
MANTINGAN mengangkat bahunya sekali sebelum mulai menyantap hidangan. Pemilik kedai agak terheran dengan sikap Mantingan, tetapi segera memasang senyum hangat.
“Ini enak.” Mantingan menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih karena sudah bisa memahami kami, Anak. Izinkan saya pergi ke dalam.” Orang setengah baya itu memaksakan tawanya yang jadi hambar itu dan membalik badan.
“Tunggu sebentar, Bapak.”
Saat Mantingan kembali memanggilnya, pemilik kedai itu berhenti dan menegup ludahnya, perlahan ia berbalik dengan senyum keringat dingin. Ia khawatir Mantingan berubah pikiran atau makanannya terasa basi.
“Jika Bapak tidak keberatan, bolehkah Bapak duduk di sini dan menceritakan situasi kota kala ini?”
“Oh, tentu saja, saya tidak akan keberatan.” Dirinya mengembuskan napas lega dan lekas-lekas duduk di sebelah Mantingan.
“Bapak bisa mulai bercerita.”
“Baiklah ....”
Pria setengah baya itu menyebut namanya Rawa sebelum menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kota dan mengapa tempat ini terlalu ramai dihuni oleh anak-anak.
Dari penjelasannya, Mantingan dapat membuat gambaran dari apa yang terjadi. Kota ini seperti dugaan awalnya, mendapat serangan dari pendekar-pendekar aliran hitam. Serangan yang sebenarnya tidak banyak perhitungan.
Pasukan yang datang menyerang tergolong cukup banyak, tetapi mereka tidak mengetahui bahwa kota ini menjadi tempat singgah pasukan Taruma yang ingin bergerak ke timur. Serangan itu berhasil menjebol tembok kota, tetapi tidak berhasil menghancurkan isi kota.
Saat itu pria-pria kota yang bergerak melindungi kota mereka cukup banyak, sehingga banyak pula korban pria dari kota yang berjatuhan. Pengorbanan mereka tidak sia-sia, istri dan anak mereka masih dapat menghirup udara tanpa ada yang tersentuh sampai saat ini.
Itulah mengapa banyak anak-anak yang berkeliaran, sedangkan perempuan-perempuan memilih menyembunyikan diri di dalam tenda untuk menghormati suami mereka yang gugur.
Korban dari pasukan Taruma juga tidak kalah banyak, sehingga kota ini tidak lagi memiliki kemampuan yang memumpuni untuk bertahan dari serangan kedua. Harapan kota ini untuk bertahan sangatlah sedikit. Warga-warga mulai putus asa, beberapa wanita bahkan bunuh diri karena tidak kuat menghadapi tekanan dan ancaman pemerkosaan.
__ADS_1
Mantingan menghela napas panjang. Kebanyakan yang tersisa di kota ini adalah wanita dan anak-anak, mereka lemah, dan mereka tidak cukup bersalah dalam gejolak yang terjadi, mereka tidak seharusnya mati.
Mantingan suka atau tidak suka harus terlibat, Kiai Guru Kedai pernah mengingatkan Mantingan soal ini.
“Jangan engkau pergi saat orang yang baik tapi lemah membutuhkan bantuanmu, itu sangat-sangat terhina bagimu,” kata Kiai Guru Kedai suatu waktu, “selamatkan mereka, sayangi mereka sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri. Ini salah satu kewajibanmu sebagai seorang pendekar sejati, Mantingan!”
Mantingan tersadar dari lamunannya ketika pria paruh baya itu selesai bercerita tentang masalah hidupnya sendiri, sayang sekali Mantingan tidak mendengarkan bagian itu. Makanan juga telah habis disantap.
“Bapak, terima kasih atas makanannya.” Mantingan meletakkan sekeping emas di atas meja, ia rasa itu cukup untuk membayar makanan.
“Anak, ini terlalu banyak ....”
“Ya, sepertinya terlalu banyak untuk Bapak nikmati sendirian.” Mantingan memasang capingnya lalu pergi dengan senyum.
Tujuan Mantingan saat ini adalah menemui petinggi balatentara untuk membicarakan suatu hal yang ingin ia bahas.
***
“Saya yakin perwira mengizinkan saya berbicara dengannya, yang saya bawa ini cukup penting.”
