
TENTARA berkuda musuh adalah sosok pendekar.
Sesampainya di depan tembok, mereka segera melonjatkan diri ke atas dari kudanya.
Di udara mereka menarik kelewangnya dan 13 prajurit di atas tembok kota.
Mantingan kembali mengaktifkan Lontar Sihir-nya di seluruh penjuru kota. Pendekar-pendekar yang melayang di dekat tembok kota itu segera tertarik kembali ke tanah imbas mantera sihir. Tetapi agaknya pendekar musuh telah memperkirakan hal ini akan terjadi, sehingga mereka bersalto beberapa kali di udara sebelum menjejak tanah selembut kapas.
Dengan kelewang, mereka menusuk tembok kota secara bersamaan. Mantingan tahu apa yang mereka lakukan itu sebagai upaya mematahkan segel sihir, sehingga dirinya segera menjatuhkan diri ke tanah untuk menghadapi mereka.
Melihat Mantingan yang terjun ke bawah, pendekar-pendekar musuh menganggap itu sebagai tindakan putus asa atau tindakan sok pahlawan.
Tetapi bagi mereka, ancaman kecil sekalipun tetap dapat mengganggu upaya pematahan segel, maka dari itu sebagian dari mereka melepas kelewangnya dari tembok kota dan bersiap menyambut Mantingan.
Mantingan melepas Pedang Kiai Kedai dari ikatan di pinggangnya, tangan kiri membentuk sebuah tapak dan tubuh condong ke bawah. Dari tapak itu menderu angin kuat berwarna kemerahan.
Mantingan menyunggingkan senyum. Ia menggunakan jurus Tapak Angin Darah sebagai serangan pertama sebelum pedangnya melumpuhkan lawan-lawan.
Para pendekar di bawah sungguh tidak menyangka serangan tapak yang sangat dahsyat itu datang dari Mantingan. Dalam posisi tidak siap, tubuh mereka harus menghadapi gelombang angin besar dari jurus Tapak Angin Darah.
Serangan tapak itu berhasil mengenai dan menjatuhkan semua pendekar di depan tembok kota.
Mantingan dengan gerakan secepat kilat membenturkan Pedang Kiai Kedai ke masing-masing titik berbahaya lawannya.
Ada yang menderita patah tulang kaki, patah tulang rusuk, patah tulang tangan, dan semacamnya yang membuat mereka tidak lagi bisa bangkit.
Mantingan melenting kembali ke atas tembok kota sedang lawan-lawannya menjerit kesakitan. Lontar Sihir penjebak di tembok kota tidak berpengaruh pada Mantingan sehingga pendekar muda itu dapat mendarat seringan burung merpati.
Tentara-tentara tanah yang melihat kejadian itu lekas menghentikan laju larinya. Mereka tidak mungkin bisa menjebol kota jika segel yang terpasang belum juga terpatahkan. Perlahan-lahan mereka bergerak mundur sambil mengangkat perisainya, waspada jika sewaktu-waktu serangan panah datang.
__ADS_1
Dari arah perkemahan musuh, puluhan pendekar berkuda kembali dikerahkan. Mereka memacu kudanya dengan cepat.
Pendekar-pendekar yang menunggang kuda bisa Mantingan lihat memiliki keahlian yang lebih tinggi ketimbang pendekar yang tadi datang.
Setelah puluhan pendekar tiba di depan tembok kota, tidak lagi mereka melenting ke tembok kota, melainkan turun dari kuda perlahan-lahan dan memperhatikan keberadaan Mantingan. Tetapi terlihat sepertinya Mantingan tidak akan menyerang jika mereka tidak menyerang lebih dulu.
“Maju! Jangan takut!”
Setelah satu dari mereka bersorak begitu, maka mau tidak mau puluhan pendekar musuh jadi berani maju. Kelewang yang mereka hunus bukanlah kelewang biasa, bilahnya lebih mengilau di bawah sinar mentari, itulah pusaka yang dapat mematahkan segel sihir dengan cepat.
Mantingan kembali menerjunkan diri ke bawah sambil mengirim beberapa serangan tapak. Musuh yang sudah mengetahui hal ini akan terjadi lekas menjauh sebisa yang mereka dapat, tetapi tetap saja imbas dari angin tapak itu mengenainya.
Mantingan menjejak tanah dan melihati lawannya satu per satu. Mereka saling berpandangan satu sama lain untuk beberapa lama sampai akhirnya pihak aliran hitam memutuskan maju menyerang.
