Sang Musafir

Sang Musafir
Pendekar yang Saling Berhimpitan


__ADS_3

SEDIKIT banyak Chitra Anggini menjadi lebih tenang setelah dialirkan tenaga prana oleh Mantingan. Bahkan tanpa sungkan-sungkan lagi dirinya membalas genggaman tangan pemuda itu.


“Apa kau sudah siap dengan segala kemungkinan yang dapat saja terjadi nantinya, Chitra?” Mantingan mengirim bisikan angin pada Chitra Anggini, yang sekaligus menandakan bahwa dirinya ingin segala percakapan dilangsungkan secara diam-diam, tentunya dengan saling bertatap-tatapan mata.


Chitra Anggini menoleh ke arah Mantingan. Perlu mengangkat kepalanya sedikit ke atas untuk dapat menatap mata pemuda itu dalam jarak yang sedekat itu, sebab betapa pun Mantingan lebih jauh tinggi darinya.


Lantas menjawablah Chitra Anggini menggunakan tatapan matanya itu: aku selalu siap pada kemungkinan terburuk sekalipun.


Mantingan kembali bertanya: bahkan untuk mati?


Chitra Anggini lekas menjawabnya: aku selalu siap untuk mati, bahkan meskipun mati di tanganmu, tidak akan membuatku marah.


Mantingan menunjukkan senyumannya: kita berharap saja agar semua tugas dapat kita selesaikan malam ini pula.


Chitra Anggini terdiam. Tetiba saja pandangan matanya menjadi kosong, tiada menyampaikan pesan semacam apa pun, atau sebenarnyalah perempuan itu telah menyampaikannya, tetapi gagal ditangkap maksudnya.


Mantingan kembali bersuara dalam tatapan: kita masih dapat berteman setelah semua ini berakhir. Selagi sempat, aku akan mengunjungimu.


Chitra Anggini tidak menjawab, hanya sekadar mengalihkan pandangannya kembali ke hadapan. Menatapi keramaian. Genggaman tangannya pun tak seerat sebelumnya.


Mantingan tersenyum canggung sambil menggaruk kepalanya yang sungguh tidak terasa gatal sama sekali. Salahkah dirinya berbicara?


Namun biar bagaimanapun, pemuda itu memilih untuk segera melupakannya. Ada sesuatu yang jauh lebih genting untuk diurus ketimbang perasaan Chitra Anggini yang mungkin saja sedang terluka saat ini.

__ADS_1


Dirinya hampir tidak memiliki perencanaan sama sekali! Itulah permasalahannya!


Bukannya Mantingan terlalu malas untuk menyusun rencana penyusupan ke dalam istana, tetapi memanglah ia tidak dapat begitu bebas menyusun perencanaan. Betapa pun, dirinya masih berada dalam kendali Puan Kekelaman. Perempuan bersuara merdu itulah yang akan menyusun segala rencana untuknya, meski hingga sekarang pun dirinya tidak mengetahui seperti apakah rencana darinya.


Namun, Mantingan tidak akan membiarkan dirinya tidak memiliki rencana cadangan, sebab ia akan memilih keluar dari kerjasamanya dengan Puan Kekelaman bila datang sebuah kesempatan. Sampai saat itu tiba, Mantingan harus memiliki perencanaan yang benar-benar matang terlebih dahulu.


Kiai Guru Kedai pernah berkata padanya:


"Burung yang bodoh adalah burung yang lompat dari tangkai pohon yang dihinggapinya sedang ia belum memiliki kemampuan terbang."


Maka sembari berjalan menuju Istana Kotaraja tempat Perhelatan Cinta akan dilangsungkan, Mantingan juga berpikir keras untuk menemukan cara-cara terbaik menyusupi Istana Kotaraja. Sayangnya, Chitra Anggini tidak dapat membantunya kali ini.


***


Semisal pada bagian tembok istana yang dibuat sebanyak lima lapis dengan ketebalan masing-masingnya sekitar satu depa, pula terdapat mantra-matra sihir penjebak dan pelindung di dalamnya. Hal tersebut memungkinkan istana dapat bertahan dari serangan pasukan berkemampuan biasa sekaligus pasukan berkemampuan pendekar dalam satu waktu.


Pada bagian atas benteng-benteng tersebut, terdapatlah beberapa menara pemanah sekaligus pula menara pengawas. Menara-menara itu dibangun dengan jarak sekitar lima belas depa antara satu sama lain.


