Sang Musafir

Sang Musafir
Pedang Merpati Haus Darah


__ADS_3

MANTINGAN MERAGU. Baginya, pedang itu memang boleh dikatakan sebagai pedang yang bagus di antara yang bagus. Namun, tetap saja harganya terlalu tinggi. Akan tetapi, kini Mantingan terjebak. Ia tidak bisa membatalkan pembelian pedang tersebut, sedang dirinyalah yang menawarkan itu kepada Bidadari Sungai Utara.


Bolehkah dirinya menawar harga? Agaknya hal seperti itu tidak mungkin dilakukan. Si penjual senjata sudah terlalu baik padanya. Orang itu juga telah berusaha keras demi terciptanya sebuah mahakarya, berupa sebilah pedang bersarung putih.


Mantingan hendak menghela napas panjang. Namun, ia ingat bahwa hal itu sama sekali tiada gunanya. Maka yang dapat Mantingan lakukan adalah membuat putusan yang jelas dan tegas.


“Kusetujui itu, Bapak.”


“Maka bawalah pedang yang kuberi nama Merpati Haus Darah itu.”


Mantingan melebarkan mata setelah mendengar nama untuk pedang seindah itu.


***


BIDADARI SUNGAI Utara benar-benar tak dapat membendung seluruh rasa senangnya. Pedang Merpati Haus Darah itu digenggamnya terus. Bahkan saat makan malam bersama Mantingan, tidak pula ia lepaskan pedang itu.


Melihat itu, Mantingan hanya bisa menggeleng pelan dan tersenyum. Jika Bidadari Sungai Utara senang, maka dirinya pun turut bersenang diri. Hingga Mantingan tidak berat hati menggelontorkan banyak uang demi kesenangan gadis itu.


Malam tidak banyak tersisa. Sebentar lagi, sudah pasti kokok ayam bersahutan di mana-mana. Ingar bingar membangunkan banyak orang. Sehingga dapat dikatakan, yang sedang dilakukan Bidadari Sungai Utara dan Mantingan adalah makan tengah malam.


Kana dan Kina sudah barang tentu masih tertidur pulas di kamarnya masing-masing. Terang tanah mereka nanti mereka akan terbangun dengan sendirinya.


“Apa yang akan kita lakukan esok hari, Mantingan?” tanya Bidadari Sungai Utara di sela-sela makannya.


“Mungkin maksudmu hari ini?”


Bidadari Sungai Utara kemudian mengangguk dan berkata, “Ya. Jika kita menganggap malam ini adalah pagi buta.”

__ADS_1


“Apa yang kita lakukan hari ini? Mungkin dikau bisa bersamadhi atau berlatih, sedangkan diriku menyusun siasat untuk hari esok.”


“Akan daku lakukan setelah selesai bekerja.”


Mantingan menelan makanannya sebelum menimpali, “Tolong peringatkan Ibu Wira. Perampok-perampok itu sudah pasti membutuhkan tenaga tabib, mereka bisa menculik Ibu Wira.”


“Akan kusampaikan, tetapi mohonlah dikau untuk tidak berpikir hal-hal yang buruk.”


Kini Mantingan menggeleng pelan. “Daku berharap yang terbaik, tetapi juga merencanakan yang terburuk.”


Bidadari Sungai Utara tidak dapat membantah lagi, maka dari itu dirinya memilih melanjutkan makan saja.


“Akan tetapi, Saudari, kita juga harus mengingat tujuan utama kita.” Tiba-tiba Mantingan kembali berkata. “Daku sudah memikirkan bagaimana caranya engkau bisa kembali ke Champa dengan selamat.”


Bidadari Sungai Utara hanya diam. Namun matanya, memandangi Mantingan. Penuh arti. Jelas gadis itu menghendaki penjelasan lebih lengkap lagi.


“Jangan. Itu sangat-sangat merepotkan dikau dan Perguruan Angin Putih. Daku tidak ingin merepotkan siapa pun.”


“Dikau ingatlah bahwa kita tidak memiliki banyak pilihan. Jika dikau tidak menerimanya, maka besar kemungkinan dikau mati di perjalanan. Dikau ingatlah juga bahwa Kana dan Kina ada bersamamu.”