Dengan tenang, Mantingan menghadapi mereka. Kelewang-kelewang yang ditebaskan luar biasa cepat dan pasti akan memutuskan tangan Mantingan jika dirinya tidak waspada, terlebih serangan yang datang lebih dari satu dalam waktu yang sama. Mantingan mau tidak mau harus meladeni musuhnya sedikit lebih lama jika tidak mau celaka.
Lontar Sihir yang Mantingan lepaskan itu tidak mengandung sihir yang kuat, sehingga Mantingan harus cepat memanfaatkan keadaan sebelum musuh mematahkan sihirnya. Alhasil, pendekar-pendekar yang berada di dekat Mantingan dengan cepat berhasil dilumpuhkan, sedangkan pendekar-pendekar yang berada di belakang masih sempat mematahkan sihir.
“Gila! Bunuh dia apa pun yang terjadi! Dia terlalu berbahaya!”
Seketika itu juga tubuh Mantingan dihujani serangan kelewang dari musuh yang semakin menjadi-jadi menyerangnya. Mantingan bergerak cukup jauh ke belakang sebelum melempar selembar lontar lagi.
Sebagian pendekar cukup tangkas menghindari jeratan aksara-aksara dari lontar itu, namun sebagian lainnya tidak. Mantingan bergerak cepat membentur musuh yang terjerat lontar dengan pedangnya.
“Mundur semua! Jangan sia-siakan nyawa di sini!” Pendekar yang berkata itu mundur secepat yang ia bisa.
“Jangan pergi dulu, tunggu aku!” Mantingan tentu tidak mau sisa pendekar itu meloloskan diri yang akan membahayakan nanti, pemuda itu mengejar mereka.
“Hantu hutan! Dia mengejar kita, Ketua!”
__ADS_1
“Menghindar! Jangan dekat-dekat dengannya!”
Percuma bagi mereka untuk menghindar, gerak Mantingan terlalu cepat untuk dihindari. Mereka tidak bisa berkutik saat tubuhnya berdebam ke tanah tersambar Pedang Kiai Kedai.
Perkemahan musuh yang melihat itu lekas mengirim pertanda bagi pasukan tanah untuk menarik semua kekuatan.
Mantingan hanya bisa berdiri memandangi pasukan musuh yang kembali menarik diri. Ia menghela napas panjang karena mengetahui musuh akan menyerang lagi nantinya.
“Mengapa kau tidak membunuh kami?”
Mantingan menoleh saat mendengar suara itu. Ternyata berasal dari salah satu pendekar yang dilumpuhkan olehnya.
Melihat Mantingan diam mematung, pendekar itu kembali bertanya, “Mengapa kau tidak membunuh kami?”
Mantingan tersenyum tipis lalu berkata, “Aku tidak terlalu suka membunuh.”
“Jika kau tidak suka membunuh, mengapa dikau menjadi pendekar? Seorang pendekar pastinya mengetahui bahwa jalan hidupnya adalah membunuh dan terbunuh. Aku lebih baik mati di tangan engkau ketimbang mati oleh sakit lumpuh!”
“Maaf, cari pendekar lain saja.” Mantingan berlalu tanpa mempedulikan umpatan-umpatan yang dikeluarkan pendekar-pendekar musuh, pendekar muda itu kembali melenting ke atas tembok kota.
“Sepertinya kita akan makan malam lagi malam ini.” Putu tersenyum.
Mantingan hanya bisa memberikan senyuman tipis dan jawaban singkat, “Jaga diri kalian baik-baik setidaknya sampai malam.”
Mantingan menjejak tanah kembali kemudian bergerak menuju menara pemantau tempat perwira berada. Perwira telah memberi tanda pada pemuda itu untuk datang ke tempatnya.
Dalam perjalanannya menuju menara itu, Mantingan mendapat banyak pujian dan tepuk tangan dari prajurit-prajurit yang mengintip pertarungannya di celah kecil pintu kota. Mantingan menyambut pujian itu dengan senyum hangat sedang kakinya terus melangkah ke tempat menara pengawas.
Perwira menyambutnya dengan senyum lebar. “Luar biasa, Mantingan, luar biasa. Apa yang kau lakukan itu sungguhan menyelamatkan kami dan segenap warga kota. Entah bayaran apa yang pantas untuk membalas jasamu.”
__ADS_1