“Sudah saya katakan, Saudara, jikalau Saudara tidak membuat perjanjian sebelumnya maka Saudara tidak diperkenankan masuk.”
Mantingan berdecak kesal. “Saya masih menghormatimu, prajurit yang gagah berani, mohon beri saya izin.”
Sungguh Mantingan bisa saja melewati si prajurit semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi Mantingan tidak suka jika dirinya harus bertentangan dengan aturan yang ada dan mencoreng harga diri prajurit penjaga itu.
“Saudara, sahaya juga masih menghormatimu sehingga pedangku masih belum menebas kepala dikau!”
“Saudara, aku datang damai-damai menawarkan pertolongan, mengapa engkau menganggapku selayaknya musuh?”
__ADS_1
“Bebal juga kau rupanya.” Prajurit itu menarik gagang kelewangnya. “Pergi atau nyawamu melayang di tanganku.”
Keributan itu berhasil memancing prajurit-prajurit lain untuk mendekat melihat situasi, mereka menyentuh gagang pedangnya untuk jaga-jaga jika seandainya Mantingan membuat onar lebih jauh lagi.
Mantingan menghela napas panjang melihat sekitarnya. “Baiklah, Saudara, maafkan aku jika melukai perasaanmu.”
Tubuh Mantingan dalam sekejap mata menghilang dari hadapan semua orang, prajurit-prajurit itu membeliakkan mata. Mereka jelas mengetahui, hanya pendekar yang mampu berbuat seperti itu ....
“Pendekar! Dia pendekar! Lindungi perwira di dalam! Masuk-masuk!”
Belasan prajurit itu menghunus pedangnya sebelum lari masuk ke dalam tenda perwira. Raut wajah mereka terlihat sangat ketakutan. Jika perwira tewas, maka harapan mereka untuk kota ini benar-benar lenyap.
Tetapi ketika mereka sampai di dalam dengan teriakan amarah, mereka melihat perwira masih utuh dan sehat-sehat saja, bahkan dirinya terlihat bercakap-cakap dengan pemuda yang tadinya masuk secara paksa.
Perwira memberi mereka tanda untuk tenang dan keluar, ia juga menambahkan bahwa dirinya akan baik-baik saja di sini. Karena perwira sudah berkata seperti itu dan Mantingan tidak terlihat ingin berbuat onar, mereka mundur teratur.
Percakapan antara Mantingan dan perwira berlanjut setelah semua prajurit keluar tenda.
“Mantingan namamu, bukan? Aku tidak pernah mendengar namamu sebelumnya, tapi silakan sampaikan saja yang ingin kaukatakan.”
Mantingan mengangguk pelan lalu berbicara. “Perwira yang terhormat, sahaya datang untuk menawarkan bantuan kepada perwira dan kepada kota. Mungkin bantuan yang sahaya tawarkan ini tidaklah terlalu besar, tetapi sahaya ingin Perwira mendengarnya sebentar ….”
Mantingan menyampaikan bantuan yang ia tawarkan. Ia menawarkan bantuan berupa tenaga untuk menyerang balik pendekar-pendekar aliran hitam yang menyerang kota nantinya. Mantingan juga menawarkan kemampuan sihirnya untuk membuat Lontar Sihir penjebak ataupun sirep penyamar.
Setelah Mantingan selesai berbicara, Perwira menganggukkan kepalanya beberapa kali dan mengelus kumis tipisnya. “Yang engkau bawa sangat baik jika itu terbukti benar, tetapi aku ingin bertanya padamu. Apa niatmu membantu kota ini? Kau pasti tahu, dengan dikau turun tangan dalam masalah ini, nyawamu akan terancam. Agak sulit dipercaya jika engkau membantu kami tanpa memiliki niat tertentu.”
Mantingan tersenyum canggung lalu berkata, “Perwira, sahaya melihat banyak anak-anak dan perempuan yang mesti diselamatkan. Perwira pasti juga tahu akan diapakan mereka jika jatuh di tangan pendekar aliran hitam.”
“Aku tahu itu, Anak Muda. Tetapi aku khawatir dikau sendiri merupakan pendekar aliran hitam itu. Bagaimana jika kawan-kawanmu yang mengirimmu ke sini untuk menyerang dari dalam?”
__ADS_1
“Sahaya memang pendekar dengan ilmu persilatan hitam, Perwira ….”