Sang Musafir

Sang Musafir
Munding Caraka Bukan Kerbau Biasa


__ADS_3

MANTINGAN menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal. Dipandanginya Chitra Anggini dengan tatapan serba salah. Wajah gadis itu telah merah padam bagai kepiting rebus. Menahan amarah yang teramat sangat kental.


“Kamu pergi ke mana saja?!” Chitra Anggini menggeram. “Setelah totokan ini terlepas, kupastikan nyawamu akan melayang di tanganku!”


“Daku ....” Mantingan semakin serba salah. Meski ia tahu bahwa berkemungkinan besar Chitra Anggini hanya bergurau, tetap saja perkataannya terdengar meyakinkan.


Begitulah Chitra Anggini telah sangat lama mematung di depan pintu kamar Mantingan. Tidak dapat bergerak. Tidak dapat berteriak. Hanya diam sambil memendam amarah. Itulah yang membuat wajahnya menjadi merah padam, perempuan itu telah menahan amarah untuk waktu yang tidak sebentar.


Matahari telah menanjak hingga tepat di ufuk tengah, sedangkan Chitra Anggini tertotok sejak pagi tadi, ditinggalkan begitu saja. Memanglah setelah selesai berbincang dengan Kartika, Mantingan memutuskan untuk tidak segera kembali ke Lembah Balian. Kesedihannya masih memuncak. Bidadari Sungai Utara pada akhirnya menikah, dan itu bukan kabar yang sama sekali menyenangkan baginya.


Mantingan berjalan-jalan di sekitar hutan. Menyajikan senyum meski tidak seorang pun melihatnya; meski air matanya beberapa kali menetes, mengkhianati senyumannya. Mengutuk diri sendiri yang tidak pernah berani menyampaikan tentang perasaannya pada Bidadari Sungai Utara.


Gadis itu benar. Jika perasan itu tidak disampaikan, maka penyesalan akan terus menggelayuti di masa mendatang. Rama juga benar tentang itu.


Barulah setelah merasa lebih baik, Mantingan kembali ke Lembah Balian. Ia sama sekali tidak ingat bahwa Chitra Anggini masih dalam pengaruh totokannya, ditinggalkan begitu saja.


Sebenarnya ia merasa bahwa gadis itu memang berhak marah. Sangat berhak malahan. Tetapi janganlah sampai terjadi pertarungan yang selalu saja menuntut pertumpahan darah sebagaimana yang sering terjadi di dunia persilatan.


“Daku tidak akan melepaskan totokan itu jika pada akhirnya dikau hanya akan menyerangku.” Mantingan menggelengkan kepalanya. “Kejadian ini sungguh tidak disengaja. Maafkanlah, daku melupa.”


Chitra Anggini mendengus kencang. “Lepaskan saja!”


Tangan Mantingan berkelebat cepat. Menyentuh beberapa titik di leher Chitra Anggini. Hanya dibutuhkan waktu kurang dari sekedipan mata baginya untuk melepas seluruh totokan yang mengikat tubuh perempuan itu.


Chitra Anggini ambruk. Bersimpuh lutut. Tampak tidak berdaya sama sekali, tetapi raut wajahnya masih menampakkan kekesalan yang teramat sangat dalam terhadap Mantingan.


“Jika dikau menyerangku, maka sungguh bukanlah hal yang sulit bagiku untuk kembali menotokmu.” Mantingan berkata halus ketika mendapati gadis itu sedang menatapnya dengan teramat tajam. Bukankah ketajaman dapat dilawan dengan kehalusan, yang saking halusnya membuat benda setajam apa pun menjadi tidak berlaku ketajamannya?


“Daku sangat-sangat ingin menyerangmu.” Chitra Anggini bangkit berdiri dengan berpegangan pada pinggiran pintu. “Tetapi telah sangat jelas bahwa diriku tidak akan pernah berhasil mengalahkanmu, bukan? Daku tidak ingin melakukan sesuatu yang akan berujung pada kesia-siaan semata.”

__ADS_1


Mantingan hanya membalasnya dengan tidak membalas. Ia justru mengalihkan pembicaraan dengan cepat. “Kartika telah menceritakan hampir semuanya kepadaku.”


Chitra Anggini terdiam. Merah padam di wajahnya menghilang, bagai kemarahannya terhapus sudah.


Mantingan melanjutkan, “Dikau sungguh ingin ikut bersamaku, bukan?”


Ragu-ragu, gadis itu mengangguk.


“Kemasi barang-barangmu secepat mungkin,” kata Mantingan lagi, “daku tidak ingin dikau mengeluh di perjalanan sebab meninggalkan sesuatu.”


“Masih ada malam,” balas Chitra Anggini. “Daku hanya membutuhkan waktu satu malam untuk berkemas, bahkan dapat jauh lebih sebentar ketimbang itu.”