Bidadari Sungai Utara menghentikan kegiatan makannya. Pada akhirnya, ia menghela napas panjang. Seakan tidak memiliki pilihan lain.


“Diriku bagi Champa tidaklah terlalu penting. Daku khawatir Negeri Champa tidak mau membayar kebaikan Taruma.”


“Hal itu juga berlaku di tanah Javadvipa. Taruma atau bahkan Perguruan Angin Putih sekalipun tidak akan mau menyiapkan searmada kapal pengawal untuk orang yang tidak penting seperti dirimu. Satu-satunya cara adalah dengan membuat dirimu menjadi penting bagi mereka.”


Bidadari Sungai Utara melirik Mantingan sekilas sebelum kembali menundukkan pandang. “Bagaimanakah caranya? Daku ini tidak memiliki banyak kuasa.”

__ADS_1


“Dikau sebenarnya memiliki kuasa. Dalam hal kependekaran, dikau memiliki kuasa lebih. Boleh dikata, dikau adalah salah satu pendekar muda paling berbakat di tanah Javadvipa.”


“Kelebihan itu tidak mengubah keadaan.”


Mantingan menggeleng pelan. Meneguk seteguk air teh. Dan mulailah dirinya bertutur, “Manfaat setiap peluang yang ada. Mulai dari peluang terbesar hingga yang terkecil. Yang terbesar ialah keadaan Taruma saat ini yang dilanda gejolak besar. Cukuplah dikau membantu lima kota yang sedang berperang, maka dikau akan dianggap sebagai orang yang penting di mata Taruma. Dan yang peluang yang terkecil ialah desa ini, Desa Lonceng Angin, yang berada di tangan golongan hitam. Mulailah dari desa ini.


“Daku membicarakan setiap peluang yang sebenarnya ada di depan mata Saudari. Namun percumalah, jika hanya daku bicarakan saja tanpa dikau laksanakan. Berpeganglah pada keyakinan bahwa diriku selalu ada di belakang dikau, daku akan selalu membantumu.”


“Jangan.” Bidadari Sungai Utara tanpa sungkan menatap mata Mantingan secara langsung. “Berdirilah di sampingku. Bahkan kalau perlu, berdirilah di depanku! Sesungguhnya dirimu adalah penuntunku, Mantingan. Baik itu secara langsung maupun tidak secara langsung. Engkau tidak pernah mengingkari janji yang pernah kita buat kala itu. Maka pantasnya dikau berdiri di depanku.”


Mantingan hanya bisa tersenyum tipis dan mengangguk.


***


TERANG TANAH itu. Kana dan Kina bangun. Seperti biasanya, dua anak itu segera turun untuk membersihkan diri di sumur belakang rumah. Saat mereka menuruni anak tangga, dapat terlihatlah Bidadari Sungai Utara dan Mantingan sedang bercakap-cakap ringan di atas meja.


Walau Mantingan dan Bidadari Sungai Utara terlihat bercakap-cakap ringan saja, sebenarnyalah mereka sedang menyusun siasat-siasat penting untuk menyelamatkan desa. Mantingan yang terlebih dahulu menyadari Kana dan Kina, segara menyapa keduanya. Bidadari Sungai Utara yang selanjutnya menyapa mereka.


Kana dan Kina membalas sapaan mereka sambil terus menuruni anak tangga. Saat keduanya hendak berbelok ke dapur, menuju kamar mandi, Mantingan telah lebih dulu memanggil mereka.


Kana dan Kina melirik satu sama lain sebelum mengangkat bahunya masing-masing. Tak tahu. Mereka memutuskan untuk cepat-cepat menghampiri Mantingan.


“Adakah sesuatu yang terjadi, Kaka Mantingan?” Bertanyalah Kana dengan kerutan pada dahinya.


Mantingan tersenyum hangat sebelum terlihat mengambil sesuatu di atas meja. Rupanya beragam bungkusan. Entah apa isinya itu. Namun, sepertinya akan menyenangkan Kana dan Kina.


“Ini adalah pemberian dari Kak Sasmita untuk kalian berdua. Manisan dan daging bakar. Bukankah itu yang dulu kalian inginkan?”

__ADS_1


Kina bersorak kegirangan. Memang inilah yang telah ia idam-idamkan sejak lama, sejak berlangsungnya pasar lelang itu dia kembali memendam keinginannya.


__ADS_2