhkan keahlian dan kerumitan untuk memecahkan mantra Jurus naga Membelah Badai.


Semuanya terjadi dengan amat begitu cepat. Seperti yang telah dikatakan, Mantingan akan menahan serangan musuh sedangkan Paman Bala akan menuliskan lontar bagiannya.


Namun sebelum Mantingan melesat menyambut musuh, telah lebih dahulu ia papas bumbung racun di dalam pundi-pundi Paman Bala. Sungguh ia meminta maaf dalam benaknya pada Paman Bala, karena telah bersikap sedemikian tidak sopan.


Kemudian Mantingan melaju. Selama melayang, pemuda itu membuka tutup bubung racun. Melemparkan sedikit air racun ke depan, ditembus oleh Pedang Kiai Kedai, jadilah pedang itu dilapisi cairan racun mematikan.


Pertukaran serangan terjadi di udara. Kilatan-kilatan terpercik tatkala dua senjata saling beradu. Kilatan cahaya semakin menjadi-jadi, tanda pertukaran serangan semakin meningkat. Kelebatan bayang-bayang dan riuh angin di dalam ruangan itu semakin menambah ketegangan.


Paman Bala masih terus berkutat pada mantra yang sedang dibuatnya. Mantra terakhir, atau mantra ketiga, bukanlah sesuatu yang mudah dibuat. Memakan waktu yang lebih lama daripada dua mantra sebelumnya. Maka itulah, Mantingan telah merumuskan rencana agar mereka berdua dapat berhasil menyempurnakan mantra sihir Naga Membelah Badai.

__ADS_1


Suara denting keras tercipta. Api yang terpercik bukan lagi bunga api kecil, melainkan ledakan. Mantingan muncul dari udara dan mendarat di lantai dengan kaki terseret. Sedangkan dua lawannya juga mendarat dengan cara yang sama.


Mantingan terbatuk-batuk. Beberapa kali ia harus menahan serangan kuat, yang mengakibatkan pengendalian pada napasnya hilang. Seandainya ia tidak berlatih cara mengatur pernapasan, maka menang melawan tiga musuhnya itu bukan sesuatu yang dapat diharapkan.


Saat Mantingan menghadapi pertarungan tak kasat mata tadi, ia menemukan bahwa ketiga musuhnya memang berniat tidak langsung membunuhnya. Musuh-musuhnya sungguh bermaksud mengambil kesenangan dari penderitaan Mantingan, terlihat dari serangan yang hanya mengincar kaki dan tangan Mantingan.


Mantingan menarik napas dalam-dalam sekali lagi. Kakinya mengentak keras. Tubuhnya kembali berkelebat ke depan. Dan terjadilah seperti yang tadi pernah terjadi.


Sedangkan Mantingan masih terus berkecimpung di dalam pertarungan penuh risiko, Paman Bala hampir menyelesaikan mantra Jurus Naga Membelah Badai. Namun, belasan pisau terbang dari lingkaran pertarungan tiba-tiba saja meluncur dengan cepat ke arahnya. Paman Bala menyadari itu dari suara gesekan angin yang terdengar.


Paman Bala tidak bisa menghindar. Ada putrinya tepat di belakang punggungnya. Jika Paman Bala menghindar, maka belasan pisau terbang itu akan menghujani tubuh putrinya. Tentu saja putrinya tidak bisa menghindar, Paman Bala tidak sempat melepas totokannya.


Maka berdasarkan pertimbangan yang ia putuskan dalam waktu singkat, Paman Bala melepas Lontar Sihir di tangannya dan mengambil golok di pinggangnya. Ia mengibaskan goloknya, dihantamkan padanya semua pisau terbang. Tak satupun pisau terbang yang menembus pertahanan.


Mantingan yang melihat hal itu hanya bisa mendesah pelan. Ia menyetujui tindakan Paman Bala adalah langkah yang benar. Namun, ia tetap khawatir tidak bisa menahan musuh lebih lama lagi. Mantingan sendiri telah beberapa kali hampir terpapas tangannya oleh kerambit musuh.


“Paman, kali ini aku minta cepatlah!” Mantingan mengirim bisikan angin pada Paman Bala di sela-sela pertarungan, dibalas dengan anggukan.


Setelah mengeluarkan Lontar Sihir baru, Paman Bala kembali menuliskan mantra Naga Membelah Badai. Penulisan mantra kali ini berlangsung sedikit lebih mudah dan bisa dipercepat, sebab Paman Bala barus aja melakukan hal yang sama dengan yang ia lakukan saat ini.

__ADS_1


Mantingan mati-matian menghadapi serangan tiga musuh yang menyerangnya di segala arah. Mantingan terus meliuk-liukkan tubuhnya. Beruntung pedang yang ia miliki bersifat lentur, sekali ayunan bisa menangkis dua serangan.


Sama seperti Paman Bala, pekerjaan yang Mantingan lakukan saat ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Bukan pula pekerjaan yang sulit. Ini pekerjaan yang sangat-sangat sulit. Berbahaya; mengancam jiwa. Lengah barang sekejap mata dapat mengantarnya pada kematian.


Benar saja. Sebuah bertubi-tubi dari atas kepala Mantingan membuat pemuda itu secara tidak sadar menunduk di udara. Namun, tanpa diduga-duga, datang serangan dari bawah kakinya. Mantingan menarik kakinya sedikit ke atas dan memiringkan tubuhnya. Dua serangan dari atas dan bawah berhasil dihindari, tetapi Mantingan melupakan bahwa masih ada serangan dari sampingnya.


Keadaan Mantingan saat itu tidak memungkinkan untuk kembali menghindar. Tak ayal, sebilah kerambit menyasar pergelangan tangannya. Mantingan masih bisa menyadari serangan dan sesegera mungkin menarik pergelangan tangan yang diincar musuh.


Sedikit saja telat. Cukup satu kejapan mata saja. Mantingan akan kehilangan lengan kanannya. Putus tanpa bisa terpasang kembali. Mantingan masih bisa menghindar di waktu yang hampir tepat. Mengapa dikatakan hampir tepat? Sebab, lengan tangan kanan Mantingan tetap saja teriris ujung bilah kerambit.


Itu bukan luka yang lebar. Bukan juga luka yang dalam. Namun, bahaya bukan terletak pada seberapa besar luka yang didapatkan. Melainkan tentang seberapa banyak racun yang masuk melalui luka itu.


Kerambit yang mengiris kulit Mantingan bukanlah kerambit biasa. Sama seperti Pedang Kiai Kedai yang saat ini dilaburi racun, kerambit musuh juga dilapisi racun yang tingkat bahayanya lebih tinggi.


Mantingan menarik ikat rambutnya. Masih melayang-layang di udara, Mantingan mengikatkan ikat rambutnya itu pada pergelangan tangannya. Itulah antisipasi terbaik yang bisa dilakukan untuk saat ini.


Hanya bisa beroda saja, Mantingan kembali memusatkan segala perhatiannya pada musuh. Mereka masih menyerang. Mantingan harus menyampingkan urusan racun yang mulai merambati raganya.


***

__ADS_1


“Kumohon, bekerjalah.”


Paman Bala menemui masalah baru saat mantra sihir yang telah selesai ia buat tidak menunjukkan tanda-tanda yang bagus. Tidak cahaya pada aksara-aksara di atas lontar. Tanda bahwa pembuatan mantra hanya mencapai kegagalan.


__ADS_2