Panahan-panahan yang ada di seluruh menara itu pun bukanlah panahan biasa yang dapat dipegang oleh satu orang saja. Itu berukuran sebesar gerobak pedati, dengan busur yang teramat panjang. Untuk mengendalikannya, dibutuhkan tiga prajurit terampil. Satu prajurit untuk mengeker dan menembak; satu prajurit untuk menggerakkan poros panahan; serta satu prajurit lagi untuk mengisi ulang anak panah. Semuanya harus seiya-sekata.


Pengawas-pengawas yang berdiri di sana pun bukanlah prajurit biasa. Mantingan dapat melihat bahwa mereka adalah pendekar-pendekar penyihir yang bukan memiliki kemampuan sembarangan, yang tentulah berasal dari Jaringan Puan Kekelaman sebab hanya dari dirinyalah pengendali-pengendali sihir istana berasal.


Di sisi lain, pintu-pintu benteng tidak kalah penting dalam menunjang keamanan bila sampai terjadi penyerbuan. Itu dibuat dengan ukuran yang tidak terlalu besar, tetapi pula tidak terlalu kecil. Kekira panjangnya adalah empat depa, dan tingginya adalah sepuluh depa.

__ADS_1


Pintu-pintu itu berbanding terbalik dengan yang ada di tembok luar kotaraja, yang memang sengaja dibuat sebesar mungkin agar tidak menghambat jalannya lalu-lalang. Pintu-pintu di benteng istana seolah saja sengaja dibuat sekecil mungkin untuk menahan laju pasukan musuh bila berhasil menjebol tembok terluar.


Melihat semua pertahanan ini, Mantingan akan sulit percaya bila di masa mendatang Kerajaan Koying hancur karena serangan dari luar. Namun bila serangan terjadi dari dalam, maka bukanlah lagi menjadi sebuah kemustahilan bagi Kerajaan Koying untuk runtuh. Bukankah itu adalah hal yang ingin dilakukan oleh Puan Kekelaman hingga dia menjebak sampai hati Mantingan dengan segala siasat liciknya?


Adapun Perhelatan Cinta akan dilangsungkan di halaman besar istana yang terletak pada lapisan tembok ketiga.


Sedangkan dua tembok lingkaran terdalam sungguh terlarang untuk dikunjungi orang luar. Di sanalah tempat bersemayamnya raja, permaisuri, selir-selir, serta orang-orang dikebiri.


Tentulah dengan begitu, bila hendak memasuki dua tembok pada lingkaran terdalam, seseorang harus rela dikebiri dan dijadikan pelayan, itupun tanpa ada jaminan bahwa dirinya akan diletakkan di dalam Istana Kotaraja dan bukannya istana kerajaan-kerajaan kecil lain yang berada dalam taklukan Koying.


Mantingan dan Chitra Anggini masih berjalan perlahan melewati jalanan yang menjadi pemisah antar-tembok. Tentulah mereka harus memakan banyak waktu untuk dapat sampai ke tembok ketiga, sebab pintu masuk di masing-masing tembok selalu ditempatkan pada penjuru-penjuru yang berlainan. Pintu masuk tembok pertama terletak di penjuru barat, sedangkan pintu masuk tembok kedua terletak di penjuru utara. Hal itu merupakan siasat keamanan dalam upaya membendung laju pasukan musuh yang menyerang dalam jumlah banyak.


Jalanan yang sedang Mantingan lalui saat ini pun dapat terbilang sangat ramai dan padat, sungguh bukan menjadi hal mengenakan bagi pendekar-pendekar yang telah terbiasa saling memisah jarak. Semuanya merasa tegang, bahkan Mantingan sekalipun dapat pula tertular ketegangan itu.


Namun, sungguhlah berbeda dengan Chitra Anggini yang tampak tenang-tenang saja, meski kemurungannya tidak sedikitpun berkurang. Betapakah tidak gadis itu merasa tenang bila Mantingan terus saja mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar?


Tentulah dengan begitu, Chitra Anggini jauh dapat berpikir jernih ketimbang pendekar-pendekar lainnya. Tentulah dia menyadari bahwa tidak ada satupun dari pendekar-pendekar itu hendak menyerangnya, sebab itu sama saja dengan menyatakan perang pada Kerajaan Koying.


Lagi pula, semarah apa pun dirinya, Chitra Anggini masih dapat bernapas tenang bila Mantingan berada di dekatnya. Itu bagaikan pusaka sakti mandraguna yang tiada dapat dikalahkan oleh siapa pun!


___


catatan:

__ADS_1


Maaf tidak update selama beberapa hari ini. Saya sedang mencari peruntungan di tempat lain, silakan cek media sosial saya untuk mengetahuinya. Terima kasih 🙏


__ADS_2