Sang Musafir

Sang Musafir
Bagai Kehilangan Seluruh Daya


__ADS_3

“Apa yang terjadi?”


CHITRA ANGGINI yang semulanya duduk bersantai sembari menikmati kudspan cuma-cuma itu mendadak dikejutkan dengan pemandangan Mantingan diseret tanpa daya oleh beberapa orang penjaga.


Barang selekas mungkin, gadis itu melesat, lantas mengirim beberapa totokan yang disalurkan melalui udara kepada penjaga-penjaga itu. Segera setelahnya, dipapaslah tubuh Mantingan yang terkulai bagai tidak memiliki jiwa.


“Kau diracun atau bagaimana?!” Chitra Anggini menjadi buncah bukan main. Tidak pernah dilihatnya Mantingan seperti ini.


Masih dengan memapah pemuda itu, Chitra Anggini mengacungkan pisau bertali miliknya ke hadapan, meski sungguh sebenarnyalah menggunakan senjata dalam pertarungan jarak dekat bukan keahliannya sama sekali, tetapi setidaknya pisau itu dapat tampak lebih mengancam ketimbang lembar-lembar daun.


Namun biar bagaimanapun, tindakan Chitra Anggini itu telah menarik perhatian orang-orang di sekitar. Lekas saja semuanya menjauh dalam barisan teratur dan tanpa kegaduhan, kecuali penjaga-penjaga yang justru melompat maju ke hadapan Chitra Anggini sambil membentak keras.


“Jangan!” Mantingan berseru sambil mengangkat kedua lengannya. Seolah telah mendapatkan seluruh kekuatannya kembali, Mantingan dapat lagi berdiri tegap dengan kedua kakinya sendiri. “Kami akan pergi dari sini.”


“Setelah dikau menyerang kawan kami? Jangan mimpi!” Salah seorang dari mereka berkata nyalang sambil menghunus kelewangnya.


Mantingan melirik tiga penjaga yang terdiam kaku akibat totokan Chitra Anggini yang teramat mujur, sebelum dikibaskannya sebelah telapak tangan untuk melepaskan seluruh totokan itu.


“Biarkan kami pergi, atau mungkin diriku tidak dapat menahannya lagi.” Mantingan melirik Chitra Anggini yang masih memasang kuda-kuda menyerang.


Para penjaga itu saling melirik. Mereka jelas mengetahui bahwa Mantingan memiliki kemampuan yang berada jauh di atas mereka. Melepas totokan tiga orang sekaligus dengan hanya mengibaskan telapak tangan bukanlah hal yang dapat diperbuat sembarang pendekar. Bahkan jika ingin, mungkin saja Mantingan dapat menghancurkan seluruh lelang ini dengan mutlak. Jika hal itu sampai terjadi, maka satu-satunya yang dapat disalahkan adalah jasad mereka sendiri!


“Pergilah, tetapi jangan pernah tunjukkan wajahmu di tempat ini lagi.” Salah seorang dari mereka berkata begitu sambil menurunkan kelewangnya, yang lain mengikuti.


Mantingan mengangguk pelan sambil memberi tanda kepada Chitra Anggini untuk pula menyimpan senjatanya dan pergi dari tempat itu sesegera mungkin. Baik Mantingan dan Chitra Anggini maupun para penjaga tempat pelelangan itu saling berjalan bertolak arah.


“Apa yang terjadi?! Kini aku benar-benar harus mendengar segalanya darimu, tidak boleh ada penundaan!” Chitra Anggini meledak-ledak, berbicara dengan suara kecil tetapi bernada teramat tinggi.

__ADS_1


“Tak dapat kujelaskan di sini.” Mantingan berkata singkat sembari mempercepat langkahnya. “Bila kau benar-benar ingin mendengarnya, keluarlah dari bangunan ini secepatnya.”


Chitra Anggini membuka mulutnya, hendak membantah, tetapi terlebih dahulu Mantingan memotongnya.


“Jangan membantah lagi. Kau masih belum mengetahui yang terjadi sebenarnya.”


Seketika itu pula Chitra Anggini membungkam mulutnya sendiri. Betapa dapat langsung diterka olehnya bahwa Mantingan sebenarnya teramat ingin berceritera kepadanya, tetapi tidak dapat dilakukan hal itu di tengah keramaian seperti ini, demi itulah Mantingan berjalan cepat-cepat. Maka Chitra Anggini tidak pula ingin memaksanya terlalu jauh.


Namun tak seberapa jauh mereka berjalan, tetiba saja muncul seseorang dari tikungan lorong yang dengan teramat tergesa-gesa menubruk Mantingan!


“Maaf, Tuan! Tidak sengaja!” Orang itu hanya berseru sedemikian sebelum melanjutkan larinya. Tampak buru-buru sekali.