“Dan daku memiliki banyak pengalaman mengembara bersama wanita. Lakukan saja perkataanku.” Mantingan menggeleng pelan sebelum berjalan masuk ke dalam kamarnya. Namun, sekejap kemudian ia menahan langkahnya. “Di manakah kerbauku, Chitra?”


“Daku benar-benar tidak berselera menceritakan apa pun kepadamu setelah semua yang terjadi.” Chitra Anggini hendak beranjak dari tempatnya, tetapi Mantingan telah lebih dahulu mengatakan sesuatu yang membuat gerakan perempuan itu terhenti seketika.


“Kartika yang memintamu untuk menceritakannya.”


“Ceritanya cukup panjang, kuharap dikau mau mempersilakanku sekadar duduk di kamarmu.”


“Sama sekali tidak perlu.” Mantingan menggeleng pelan sambil melangkah keluar dari kamarnya. “Bukankah amat sangat tidak baik jika dua orang muda-mudi berada dalam satu ruangan tanpa seorang pun yang mengawasi? Kita bisa berbincang-bincang di teras.”


Mantingan tentunya ingat bahwa Tapa Balian memiliki dua bangku di teras kediamannya. Di sanalah gurunya dan Tapa Balian berbincang-bincang setiap kali petang tiba. Meskipun saat ini masih jauh dari kata petang, tetapi setidaknya tempat itu tetap menjadi yang terbaik untuk melangsungkan perbincangan.


***


“Apakah dikau tahu bahwa kerbaumu bukan hewan biasa?”


MANTINGAN menatap heran pada Chitra Anggini yang duduk di sebelahnya. Pertanyaan macam apakah itu?

__ADS_1


Chitra Anggini menatapnya balik. “Kerbaumu itu sama sekali bukan kerbau biasa. Dia adalah siluman.”


Hening barang sesaat.


“Jelaskanlah dengan sejelas mungkin.” Mantingan menarik napas panjang. Kerbau siluman, apakah itu?


“Kukira dikau telah mengetahui tentang hewan siluman.”


“Tentu daku mengetahuinya.” Mantingan membalas sambil menganggukkan kepala. “Hewan siluman dianggap tidak ada, tetapi seringkali kedapatan muncul di sejumlah tempat. Mereka paling banyak ditemukan di pegunungan luas, rimba belantara yang masih perawan, dan jantung hutan di pelosok. Mereka sama sekali menghindari bersinggungan dengan manusia.”


Mantingan masih mampu mengingat isi lempir lontar di perpustakaan kota yang dibacanya sewaktu masih belum menapaki jalan persilatan. Hewan siluman dapat dikatakan ada sekaligus tidak ada, sama seperti dunia persilatan dalam anggapan orang awam. Namun, bahkan para pendekar sekalipun meragukan tentang keberadaan siluman.


“Dan kerbaumu termasuk ke dalamnya.” Chitra Anggini menambahkan, “anehnya, ia sama sekali tidak keberatan bersinggungan dengan manusia, bahkan kulihat telah begitu dekat denganmu.”


Mantingan menyandarkan punggungnya pada kursi, sebelum kembali membuka suara, “Dari manakah dikau dapat mengetahuinya sedangkan daku tidak?”


“Sebenarnya, bukan diriku yang mengetahuinya untuk pertama kali.” Chitra Anggini menggeleng. “Yang pertama mengetahuinya adalah Kakak Kartika.”


Mantingan mengernyitkan dahi. Raut wajah yang cukup mengungkapkan bahwa dirinya membutuhkan penjelasan barang secepat mungkin.


Maka begitulah Chitra Anggini mulai menjelaskan panjang lebar. Tanpa terputus. Tanpa mau terbantahkan. Bagaikan hujan deras.


“Dua hari yang lalu, tepatnya ketika rombongan kita diserang oleh Pendekar Kelewang Berdarah menggunakan sihir khayalan, membuat kita semua terjebak dalam khayalan menakutkan lagi menyiksa. Kakak Kartika tidak terpengaruh oleh sihir itu, sebab betapa pun dirinya cukup ahli dalam pengendalian ilmu sihir, sehingga mampu melihat tanda-tanda yang tidak sengaja ditunjukkan oleh Pendekar Kelewang Berdarah sesaat sebelum dia menyebar sihir khayalan.


“Saat kita semua terbaring di tanah, Kakak Kartika berjuang mati-matian menghadapi serbuan Pendekar Kelewang Berdarah yang dibantu oleh sebelas anak buahnya. Jika tidak begitu, sudah barang tentu kita semua akan kehilangan nyawa malam itu juga.”


____


catatan:

__ADS_1


Meski Sang Musafir telah memasuki babak akhir, dan saya tidak bisa berharap lebih apa yang sudah karya ini peroleh, saya tetap meminta dukungan kepada para pembaca berupa vote, like, comment, & share. Setidaknya, buah kelapa yang jatuh di lautan ini dapat menambah manfaat bagi orang-orang lain, dari hanya sekadar terombang-ambing diempas ombak dengan tak tentu rimba.



__ADS_2