“Mengapa tidak menghindar?”


Chitra Anggini tentulah heran kepada Mantingan yang tampak sama sekali tidak berusaha menghindari tabrakan itu, sedangkan dirinya adalah pendekar di atas segala pendekar yang kemampuannya sudah tak dapat terukur lagi, dan karena sebagai pendekar itulah seharusnya ia lebih berwaspada terhadap segala singgungan yang mungkin saja dapat berarti penyerangan. Maka bukan menjadi hal aneh lagi bila Chitra Anggini bertanya begitu.


Chitra Anggini membeliakkan mata, tak mengira bahwa Mantingan baru saja mendapatkan sebuah pesan rahasia!


***


DI sebuah kedai yang merangkap pula menjadi tempat penginapan, yang sebenarnyalah menjadi tempat berhubungan asmara bagi mereka yang tidak semestinyalah melakukan itu, Mantingan dan Chitra Anggini duduk berhadap-hadapan untuk berunding.


Matahari memang telah tergelincir sedikit ke barat, tetapi hari masih terlalu matang untuk dapat dikatakan sebagai petang. Perhelatan Cinta belum akan dimulai, setidaknya sampai tiga peminuman teh lagi. Mereka masih memiliki cukup banyak waktu di penginapan itu.


“Manakah dahulu yang ingin kaudengar?” Mantingan mengeluarkan selembar lontar yang diberikan secara terselubung oleh seseorang yang menubruknya di pelelangan tadi.


“Perundinganmu dengan Dara, dan segala apa yang membuatmu tampak tidak berdaya seperti barusan.” Chitra Anggini menjawab mantap, memang itulah pilihannya sedari tadi.

__ADS_1


Mantingan menarik napas dalam-dalam sebelum diceritakannya seluruh isi perundingannya dengan Dara tak seberapa lama lalu. Begitu jelas dan merinci, tetapi tidak sampai diceritakan pula mengenai perasaannya sendiri.


Mendengarkan ceritera Mantingan telah membuat Chitra Anggini terenyak. Memanglah pada awalnya gadis itu menampakkan ketidaksukaannya sebab Dara telah lebih dulu menyatakan cinta kepada kawan seperjalanannya, tetapi tak seberapa lama kemudian benaknya menjadi begitu teriris sebab menyadari bahwa Dara telah menenggelamkan semua mimpinya demi Mantingan.


Mantingan kembali mengusap wajahnya berkali-kali. Barulah kini terlihat matanya basah.


“Dia terlalu berlebihan, tetapi aku sama sekali tidak berdaya menahannya.”


Mantingan mulai merasakan sesal. Mengapakah ia menurut saja ketika Dara mendorongnya keluar? Bukankah dapat saja dirinya menotok aliran darah gadis itu lantas membawanya pergi dari Suvarnadvipa barang secepat mungkin menuju perlindungan Tarumanagara? Mengingat kedudukannya saat ini sebagai Pemangku Langit satu-satunya yang berasal dari negeri itu, maka seharusnya tidak akan sulit melakukan hal itu.


Namun, kini semuanya telah terlambat. Boleh saja Dara sedang berada dalam pengawasan ketat mata-mata kerajaan, sehingga memperkecil kemungkinan bahwa dirinya dapat diculik begitu saja.


“Ini terlalu cepat, aku sama sekali tidak berdaya menahannya.” Mantingan mendesah pelan.


Betapa kacau-balau pikirannya saat ini, menyadari bahwa kehidupan selir raja yang kesekian tidaklah terlalu mengenakan.


Dara sudah pasti akan dikurung dalam istana, pergi keluar hanya untuk kepentingan yang teramat mendesak, dan tak boleh bertingkah-laku yang di luar peraturan keadaban istana; bertolak belakang dengan sifat Dara yang menyenangi petualangan dan kebebasan menentukan pilihan atas hidupnya sendiri.


Terlebih lagi, selama berada di istana hingga akhir hayatnya itu, Dara akan terkukung akan cintanya kepada Mantingan. Perasa cintanya akan hancur, dan bukan tidak mungkin bila di kemudian hari nanti gadis itu akan mencoba berbuat tak senonoh, yang telah pasti akan dihadiahi hukum penggal kepala jika sampai tertahuan.


Meskipun sangkaan itu terkesan amat berat dan bagai tidak berdasar, tetapi kemungkinan seperti itu sangat besar terjadi di kemudian hari.


“Bila memang itu adalah keinginan Dara sebab dia hendak berkorban untuk membuktikan cintanya kepadamu, maka apakah lagi yang perlu kaurisaukan?”


___


Catatan:

__ADS_1


Maaf sudah tidak update beberapa hari terakhir. Ada banyak kepentingan mendesak yang harus saya utamakan.


__ADS_2